
Suasana di rumah keluarga Zein terlihat damai. Seperti biasa Laila selalu menyempatkan diri untuk membuatkan sarapan seluruh anggota keluarganya. Namun, susana pagi ini sedikit berbeda. Karena si tukang bikin keributan belum menampakkan wajahnya.
"Abang, Fira sama Lutfi belum keluar kamar. Tumben! mereka baik-baik saja kan?" tanya Laila penasaran.
"Apaan sih Mama ini, kepo sekali. Biarkanlah, mereka kan pengantin baru. Ya wajar kalo mereka bangun siang," saut Laskar sembari membalas satu persatu email yang masuk di ponselnya.
"Bukan begitu, Pa. Mama merasa aneh saja. Nggak biasa-biasanya Fira bangun siang. Papa kan tahu anak itu selalu bangun pagi, lalu olah raga!" jawab Laila sesuai dengan kebiasaan Safira selama ini.
"Khusus hari ini ya lain lah, Ma. Mama ini gimana? Kayak nggak pernah muda aja." Laskar terkekeh. Sedangkan Zein yang ada di sampingnya hanya tersenyum.
"Papa yakin, mereka bakalan begituan?" tanya Laila lugu. Spontan Zein tertawa. Sedangkan kedua orang tuanya menatap heran.
"Loh yo nggak tahu, kan semalam Papa bobonya sama Mama, bukan sama mereka. Gimana sih?" canda Laskar sembari mencolek dagu sang istri.
Laila tak mau membalas candaan sang suami, ia malah ingat tentang Berliana. Dengan hati-hati, wanita paruh baya ini pun beranjak dari duduknya dan berpindah duduk di sebelah Zein. Bermaksud ingin mengetahui kebenaran kabar yang ia dan suami dengar beberapa hari yang lalu.
"Emmm, Zein. Bolehkah Mama tanya sesuatu?" tanya Laila lemah lembut.
"Tanya aja, Ma. Emang Mama mau tanya apaan?" tanya Zein santai.
"Zein pernah menikah ya?" Laila menatap penuh keibuan pada Zein. Agar Zein tidak marah.
Namun, tatapan wanita itu seolah tak mempan untuk Zein. Hatinya sedikit tergores. Bukan tak ingin ditanya. Hanya saja Zein belum siap menceritakan detail masa lalunya kepada kedua orang tua ini.
"Zein kalo belum siap cerita nggak pa-pa. Mama cuma nanya aja kok. Mama bakaln nunggu sampai Zein benar-benar siap terbuka pada kami," ucap Laila sembari mengelus lengan sang putra.
Zein meneguk salivanya kasar. Entah mengapa tiba-tiba saja ia tak ingin berbicara. Pada dasarnya dia emang pria pendiam, datar dan sedikit tertutup. Tak ingin terpancing oleh mereka, Zein pun memutuskan untuk menghindar.
"Sorry, Ma, Pa. Sepertinya Zein mesti kelarin kerjaan yang kemarin. Sore nanti Zein kan mesti balik ke Ujung Pandang," ucap Zein berpamitan.
Tak ayal, melihat tingkah laku Zein, Laila dan Laskar pun sedikit kurang nyaman. Sebab, mau bagaimanapun pada kenyataannya mereka belum paham siapa putra mereka sebenarnya. Serta rahasia apa yang iki sedang mengikat erat putra mereka itu.
"Sepertinya dia sedang ada masalah ya, Ma," ucap Laskar.
"Bukan sepertinya lagi, Pa. Sepertinya dia punya masa lalu yang berat. Kasihan dia Pa, hanya terlihat bahagia di luar. Tapi di dalam, Mama yakin dia menderita," ucap Laila sedih.
"Mama jadi nggak tega, Ma. Mungkin dia sedih nggak bisa merawat putrinya sendiri. Nggak bisa memeluknya. Mungkin itu juga jadi kendala, Ma. Kenapa dia nggak bisa cerita. Papa kan pernah di posisi dia dulu. Jadi Papa tahu rasanya," jawab Laskar sesuai dengan apa yang ia rasakan ketika Widya dan Agus tak mengizinkannya bertemu dengan Zein. Lalu menyembunyikan bocah itu, entah di mana.
__ADS_1
"Sabar, Pa. Percayalah! Semua pasti ada waktunya. Kita nggak tahu, masalah apa dan kronologinya seperti apa. Jadi kita jangan asal memutuskan." Laila kembali mengelus lengan sang suami yang terlihat sedih itu. Menyesal, kenapa putranya harus merasakan hal yang sama seperti yang pernah ia alami.
Berpisah dengan buah hati. Tak diizinkan bertemu. Tak diizinkan memeluk.
"Apa kita tanya masalah ini dengan Juan saja, Pa!" ucap Laila mengusulkan.
"Boleh, Ma. Siang ini gimana? Mumpung kerjaan Papa ada yang ngerjain. Oia jangan lupa buah tangannya, Ma," sambut Laskar.
"Kalo nggak tunggu Zein balik aja, Pa. Takut dia tersinggung nanti!" Laila kembali mengusulkan.
"Boleh deh, gitu juga boleh." Laskar diam sejenak. Lalu ia teringat anak gadisnya yang telah menikah. "Ini si Fira beneran nggak bangun?" tanya Laskar.
"Udah, Pa. Biarin aja tu anak. Nanti juga bangun sendiri," jawab Laila menyerah.
***
Di sudut ruang yang lain, Safira tersenyum malu. Sebab Lutfi begitu telaten melayaninya.
Membuatkannya sarapan, mencarikan nya obat dan juga membelikannya baju.
Kali ini, baju yang dibelikan oleh Lutfi, sama seperti baju yang Lutfi berikan waktu pertama kali mereka bertemu.
"Di toko, adanya cuma model begitu. Lagian kamu kan perempuan, harus pandai menutup aurat," jawab Lutfi santai.
"Masak sih? Emang kamu belinya di mana?" tanya Safira.
"Ditoko temen!" jawab pria ini singkat.
"Ohhhh, tapi kamu marah nggak kalo aku nggak mau pakai?" tanya Safira, kali ini tak pakai nada tinggi. Entah mengapa kali ini Safira tak ingin membuat sang suami tersinggung.
"Nggak mau pakai ya ngga pa-pa sih. Aku juga lebih suka kok kalo kamu pakek pakaian seksi. Kalo aku pengen tinggal sobek aja, nggak usah ribet-ribet nglepasnya!" jawab Lutfi, santai namun mengancam.
"Apa maksudmu berkata seperti itu? Dasar gila!" Kali ini Safira kesal. Bagaimana tidak? Dia sudah berusaha bertanya baik-baik, malah jawabanya seakan mengancam kehormatannya.
"Nggak ada maksud, aku cuma menyampaikan apa ada di otak kami, para pria. Kami kalo lihat begituan itu terangsang, Fira. Pengen ih, gitu rasanya," ucap Lutfi sembari menatap buah dada Safira yang terlihat sedikit itu.
Spontan Safira pun menutup dadanya dengan selendang milik Ara.
__ADS_1
"Dasar mesum!" teriak Safira marah.
"Siapa yang ngajarin aku mesum?" kali ini Lutfi mendukung tanpa ampun Safira.
"Awas, jauh!" pinta Safira takut.
"Kenapa kamu gemetar? Apa, kamu takut?" tanya Lutfi dengan tatapan mesum tentunya.
"Kamu gila, Lutfi!" bentak Safira lagi.
"Aku akan semakin gila, apa lagi setiap hari kamu suguhi aku paha mulus begini!" Lutfi semakin senang memberi pelajaran sang istri agar menurut dan mau menutup auratnya.
Meski tidak menyentuh, tatapan mata Lutfi nyatanya sanggup membuat Safira risih.
"Jangan macam-macam kamu Lutfi, aku akan berteriak kalau kamu berani macam-macam!" ancam Safira.
"Teriak saja! Kamu lupa, semalam kita sudah menikah. Jangankan cuma melihat, menikmati juga nggak ada yang bakalan ada yang berani melarangku," jawab Lutfi senang. Sebab, ekpresi ketakutan Safira membuatnya semakin asik mempermainkan emosi sang istri.
"Lutfi, jauh!" pinta Safira, kali ini hatinya sangat-sangat kesal.
Lutfi tak menyerah, ia pun semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah wanita bandel ini, jarak bibir mereka bisa dikatakan hanya tinggal dua atau tiga senti saja. Aroma harum napas masing-masing juga bisa mereka cium.
Dihadapkan dengan situasi yang mungkin akan merugikannya, Safira pun memejamkan mata karena takut.
"Aku akan kasih kamu dua pilihan. Kamu pakai baju itu tanpa protes. Atau aku melakukannya sekarang juga?" tanya Lutfi memojokkan.
"Dasar pria pemaksa!" umpat Safira kesal.
"Aku tidak peduli dengan apapun yang kamu pikirkan terhadapku. Aku hanya mau kamu menutup tubuhmu, itu saja," jawab Lutfi santai.
Lalu, tak ingin berlama-lama berdekatan dengan wanita pemarah ini, Lutfi pun beranjak dari ranjang. Namun, sebelum pergi ia masih menyempatkan diri mengancam sang istri.
"Aku kasih kamu waktu sepuluh menit untuk memakai pakaian itu, jika tidak berarti kamu izinkan aku mengambil hakku," ucap Lutfi. Tidak terdengar keras namun menakutkan. Karena ucapan itu, menurut Safira mengandung ancaman.
Safira memang diam, tapi dalam hatinya, ia mengutuk pria ini. Sebab apa yang Lutfi perintahkan, itu bukan kehendak hatinya.
Bersambung....
__ADS_1
Maaf jika suka typo🥰🥰🥰