
Hati siapa yang tak remuk jika masuk ke dalam situasi seperti Zi. Harus pura-pura tegar. Padahal hatinya telah hancur. Harus tetap tersenyum walau nasibnya di ujung tanduk.
Zi merebahkan tubuhnya di ranjang di mana ia harus tetap melawan kesedihannya. Meringkuk sendirian mencoba tetap menahan air mata. Jangan sampai, Zein masuk dan melihat air matanya.
Zi tidak ingin terlihat bodoh dengan menangisi pria yang memang tidak pernah mencintainya. Zi tidak ingin rasa yang kini menyerangnya menjadikan Zein besar kepala. Bahwa pada kenyataannya dia tergila-gila dengan pria itu.
Tidak! Zi tidak mau terlihat seperti itu.
Biarkan dirinya saja dan Tuhan yang tahu, betapa dia memang mencintai pria itu. Zi tidak menampik rasa itu. Tetapi, keputusan untuk menyembunyikan rasa cinta yang ia rasakan saat ini, Zi rasa itu adalah keputusan terbaik.
Zi mencoba memejamkan mata. Berharap, esok segera tiba dan secepatnya ia bisa pergi dari rumah ini. Meninggalkan segala lara di sini dan memulai hidup baru.
Sayangnya, mata indah itu sama sekali enggan menurut padanya. Nyatanya mata itu masih saja terjaga, gelisah. Nyatanya mata itu tak bisa begitu saja melupakan senyuman pria itu. Senyuman pria tampan itu terus menganggunya. Dan ini sangat menyebalkan baginya.
Bukan hanya bayangan senyuman itu,
Candaan-candaan yang tercipta di masa lalu, malah kian mempermainkannya.
Candaan itu kian jelas, mana kala mata cantiknya mengeluarkan air matanya.
Zi tak sanggup terus menyembunyikan rasa sakitnya ternyata. Air mata itu begitu nakal. Mendesak tanpa mau mengerti bahwa ia tak ingin menangis
Kenangan yang menghadirkan bayangan itu terdapat sangat mengganggunya. Dan pada kenyataannya kenangan tersebut kini telah menjelma menjadi kenangan indah yang tak mampu Zi tolak.
Zi membenci hatinya. Zi membenci pikirannya. Kenapa harus tetap mencinta pria yang tak menginginkannya? Kenapa hatinya terus menanyakan pria itu? Pria yang tak punya hati dan tega mempermainkannya.
***
Di sisi lain, Zein sendiri juga tak bisa tidur. Terlebih ketika ia teringat setiap kata yang diucapkan oleh wanita yang ia nikahi beberapa bulan yang lalu itu.
Bahwa ia menikahi wanita itu bukan karena cinta, tetapi hanya untuk menyelamatkannya dari rentenir gila itu.
Konsepnya tidak seperti itu. Zein menyukai Zi. Ia tertarik pada wanita itu. Zein merasakan kenyamanan saat bersama wanita itu. Sekali lagi, hanya Zi lah yang mampu memberinya kenyamanan. Bukan wanita yang katanya ia cintai sepenuh hati itu.
__ADS_1
Zein berkali-kali mencoba memejamkan mata. Namun, nyatanya ia tak bisa. Zein gelisah. Zein galau. Zein bimbang.
***
Keesokan harinya...
Zi mulai merapikan baju-bajunya dan menatanya, memasukkannya ke dalam koper. Bersiap untuk meninggalkan tempat ini.
Beberapa kali ia tersenyum getir. Sebab rumah tangga yang ia idam-idamkan, yang ia bangga-banggakan ternyata harus berakhir oleh orang ketiga.
Zi kembali menatap sekeliling, netranya begitu lincah mengabsen setiap sudut ruangan ini. Ruangan yang pernah memberinya kebahagiaan. Ruangan yang pernah memberinya pengalaman baru. Sebagai seorang wanita. Wanita bersuami.
Namun, di ruangan ini jualah ia menelan pil pahit. Harus menerima kesalahan. Sebab pria yang ia gadang-gadang akan membawanya ke Surga, ternyata hanya hayalan belaka. Semua berakhir seiring terbukanya sebuah kenyataan yang menyakitkan.
Jam dinding menunjukkan pukul tujuh, pertanda ia harus segera out dari kamar sekaligus rumah ini.
Namun, ketika ia hendak membalikkan tubuh, Zein ternyata ada di belakangnya. Memerhatikan setiap gerak tubuhnya. Memerhatikan setiap jengkal tubuhnya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Zein, seolah lupa bahwa semalam mereka telah mengambil kesepakatan untuk berpisah.
"Rumah ini adalah hadiah pernikahan kita, Zi. Rumah ini adalah milikmu. Pun dengan mobil itu. Aku membelikan itu untukmu. Jadi kamu jangan ke mana-mana," ucap Zein, seperti berat kehilangan wanita yang pernah memberinya bahagia itu.
Zi diam sesaat, meletakkan kembali kopernya. Lalu ia pun menjawab, "Zein ... bukan aku menolak kebaikkanmu, tapi... kita menikah tidak lebih dari enam bulan. Masak kamu udah kasih aku rumah, mobil, terus apa kata orang kalo seandainya tahu. Ini terlalu banyak untukku Zein. Tidak aku tidak mau. Aku tidak bisa menerimanya," jawab Zi, enggan. Karena ia memang tidak mau. Tidak mau terlibat lagi dengan Zein.
"Kenapa? Apakah kamu marah padaku?" tanya Zein lagi, ditatapnya Zi. Sampai wanita itu salah tingkah di buatnya.
"Bukan... bukan... aku tidak marah padamu, Zein. Untuk apa aku marah. Kita sudah sama-sama dewasa. Untuk masalah seperti ini, bukankah sudah biasa dalam hubungan dua insan dewasa. Tidak, kamu jangan berpikir sejauh itu, Zein," jawab Zi, sesuai dengan apa yang ada dipikirannya saat ini.
"Aku tahu itu hanya alasanmu saja untuk menghindar dariku kan?" tuduh Zein, kesal.
"Menghindar? Untuk apa aku menghindarimu? Tidak Zein, ayolah ..." Zi melipat kedua tangannya seperti menunggu keikhlasan Zein membiarkannya pergi.
Zein ingin tetap melarang Zi pergi, namun ponselnya berdering. Dan yang menghubunginya adalah wanita yang saat ini kencani.
__ADS_1
Zein tak mungkin menolak panggilan telepon tersebut. Lalu, ia pun segera meninggalkan Zi seorang diri. Tentu saja untuk membalas panggilan telepon tersebut
Kini tinggallah Zi seorang diri. Tersenyum getir sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kembali ia merasa bodoh. Sebab pada kenyataannya ia kembali kalah oleh seseorang yang baru.
Zi telah memantapkan hatinya untuk meninggalkan rumah ini. Meninggalkan segala lara untuk menuju hari yang mungkin lebih baik dari ini.
***
Selepas percakapannya dengan sang kekasih. Zein pun langsung teringat pada sang istri.
" Wanita itu... Astaga!" pekik Zein seraya berlari ke kamar di mana ia telah meninggalkan Zi.
Namun, Zein terlambat. Zi telah pergi. Pergi meninggalkan rumah ini untuk selama-lamanya. Dan mungkin, wanita itu tidak akan pernah kembali.
Zein mencoba menghubungi Zi. Namun sayang Zi enggan mengangkat panggilan telpon darinya.
Tak ingin terbawa emosi yang akhirnya akan membuatnya bimbang, Zein pun mengirim pesan pada Zi, bahwa ia ingin tetap berteman dengannya. Zein tidak ingin memutuskan hubungan dengan wanita itu.
Sayangnya, Lagi-lagi Zi tidak mau membaca pesan darinya. Zi benar-benar menghindar darinya. Zi benar-benar tidak ingin lagi terlibat dengannya.
Zein masuk ke dalam ruang ganti di mana biasanya dia dan Zi menyimpan baju-baju mereka. Zein membuka lemari bekas pakai Zi.
Tidak ada satupun pakaian wanita itu yang tertinggal di sana. Bahkan satu potong pun.
Zein membuka lemari baju miliknya. Terlihat sangat rapi. Karena Zi selalu menatanya rapi. Sesuai warna. Seperti seleranya.
Zein tersenyum getir ketika melihat kunci rumah dan juga kunci mobil yang biasa Zi bawa ke mana-mana.
Wanita itu meninggalkannya tepat di atas nakas di mana dia biasa menaruh jam tangan mewahnya.
Bukan hanya kunci rumah dan kunci mobil, Zein juga menemukan sebuah cincin. Yang ia ketahui itu adalah cincin pernikahan mereka.
Zi, meninggalkan barang-barang yang ia rasa memang bukan lagi miliknya. Pada kenyatannya, Zi memang bukan wanita serakah seperti wanita pada umumnya.
__ADS_1
Wanita ini begitu memiliki harga diri dan komitmen yang tinggi. Ia selalu menepati apa yang telah keluar dari mulutnya. Membuat Zein malu. Karena sebagai laki-laki ia tidak bisa memegang teguh janjinya. Untuk menjaga dan melindungi Zi sampai maut memisahkan. Ia malah memilih cinta masa lalunya. Yang belum tentu bisa memberinya bahagia.
Bersambung...