
Di dalam pesawat, Rehan masih diam. Terlihat ia tetap berusaha mengingat. Siapakah gerangan wanita yang ia lihat di jendela kamar Juan? Mungkinkah ia? Hufff, Rehan menghela napas dalam-dalam. Berusaha menepis segala prasangka buruk yang menyerang pikirannya.
"Re, kamu napa sih ngelamun terus, kangen anak atau kangen Renata?" tanya Zein melirik penuh selidik.
Rehan membalas lirikan Zein sekilas. Rehan diam, menatap kosong pada kursi yang ada di depan tempat duduknya.
Otak Rehan berputar. Mengingat kalimat yang Zein ucapkan. Ya, sang big bos mengucapkan sebuah nama. Nama yang mengingatkannya pada wanita itu. Renata, iya nama itu. Wanita yang ia lihat adalah sahabat Renata. Yang tak lain adalah Stella. Mantan istri bosnya.
Rehan kembali melirik Zein tegang. "Astaga," ucap Rehan lirih. Rehan tak tahu harus berbuat apa. Pria ini kembali terdiam bingung. Bingung dengan apa yang harus ia tanyakan pada Zein. Bingung dengan pemikirannya sendiri. Rehan gugup.
Bagaimana jika seandainya wanita yang ia lihat di rumah Juan adalah benar Stella. Lalu, Apa yang harus ia katakan pada Juan? Bagaimana ia harus menyampaikan kebenaran ini pada Zein. Mereka berdua adalah sahabatnya. Bagaimana Rehan harus menghadapi ini.
Dilema, itulah suasana hati yang saat ini dirasakan oleh bapak satu anak ini. Ia tak mungkin menghianati satu di antara mereka. Baginya mereka adalah adik-adiknya. Tak mungkin bagi seorang kakak yang tega mengadu domba mereka, adik-adiknya, hanya demi membela satu di antara mereka. Rehan mengedipkan mata sembari menahan napas. Rasanya sesak sekali, setelah mengingat detail kemiripan antara Stella dengan wanita yang ia lihat di rumah Juan.
"Semoga saja bukan," ucap Rehan lagi. Berusaha menepis kemungkinan yang akan ia hadapi. Ucapan itu memang lirih, namun Zein mendengar jelas ucapan Rehan.
"Ada apaan sih Re? Dari tadi ditanya nggak jawab. Malah ngomong sendiri terus," ucap Zein kesal.
__ADS_1
"Nggak ada pa-pa, Bos. Aku hanya lelah saja," jawab Rehan alasan. Namun dalam hati ia berencana untuk kembali ke rumah Juan, untuk memastikan kecurigaannya. Rehan tak mau mati penasaran karena ini. Mau bagaimanapun badai yang menghadang persahabatan mereka tak main-main. Ini perihal hati, perihal perasaan, perihal jiwa. Sedikit saya ia terpeleset makan semua akan hancur. Hancur sehancur-hancurnya.
Jujur, jika kenyataan yang menghadang mereka adalah benar maka Rehan sebagai seorang yang mengenal Zein dengan sangat baik, tentu saja tak rela jika sampai wanita sebaik Stella kembali pada pria tak memiliki hati ini. Rehan lebih setuju kalau Juan saja yang memiliki Stella. Menjaga Stella dan melindungi Stella.
Juan benar jika Stella memang berhak bahagia. Ia juga tak akan menyalahkan Juan, jika Juan nantinya akan marah pada Zein. Rehan akan tetap meminta Juan untuk tetap mempertahankan Stella meskipun pekerjaannya menjadi taruhan.
"Ah, aku mikirin apa sih, belum juga terbukti!" gumam Rehan. Berusaha menenangkan perasaan khawatirnya sendiri.
Rasa khawatir itu telah mengepungnya. Meskipun ia tetap berusaha menepisnya tetap saja rasa itu hadir menyarangnya dan semua rasa yang nerengkugnya menjelma menjadi rasa kasihan untuk Stella.
Tunggu, cerai? Bukankah Juan tadi bilang istrinya adalah janda? Mungkinkah? Kembali barisan pertanyaan menghantui Rehan. Rasanya semua dugaan menakutkan berperang dalam otaknya. Rehan tak sanggup lagi menahan ini sendiri.
Setelah hampir dua jam mereka berada di dalam pesawat. Akhirnya burung besi itu pun landing juga. Tak menunggu waktu lagi, pria ini pun segera meminta seseorang untuk menyelidiki kecurigaannya. Barulah nanti setelah libur dia berencana akan kembali ke Batam dan memastikannya sendiri kecurigaan yang berhasil mengkoyak hatinya.
Sepertinya hanya itulah, cara terbaik saat ini. Diam dan tetap mencari tahu. Baru ia pikirkan langkah berikutnya.
***
__ADS_1
Singapura....
Jovan sepertinya melupakan sesuatu. Jikalau dia memiliki banyak musuh, otaknya hanya terfokus pada satu nama yaitu Anti. Ia hanya yakin, bahwa orang yang melakukan siasat untuk menjerumuskan dirinya ke penjara hanyalah Anti. Anti adalah kandidat terkuat yang mempunyai alasan melakukan ini semua padanya. Jovan lupa jika ada seseorang yang lebih bahaya dari Anti yaitu Sera. Mantan wanita yang pernah ia hancurkan hidupnya. Yang pernah ia cabik-cabik harga dirinya.
Kini, Jovan yang meringkuk dalam sel tahanan hanya bisa pasrah. Sebab, tak ada satu orang pun teman yang mau peduli padanya. Bahkan keluarganya. Hartanya telah habis ia gunakan untuk berfoya-foya dan main perempuan. Tak ada satupun pengacara yang mau membelanya secara cuma-cuma.
Jovan telah hancur dalam karir dan keuangan dalam satu kedipan mata. Percuma ia berusaha menyusun strategi. Tak ada satupun orang yang mau membantunya menjalankan rencana itu. Jovan telah menanam maka sekarang waktunya ia merasakan hasil dari tanamannya itu.
Jovan, Jovan, pria serakah dengan segala sikap brutalnya. Kini hanya bisa memakan makanan jatah dari penjara. Sering mendapatkan bullyan dari para napi yang lain. Sering mendapat pukulan bahkan ketidakadilan. Seperti yang ia lakukan pada orang-orang terdekatnya selama ini dan itulah yang ia rasakan sekarang.
Andai dia tak menyimpan dendam, mungkin ia akan menyadari bahwa apa yang ia bayar sekarang adalah banyaknya dia melakukan kejahatan. Banyaknya dia melakukan kezoliman terlebih pada Stella dan ibu kandungnya.
Bersambung....
Thanks ya udah mengikuti kisah kak Stella, semoga selalu suka. Like komen dan dukungan kalian sangat berarti buatku๐๐๐โบ
Kita lihat sebaik apa hati Rehan. Mungkinkah ia memilih kehilangan pekerjaan demi mendukung Cinta Juan dan Stella atau dia akan memilih mempertahankannya pekerjaan tetapi harus membela Zein. Kira-kira Rehan pilih yang mana ya...
__ADS_1