PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Rahasia Vita


__ADS_3

Tak ingin berlama-lama meninggalkan sang istri sendiri, Juan pun memutuskan berpamitan. Juan tak ingin sang istri khawatir. Terlebih saat ini, sang istri telah berbadan dua. Sedangkan putri sulung mereka juga dalam keadaan aktif-aktifnya. Berliana suka drama jika ingin tidur. Gadis cilik itu selalu mencari dirinya jika malam. Itu sebabnya, Juan jarang sekali meninggalkan mereka jika hari mulai petang.


"Sorry, Zein. Aku nggak bisa lama-lama. Aku nggak bisa ninggalin Ste terlalu lama," ucap Juan meminta pengertian sang sahabat.


"Ya, aku ngerti. Pamit dulu sana sama mak bapakku. Siapa tahu disanguin," canda Zein.


"Dasar gila! Lu pikir gue apaan. Tapi bener juga ya, siapa tahu disanguin!" Juan terkekeh.


Lalu Juan pun memantapkan hatinya untuk mendekati kedua orang tua Zein. Untuk berpamitan tentunya. Juan juga tahu bagaimana cara bertamu. Tak mungkin baginya untuk pergi begitu saja tanpa berpamitan.


"Maaf, Om, Tan. Saya pamit dulu. Insya Allah besok saya datang lagi bersama Ste. Kalo diizinkan," ucap Juan sembari mengulurkan tangan pada Laskar dan Laila.


"Oh, Terima kasih banyak Juan, karena kamu masih mau mensuport keluarga kami. Tolong maafkan kesalahan kami di masa lalu. Om sungguh minta maaf Juan," ucap Laskar sembari memeluk Juan. Sedangkan Juan malah diam. Bergeming tanpa kata. Tak menyangka, bahwa orang seangkuh Laskar yang ia kenal, bisa meminta maaf padanya.


"Maukah kamu memaafkan keluarga Om, Juan?" tanya Laskar lagi.


"Tentu Om, kenapa tidak," jawab Juan yakin.


"Terima kasih Juan, semoga kedepannya kita bisa menjadi keluarga. Datangkah lagi kapan kamu mau. Jangankan di sini, Pintu rumah Om juga terbuka lebar untukmu dan anak istrimu."Laskar menepuk pundak Juan sebagai tanda bahwa ia bersungguh-sungguh dalam ucapannya.


"Siap Om. Juan pamit dulu ya, Om. Tan, Juan pamit," ucap Juan. Kemudian ia pun menyalami semua orang yang ada di situ. Termasuk Zein.


"Oke hati-hati. Salam buat istrimu ya. Sampaikan maaf Om padanya," ucap Laskar lagi.


Setelah itu, mereka kembali berpelukkan dan saling melemoar senyum. Pertanda mulai hari mereka telah membebaskan masalah yang selama ini ada di antara mereka.

__ADS_1


Melihat sang kakak ipar sudah berpamitan. Vita pun mendekatinya dan meminta izin untuk tetap di sini.


"Vita di sini dulu ya, Bang. Bilang sama kakak kalo Vita masih mau nemenin Fira," pinta Vita di sela-sela perbincangan Juan dan keluarga sang sahabat.


"Baiklah. Zein, aku titip adikku ya. Makasih Om, Tan! Saya permisi. Assalamu'alaikum!" ucap Juan sebelum melangkah pergi.


"Waalaikumsalam ..." jawab semua orang.


***


Kebahagiaan yang dirasakan Juan, Zein beserta keluarganya berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Stella.


Wanita ini tertegun lemas, saat ia tak sengaja menemukan sebuah buku berwarna biru tua yang ada di tumpukan koleksi novel milik sang adik. Sebenarnya Stella tidak berniat membaca buku tersebut. Sebab ia tahu itu adalah privasi sang adik.


Namun, keinginannya timbul ketika tanpa sengaja ia melihat foto seseorang yang ia kenal ada di sela-sela buku tersebut.


Sungguh, ini adalah tamparan untuk Stella. Tentu saja ia tak menyangka jika Vita bisa sebodoh ini menyerahkan perasaannya pada pria itu. Pria yang jelas-jelas pernah menghancurkan perasaannya. Pria yang jelas-jelas telah memporak-porandakan keluarganya.


Namun, tak dipungkiri bahwa dia juga kasihan pada adik satu-satunya itu. Karena demi menjaga perasaan keluarganya, ia rela menyerah pada cintanya. Memilih melanjutkan hubungan yang mungkin ditolak oleh hatinya.


Stella menghapus air matanya ketika mendengar deru suara mobil Juan sampai di depan rumahnya. Cepat-cepat Stella mengembalikan buku rahasia milik sang adik.


Tentu saja, Stella tak ingin memperkeruh keadaan. Ia tak ingin menghakimi seseorang perihal perasaan. Sebab cinta itu tak bisa diminta. Cinta itu tak bisa ditolak. Dia adalah sesuatu yang bisa dikatakan misterius dan rahasia. Bisa datang kapanpun dia mau dan bisa pergi kapanpun dia ingin.


Stella menyambut kedatangan sang suami dengan senyum yang ia paksakan. Juan, si pria peka itu tak bisa dibohongi. Sebab ia tahu, bagaimana sejatinya sang istri.

__ADS_1


"Vita nggak ikut pulang, Pi?" tanya Stella langsung pada kekhawatirannya.


"Loh, kok langsung nanya adiknya. Tumben, dijawab dulu dong salam Papi," ucap Juan sembari memberikan kecupan di kening sang istri dan di perut yang kini telah membuncit itu.


"Waalaikum ayahnya Berliana." Stella mengelus kepala sang suami yang kini sedang bermain dan menyapa baby yang ada di dalam perutnya.


"Ayahnya baby ganteng ini juga dong, Mam," canda Juan sembari mengusap gemas perut sang istri.


"Tentu saja," jawab Stella, terdengar l,irih dan malas. Membuat Juan curiga.


"Mami ada masalah?" tanya Juan seraya menarik tangan sang istri dan mengajaknya duduk di sofa.


Spontan Stella langsung menangis. Sebab pada dasarnya ia memang tak bisa menyembunyikan apapun dari Juan. Karena memang sudah komitmen mereka, bahwa apapun maslah yang sedang mereka hadapi, mereka harus saling berbagi dan terbuka satu sama lain.


"Mami bingung harus mulai dari mana, Pi!" ucap wanita cantik ini.


"Cerita aja, Mam. Siapa tahu Papi bisa bantu cari solusi," ucap Juan mencoba menenangkan.


"Tadi, pas Mami mau ngembaliin novel yang Mami pinjam dari Vita. Nggak sengaja Mami nemuin buku harian bocah nakal itu. Dan di sana, dia menulis perasannya untuk seseorang. Bukan hanya itu, Pi. Bocah nakal itu juga menyimpan foto pria itu. Mami menyesal, kenapa dia bisa sebodoh itu," ucap Stella dalam isak tangisnya.


Mendengar penuturan sang istri, Juan sudah bisa menangkap apa maksud dari ucapan tersebut. Sebab, sebelum ini dia dan Rehan pernah membahasnya. Bukan hanya itu, Juan sendiri juga telah mempelajari gerak-gerik dua insan itu. Sehingga ia bisa memahami apa yang saat ini istrinya sampaikan.


"Lalu, Mami maunya gimana? Kita nggak bisa memghakimi Vita, Mi. Mau bagaimanapun yang namanya rasa itu tak bisa diminta ataupun ditolak," jawab Juan mengingatkan.


Stella kembali menangis. Sebab ia sendiri juga tak tahu apa yang mesti ia lakukan. Di samping itu, ia juga kasihan terhadap adik satu-satunya itu.

__ADS_1


Bersambung...


Apa ya yang kira-kira bakalan Ste lakukan? Stay tune☺☺☺


__ADS_2