
Plaakkkkk.....
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus seorang wanita yang dinilai gagal menjaga adik perempuannya. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Lydia Dewi.
Zein dan Lutfi yang saat ini menyaksikan adegan yang tak pantas ditiru itu pun, hanya bisa menelan kasar ludah mereka. Zein dan Lutfi hanya bisa diam mematung tanpa berani ikut campur.
"Sudah aku bilang, jangan biarkan dia melarikan diri. Ini akibatnya jika kamu lalai menjaganya. Kamu itu mandul, hanya dia satu-satunya harapan keluarga kita untuk mendapatkan keturunan. Dasar gadis mandul nggak becus!" ucap pria tua itu dengan penuh amarah. Sedangkan Lydia hanya bisa menunduk lesu. Gadis itu hanya bisa diam membisu. Tanpa berani menjawab sepatah katapun, apa lagi melawan. Lydia bergeming tanpa berani meneteskan air matanya.
"Ingat baik-baik Lydia. Jika sampai dia tidak selamat, maka aku tidak akan pernah mengampunimu!" ancam pria tua itu lagi.
Suasana hening sejenak. Dia diam. Pria itu terlihat mengambil napas berat. Lalu sedetik kemudian tangannya kembali melayang di pipi gadis itu. Bukan hanya tamparan yang melayang. Pria itu juga mendorong dan menendang keras tubuh Lydia. Mencekik gadis itu hingga Lydia hampir kehilangan napas.
Lydia sama sekali tidak membalas. Hanya air mata dan tatapan memelas yang ia tunjukkan.
"Mati saja kau! Mati saja kau! Seharusnya kau saja yang ditabrak. Seharusnya kau yang mati! Dasar gadis bodoh! Murahan, biadap! Enyah kau dari hadapanku!" umpat pria itu lagi. Menyerang Lydia hingga membabi buta.
Zein dan Lutfi tak bisa tinggal diam kali ini. Mereka pun segera turun tangan, berusaha menyelamatkan Lydia dari amukkan pria tua itu. Menarik tangan pria itu. Memintanya untuk melepaskan cengkraman tangan yang masih kekar nan kuat itu.
"Sabar Om sabar. Sabar Om! Lepaskan dia, dia bisa mati Om!" pinta Zein dengan suara keras.
Namun, pria itu terlanjur marah. Ia terus menekan tangannya hingga Lydia kehabisan napas. "Om, dia bisa mati Om. Lepas Om!" Zein langsung menarik tangan pria itu Sedangkan Lutfi memeluk Lydia berusaha menarik tubuh gadis yang sudah lemas karena kehabisan napas itu.
Beruntung tenaga yang Zein dan Lutfi miliki lebih besar dari tenaga kakek-kakek pemarah itu. Dengan sekuat tenanga, Zein pun akhirnya berhasil menarik tubuh pria itu. Hingga mereka berdua jatuh terpelanting. Sampai Zein tertindih pria tua itu.
"Bawa dia pergi dari sini, Fi!" teriak Zein sembari memegang tubuh pria pemarah itu. Lutfi pun tak banyak berpikir. Ia pun segera membopong Lydia dan membawa gadis malang itu pergi dari tempat ini.
Sedangkan Zein masih berusaha menenangkan pria galak itu. "Sabar Om, sabar! Semua bisa kita bicarakan!" ucap Zein.
"Sabar, sabar... kau tak tau apa-apa. Sebaiknya kau bawa balik itu perempuan. Kalo tidak, kau dan juga dia akan aku lenyapkan!" ancam pria itu lagi.
__ADS_1
Zein tahu, jika pria ini tak main-main dengan ancamannya. Tetapi, ia juga tak bisa membiarkan seorang wanita lemah tertindas. Cukup baginya Stella saja yang pernah merasakan penderitaan karena ulahnya. Zein berharap, tak ada lagi Stella Stella lain yang memiliki nasib yang sama. Tertindas karena keegoisan seorang pria.
"Jangan sampai Om menyesal Om. Kasihan dia Om. Dia itu perempuan. Yang seharusnya kita lindungi," jawab Zein masih berusaha bernegosiasi dengan pria itu.
Bukannya sadar, pria tua itu malah tertawa dan mendorong kasar tubuh Zein. Sampai Zein jatuh tersungkur.
"Dengarkan aku baik-baik. Tidak ada gunanya kamu membela anak pelacur itu. Putraku yang bodoh itu, tidak bisa dibilangin. Dia nekat membawa anak sialan dan istri keparatnya itu masuk ke dalam keluargaku. Biarkan saja dia mati!" ucap pria itu lagi. Napasnya terlihat ngos-ngosan seperti habis lari maraton saja.
Zein tak ingin lebih jauh terlibat apa lagi menjadi pendengar ocehan pria gila ini. Bisa konslet otaknya nanti. "Terserah Om saja, maaf saya harus pergi!" ucap Zein seraya berlari meninggalkan tempat ini. Namun, ia masih mendengar pria itu meneriakinya. "Bawa pergi gadis keparat itu, jangan sampai dia kembali kehadapanku!" teriaknya.
Sayangnya Zein enggan mengindahkan teriakan itu. Ia pun tetap berlari meninggalkan tempat menyeramkan ini.
***
Di lain pihak, Stella masih memikirkan apa yang Vita sampaikan padanya beberapa hari yang lalu. Meskipun sang adik telah memantapkan pilihannya. Namun tetap saja, sebagai seorang kakak, Stella tak bisa tinggal diam. Ia pun memutuskan untuk membicarakan perihal yang mengganjal hatinya ini kepada sang suami.
"Papi nggak tahu mesti gimana, Mi! Itu sudah menjadi keputusan mereka. Kita sebagai pihak ketiga, tidak boleh terlalu ikut campur!" jawab Juan ketika sang istri menyampaikan keluhannya.
"Jangan gitu, Mi! Namanya hidup itu ada plus minusnya. Percayalah, yang jodoh pasti disatukan dan yang tidak pasti akan dipisahkan. Mau bagaimanapun mereka berusaha. Sudah, kita doakan saja mereka. Semoga ini adalah keputusan terbaik yang mereka ambil!" jawab Juan, terlihat mulai malas berbicara. Maklum, masalah yang terjadi antara dirinya dan Laskar masih belum usai. Pria paruh baya itu, nyatanya masih menginginkan sang putri. Meskipun Zein saat ini juga telah menandatangi surat perjanjian tidak akan mengungkit masalah ini lagi.
Namun tetap saja. Sebelum Laskar menyerah, Juan tidak akan bisa bernapas lega.
"Sudah, Mami tidurlah. Semua pasti akan baik-baik saja. Kalo bisa masalah Vita, ibu jangan sampai tahu. Kasihan beliau. Tadi dia minta Papi peluk. Sepertinya ia sedang merasakan sesuatu. Tapi tak bisa mengungkapkannya." Juan menarik sangat istri untuk masuk ke dalam pelukannya.
"Ibu punya feeling yang kuat, Pi. Tadi juga minta peluk Mami pas Mami masuk ke kamarnya," balas Stella jujur.
Begitulah seorang ibu. Meski jiwanya terganggu, ia tetap saja bisa merasakan apa yang saat ini anak-anaknya rasakan. Seperti yang terjadi pada Anti, Stella sendiri juga pernah mengalaminya.
Tak ingin terlalu larut dalam kesedihan. Stella dan Juan pun memutuskan untuk mengistirahatkan jiwa dan raga mereka. Namun, ketika mata mereka sama-sama terpejam, ponsel Juan berdering. Juan berdecak kesal. Ingin rasa membiarkan saja ponsel itu berdering. Malas saja menjawab. Namun, ponsel itu terus saja berdering. Seperti sedang menagih hutang saja.
__ADS_1
"Siapa sih?" gerutu Juan kesal.
"Udah, angkat aja, Pi. Siapa tahu penting!" ucap Stella mengingatkan.
Juan pun menurut, ia pun langsung mengambil ponselnya. Membaca nama yang tertera di sana.
Mata pria ini terbelalak terkejut, sebab seseorang yang menghubungi nya adalah sahabat sekaligus pria yang suka menjadi sumber masalah baginya.
"Zein, Mi!" ucap Juan memberi tahu sang istri.
"Ya udah, angkat aja, Pi. Kali aja ada yang penting!" jawab Stella sembari duduk menunggu sang suami menyambut telpon dari mantan suaminya itu.
Tak menunggu waktu lagi, Juan oun segera mengangkat panggilan telepon itu.
"Iya, Zein. Malam. Ada apa?" sambut Juan sedikit merasa aneh.
"Emmm, gini, Jun. Aku ada masalah sedikit ni. Boleh nggak aku pinjam apartemen kamu yang ada di Jakarta. Temen aku lagi butuh tempat tinggal ni," jawab Zein, terdengar serius.
"Emmm, apartemen yang di Jakarta ya! Lagi dipekek sama Vita tu. Rumah yang di Pademangan aja kalo mau. Tapi kecil," jawab Juan menawarkan.
"Oh, boleh deh. Nanti biaya kontraknya aku transfer ya, Jun. Makasih banyak," jawab Zein langsung to the poin.
"Gampang itu, emang buat siapa sih? Kayaknya mendadak banget?" tanya Juan curiga.
"Ada buat temen, nanti aku ceritain. Makasih banyak ya Jun. Kunci dipegang siapa?" tanya Zein masih belum mau terbuka.
"Biasa ama Nafa. Kamu minta aja ama dia." Juan menatap Stella. Sedangkan sang istri pun sama. Mereka berdua sama-sama merasa aneh.
"Oke deh, nanti aku ambil. Makasih atas bantuannya ya Jun. Assalamu'alaikum!" ucap Zein, lalu memutuskan panggilan telpon itu tanpa menunggu Juan menjawab salamnya. Ya, Zein memang sedang buru-buru. Terbukti pria itu berbicara tanpa basa basi. Membuat Juan dan Stella heran.
__ADS_1
Bersambung....