PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Gejolak Hati


__ADS_3

Kebahagiaan bukan hanya milik Safira yang berhasil bertemu dengan baby Naya. Kebahagiaan itu kini juga milik Vita. Namun, dalamnya hati siapa yang tahu. Nyatanya saat ini ia tersenyum bahagia, ketika Luis sendiri yang mengantarkannya pulang dengan mobil mewah, entah mobil siapa itu.


"Kirain Bapak udah lupa cara nyetir!" ledek Vita sambil mengelus pipi sang calon suami.


"Ya nggak lah, mana bisa begitu. Kamu ini, seneng bener ngledek. Sekarang lagi sendiri ni, asisten pada ninggalin," jawab Luis. Santai tapi terdengar memelas.


"Yang sabar, Pak. Mungkin belum jodoh. Gimana kalo saya aja yang jadi asisten, Bapak. Boleh?" canda Vita lagi.


"Nggak! Kamu calon ratuku. Nggak boleh capek-capek!" jawab Luis serius.


"Uhhh, lomatisnya. Kan lumayan gajinya, Pak. Dua kali lipat. Kan, biar saya cepat kaya, Pak. Bosen nih, hidup numpang terus," canda Vita lagi.


"Kan apapun yang kamu mau udah aku siapin, Han. Ya udah manfaatin yang ada aja!" jawab Luis santai.


"Tapi kita kan belum resmi, Honey. Nanti kalo aku udah jadi istri kamu, aku pasti pakai," jawab Vita lalu, ia pun mencium tangan Luis yang sedari tadi mengenggam tangannya.


"Ya, serah kamu aja, Han. Senyamannya kamu aja!"


"Aku nyamannya kek gini, gimana dong!" Vita kembali melancarkan candaannya.


Luis tak mau meladeni candaan sang kekasih kali ini. Dia tahu, Vita hanya menggodanya. Luis takut semakin ia meladeni calon istrinya ini, semakin ia tak bisa melawan hasrat untuk mencium gadis itu. Baginya, Vita kelewat menggemaskan.


"Jadi sekarang Bapak kerja sendirian dong?" tanya Vita, kali ini dia serius.


"Ya, pihak HRD lagi nyariin. Tapi entahlah, malas aku kalo asistennya cewek. Larinya kurang cepet. Nggak bisa ngimbangi langkah kakiku," jawab Luis, tersengar lugu, meskipun jawaban itu terkesan kaku.

__ADS_1


"Mana ada begitu, jadi maunya Bapak gimana? Punya asisten yang langkahnya sama kek Bapak. Kakinya panjang-panjang macam ni juga." Vita tersenyum, sembari mengelus paha Luis. Luis mengangguk, pertanda ia setuju dengan ucapan sang kekasih.


"Baiklah! Cari yang laki aja kalo gitu. Aneh, cari asisten itu harusnya yang cerdas. Tanggap. Bisa mengerti apa yang diinginkan atasan. La ini kok malah aneh, cari yang bisa mengimbangi langkah kaki. Astaga, Pak-pak, aneh sekali anda ini." Vita terkekeh. Sedangkan Luis hanya merlirik sambil tersenyum. Sebab Vita terlalu lugu menanggapi penyataannya.


"Besok pagi aku jemput ya, jangan lupa dandan yang cantik," canda Luis lagi.


"Heemm, pasti otak mesumnya kambuh!" balas Vita.


"Enggak, Han. Mana ada begitu. Tapi kalo dikasih ya nggak nolak sih!" Luis terkekeh. Vita pun ikutan tertawa.


"Dasar!" Vita memukul manja lengan Luis. Tawa pun kembali menggema mengiasi mobil yang mereka tumpangi.


"Han, sebelumnya aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Oma kasih syarat untuk pernikahan kita. Aku mau ngomong ini ke kamu dari kemarin-kemarin lupa terus," ucap Luis. Suasana yang awalnya ceria, kini berubah sedikit melo.


"Apa syaratnya, Han?" tanya Vita tegang.


"Jangan tegang gitu dong, Han! Syaratnya menurutku nggak sulit sih. Oma cuma mau kita nggak menunda punya momongan. Katanya, beliau sudah tua. Udah pengen menimang cucu," jawab Luis sembari mencolek hidung mancung sang kekasih.


Huhhhh... Vita bernapas lega. Kirain apa? Gadis cantik berambut panjang ini pun hanya tersenyum dan menyanggupi syarat tersebut. Karena dia sendiri tahu, bahwa salah satu tujuan menikah adalah memiliki keturunan. Sesuai apa yang diajarkan oleh kepercayaannya.


"Makasih, Han. Semoga rumah tangga kita selalu dipenuhi kebahagiaan. Kita selalu seperti ini. Saling bisa menerima satu sama lain. Saling mengisi dan menjaga ya, Han!" balas Luis ketika sang calon istri menyetujui syarat yang diajukan oleh pihak keluarganya.


"Aamiin! Semoga apa yang kita inginkan segera terwujud," jawab Vita sembari tersenyum.


Namun, entah mengapa, memikirkan syarat itu, hati Vita jadi tak nyaman. Vita tahu, bahwa rezeki, jodoh dan maut itu bukanlah kehendak kita. Jujur, di sudut hati Vita yang terdalam, ada ketakutan tersendiri perihal momongan ini. Sebab rezeki satu ini tidak bisa ditolak maupun diminta. Bagaimana jika di dalam pernikahan tersebut mereka tidak dikaruniai anak. Akankah Luis akan menceraikannya?

__ADS_1


Ahhh, kenapa aku jadi memikirkan sesuatu yang belum terjadi? batin Vita.


***


Kebahagiaan yang menghampiri anak-anak muda itu, Ternyata juga di dapatkan oleh sepasang suami istri yang saat ini terlihat sangat antusias dengan kabar yang mereka dapatkan.


Pengacara yang menangani kasus Widya memberi tahu pada mereka bahwa ternyata, Zein pernah menikah dengan Stella. Yang saat ini menjadi istri Juan. Pengacara bermulut ember itu juga menyatakan kecurigaannya terhadap anak pertama pasangan Stella dan Juan.


Dia bilang, dia curiga, kalau anak tersebut adalah anak Zein dan Stella. Bukan dari hubungan antara Juan dan Stella. Meskipun dia terlahir dari pernikahan antara Juan dan Stella.


"Jika benar itu adalah anak Zein, berarti bocah itu cucu kita, Ma. Kita udah punya cucu, Ma!" ucap Laskar senang. Bukan hanya Laskar yang senang. Tetapi juga Laila. Wanita yang sejatinya menyukai anak-anak ini tampak antusias dengan ini. Mereka berdua telihat sangat bahagia.


"Tapi, Pa. Kenapa Zein menyembunyikan fakta ini dari kita? Apa maksudnya?" tanya Laila penasaran.


"Kalo soal itu papa mana tahu, Ma. Coba deh besok kita tanyakan ke Zein. Tapi jika seandainya kabar ini adalah kenyataan. Papa sangat senang, Ma! Papa sudah punya cucu, Ma. Ya Tuhan! Mimpi apa Papa, Ma. Rezeki datang pada kita bertubi-tubi. Papa bisa kumpul dengan Zein. Fira pulang membawa cinta dan maaf untuk kita. Lalu sekarang, ada seorang bayi lagi yang ternyata juga anggota keluarga kita. Tuhan sungguh baik dengan kita, Ma. Ya Tuann, Terima kasih untuk semua kebahagiaan ini, " jawab Laskar bersemangat.


"Iya, Pa. Papa benar. Rezeki kita luar biasa. Bertahun-tahun kita hidup di dalam rasa sepi. Dan kini, setelah kita memiliki segalanya, mereka datang melengkapi. Mama juga bahagia, Pa. Kita punya cucu, kita punya cucu, Pa!" balas Laila ikutan antusias.


Kebahagiaan yang dirasakan Laila dan Laskar, nyatanya sanggup membuat mereka begadang dan terus membicarakan kabar yang mereka dapatkan.


Mereka terlihat tak sabar menanti datangnya pagi. Tentu saja, karena mereka ingin segera bertemu dengan Zein, untuk mengkonfirmasi perihal kebenaran kabar yang mereka terima.


"Tak sabarnya pengen cepet ketemu, Zein," gumam Laila senang. Sedangkan Laskar hanya menatap langit-langit yang ada di kamar tersebut. Mencoba menyusun kata terbaik, agar Zein tidak tersinggung dengan pertanyaan yang akan ia ajukan besok.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2