PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 26


__ADS_3

Suasana pilu dan isak tangis mengiringi kepergian seorang ibu yang tak mampu lagi bertahan melawan penyakitnya.


Di samping makam tersebut ada seorang anak perempuan yang terlahir dari mendiang wanita yang telah dikebumikan itu, beberapa kali anak perempuan itu tak sadarkan diri.


Ya, Safira beberapa kali pingsan di makam wanita yang melahirkannya. Isak tangis sering terdengar. Sedangkan Zein, berusaha tegar, walaupun sebenarnya ia adalah orang yang paling hancur di sini.


Pria itu terlihat beberapa kali ia mengigit bibirnya menahan tangis. Ia hanya tak ingin terlihat cengeng. Meskipun pada kenyatannya ia sedang menangis dalam hati.


Bagaimana tidak? Diam-diam wanita itu menyembunyikan asetnya dari sang mantan suami hanya untuknya. Hanya namanya yang tertulis di dalam hak waris tersebut.


Andai Zein bisa memilih, ia lebih memilih harta itu habis untuk berobat sang ibu, dari pada masih ada tetapi ibunya pergi.


Bukan hanya itu yang membuat Zein ingin menjerit dalam diamnya. Sang ibu juga meninggalkan setumpuk kartu ucapan selamat ulang tahun untuknya.


Dari situ, Zein bisa menangkab, bahwa sebenarnya ibunya bukan tidak peduli padanya, tapi sang ibu juga hidup di bawah tekanan suami barunya. Hidup di bawah tekanan orang-orang yang selama ini memanfaatkanya. Temasuk ayah kandungnya.


Kenyataan perih itu, pada akhirnya menampar Zein, karena tak mampu melindungi wanita yang selalu terlihat tegar, kuat dan bisa melawan badai itu.


Padahal kehidupan malam yang dijalani sang ibu, ternyata adalah siasat licik ayah tirinya untuk mendapatkan tender dari rekan bisnisnya. Dengan kata lain, sang ibu telah di jadikan umpan oleh pria biadab itu.

__ADS_1


Dan kenyataan gila ini baru Zein ketahui dari cerita Zizi serta beberapa coretan yang di tinggalkan oleh wanita itu sendiri.


"Kenapa kamu baru nyari aku setelah ibuku sakit parah?" tanya Zein pada gadis yang saat ini sedang mengambilkan minum untuknya.


Pertanyaan yang sukses membuat pendengarnya panas telinga. Namun, tidak untuk seorang Zizi. Sebab baginya pertanyaan itu sangat wajar dilontarkan oleh seseorang ytang sedang merasakan kekecewaan yang luar biasa. Seperti yang dialami oleh pria yang sudah di anggap sahabat olehnya ini.


"Maafkan aku, ibu baru memintaku mencairmu. Aku pikir ..." Zizi tak kuasa melanjutkan ucapannya karena Zein menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.


"Kamu pikir apa?" tanya Zein.


"Kamu adalah orang kaya, aku pikir kamu mengawasi keadaan orang yang kamu sayangi, dengan menyewa pengacara atau orang kepercayaan, mungkin. Seperti yang sering aku lihat difilm-film. Terlebih ini adalah wanita yang melahirkanmu," ucap Zizi sengaja, agar Zein menyadari bahwa sebagai seorang anak ia tidak boleh menelantarkan wanita yang telah melahirkannya itu.


"Kamu sengaja menyidirku?" Zein kembali menatap Zizi.


"Kita belum selesai berbicara, Zi. Jangan coba-coba mengindariku!" pinta Zein ketika tahu Zizi hendak kabur darinya.


"Hatimu sedang panas oleh berbagai penyesalan dan spekulasi Zein. Sebaiknya aku pergi, sebab aku sendiri juga tak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku!" ucap Zizi, seraya mekangkah hendak meninggalkan pria pemarah itu.


Namun langkah Zi kembali berhenti mana kala Zein mencegahnya, "Kalau kamu berani melewati pintu itu, aku pastikan besok kamu nggak akan melihatku lagi, Zi!" ancam Zein , terdengar begitu putus asa.

__ADS_1


Terpaksa Zi pun mengehentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya. Lalu melangkah menghampiri pria membingunkan ini menurutnya.


Kendati demikian, meskipun rasa kesal menyerangnya, Zizi tetap berusaha bersikap tenang. Dengan lembut ia pun kembali duduk di samping pria yang saat ini sedang membutuhkan seseorang untuk bisa mengerti dirinya itu. Dan entah mengapa? Zein merasa apa yang ia butuhkan ada di dalam diri Zi.


Hampir lima belas menit mereka saling berdiam diri. Zein bergelut dengan pemikirannya sendiri. Sedangkan Zi hanya menunggu apa yang sebenarnya pria itu inginkan darinya.


Samapi pada titik di mana Zi melihat bibir Zein bergetar, barulah Zi bertindak spontan.


Gadis berambut panjang ini pun langsung memeluk untuk menenangkan pria itu.


"Stttt, jangan menangis! Ibu sudah tenang di sana. Tolong jangan tambah bebannya," ucap Zi sembari mengelus pundak pria yang kini sedang menangis meluapkan rasa kesalnya.


"Kenapa dunia ini kejam sekali padaku, Zi? Kenapa? Semua orang yang aku sayangi pergi. Aku harus bagaimana?" tanya Zein di sela-sela tangisnya.


"Jangan bicara begitu, kamu, ibu dan orang-orang di sekitarmu adalah orang baik. Percayalah! kamu pasti bisa melewati ini!" ucap Zi.


"Kenapa Tuhan tidak memanggilku saja?Kenapa terus mengujiku, Zi? Kenapa?" tanya Zein lagi.


"Karena kamu adalah manusia pilihan. Kamu pria kuat dan pemberani. Jangan putus asa. Masih banyak orang-orang yang menyayangimu, Zein. percayalah!" Zi mempererat pelukannya agar Zein cepat tenang dan menyadari bahwa masih banyak orang yang lebih tidak beruntung di banding dengan dirinya.

__ADS_1


Zi masih setia menemani Zein yang bisa dikatakan dalam keadaan tidak stabil. Zi berusaha tenang menghadapi Zein. Memperlakukan Zein sesabar ketika ia menghadapi para pasien yang membutuhkan ketenangan darinya. Dan Zi senang jika ada orang yang merasa nyaman bersamanya.


Bersambung ....


__ADS_2