
Daun melambai di tengah badai. Jatuh ke dalam samudra. Terombang-ambing terbawa arus. Begitulah rasa hati yang di rasakan Zein saat ini.
Zein tidak menyangka bahwa dia akan melewati fase mengerikan seperti ini. Perihal hati ia kalah. Perihal nasib ia tersungkur. Perihal harta ia tercekik.
Zein semakin terpuruk ketika ia menyadari bahwa tak akan bisa lari dari kenyataan pelik ini.
Terpaksa ia melewati. Terpaksa ia harus jalani dan selesaikan. Zein mengakui bahwa dia memang bersalah. Bersalah telah berburuk sangka pada Stella. Yang mengakibatkan dia kehilangan segalanya. Sehilangan cintanya kehilangan buah hatinya. Sampai di situ sudah cukup membuat Zein terpuruk. Ditambah lagi dengan masalah yang super pelik. Yaitu jati dirinya.
Diungkitnya masalah ini, tentu saja membangkitkan pertanyaan dalam diri Zein. Mengapa baru sekarang orang tuanya ungkapkan kebenaran ini? Di saat ia membutuhkan seseorang untuk mengerti hatinya yang telah hancur oleh cinta. Mengapa baru sekarang mereka meluapkan kenyataan ini? Di saat hatinya tidak siap. Di saat hatinya sedang terluka karena asmara
Zein tenggelam dalam lagu sedih. Sampai Beberapa kali Rehan memanggilnya ia tak mendengar.
"Zein! Zein, hoee!" panggil Rehan sambil menggoyang-goyangkan tangannya tepat di depan wajah sang sahabat.
Rehan tersenyum kecut. Ternyata apa yang di rasakan Zein lebih parah dari apa yang ia duga.
Tak sabar lagi, akhinya Rehan pun mengetuk meja tempat Zein melamun. Alhasil pria ini pun terkejut. Tersadar lagi lamunan.
"Eh, Re. Kapan kamu datang?" tanya Zein spontan.
"Kapan kamu datang? Kapan kamu datang? Aku di sini udah hampir lima menit. Astaga? Kamu mikirin apa sih?" cecar Rehan kesal.
"Sorry, sorry. Duduklah Re," pinta Zein. Terlihat pria ini gugup. Seperti bukan Zein yang ia kenal.
"Oke!" ucap Rehan. Tatapan matanya tak luput dari sang sahabat.
"Gimana pertemuannya dengan papa kemarin?" tanya Zein langsung pada pokok pembahasan mereka.
"Maaf, Zein. Sepertinya kecurigaan ku benar. Bahwa semua yang terjadi adalah ada campur tangan ayahmu dan seorang wanita yang pernah kamu kecewakan," ucap Rehan sesuai dengan penyelidikannya.
"Wanita yang pernah aku kecewakan? Siapa itu? Ste kah?" tanya Zein bingung.
__ADS_1
"Ste? Ya bukan lah!" jawab Rehan tegas.
"Lalu?" Zein menatap Rehan.
Pun dengan Rehan. Kemudian pria ini pun mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih dan menyerahkan bukti itu pada Zein.
Tanpa berpikir lagi, Zein pun langsung membuka amplop itu. Dan, betapa terkejutnya dia melihat foto-foto tak seronok itu. Terlihat Ariel, wanita yang selama ini tergila-gila padanya begitu nyaman berada dalam pelukan sang ayah.
Zein menatap nanar pada foto iku. Tak menyangka bahwa, pria yang selama ini ia agungkan bisa berbuat serendah itu. Lalu bagaimana dengan sang mama? Bagaimana dengan wanita yang melahirkannya itu? Mungkinkah ia mengetahui semua ini?
Tak ayal, semua pertanyaan pun kini mengepungnya. Kenyataan pahit ini nyatanya sanggup meluluh lantahkan perasaannya. Zein diam terpaku. Berat rasanya bernapas. Apa lagi berucap. Jiwa Zein kembali terguncang. Pria ini seperti berada di dalam malam yang gelap. Sendirian. Bingung harus bagaimana mengutarakan perasaannya.
"Zein!" Rehan kembali menepuk pundak sang sahabat.
Zein menatap Rehan. Masih belum bisa mengungkapkan apa yang membelenggu pikirannya.
"Kamu harus bisa melawan mereka Zein. Jangan mau jadi boneka mereka! Aku tahu ini berat bagimu, tapi yakinlah kamu pasti bisa melewati ini," ucap Rehan pada sang sahabat. Berusaha memotivasi pria tampan ini agar bangkit dari keterpukurannya. Agar bersemangat melawan lagu sedih yang kini sedang menertawakannya.
"Ini semua karena tipu muslihat wanita itu, Zein. Kita harus menghentikannya dulu. Baru bisa menyadarkan papamu. Kita harus membuka mata batin papamu, menyadarkannya bahwa wanita yang saat ini sedang berada dalam pelukannya tak lain dan tak bukan, dia adalah siluman rubah," jawab Rehan yakin.
Zein diam, menatap Rehan sekilas. Lalu melempar foto-foto bangsat itu.
"Apa yang harus aku lakukan, Re?" tanya Zein bingung.
"Ada dua pilihan Zein. Jika kamu memilih
membuktikan bahwa sebenarnya yang menggelapkan dana dan membocorkan semua rahasia perusahaan adalah papamu sendiri, maka kamu menang dalam hal harga diri, Zein. Namun, konsekuensinya adalah, perusahaan tetap hancur. Tetapi jika kamu memilih mengabaikan papamu dan tetap fokus pada m memulihkan perusahaan terlebih dahulu, maka semuanya akan selamat, Zein. Barulah kamu bisa menampar papamu dengan bukti-bukti yang kamu miliki," jawab Rehan sesuai dengan jalan pikiran yang sekarang ia pikirkan.
"Aku bingung, Re. Sungguh!" ucap Zein memelas.
"Mantapkan hatimu Zein. Semua pasti ada jalan keluarnya. Oia, aku baru saja menerima kabar bahwa sekertaris barumu sudah siap. Besok pagi dia mual bekerja," ucap Rehan memberitahu.
__ADS_1
Zein mengangguk pasrah. Sebab yang dia Inginkan adalah Rehan kembali bekerja padanya, bukan sekertaris baru yang belum berpengalaman dan paham dengan sikap arogansinya.
"Lupakan sekertaris, sebenarnya aku malas memperkerjakan orang baru," jawab Zein malas.
"Tenang, Zein. Aku akan selalu ada untukmu. Tapi maaf, aku nggak bisa kembali ke perusahaan ini. Mau bagaimanapun, Luis juga teman baikku." Rehan tersenyum berusaha meminta pengertian Zein. Sedangkan Zein hanya melirik kesal.
"Hah, serah kamu lah Re Pokoknya aku minta jangan keluar dari Jakarta dulu, tolong bantu aku sampai aku bisa menyelesaikan semua masalah ini!" pinta Zein memohon dan Rehan adalah sahabat yang baik. Tak mungkin baginya menolak keinginan pria yang pernah menolongnya di saat sulit.
***
Bandara Soekarno-hatta...
Tampak dua orang wanita sedang bercengkrama bahagia. Mereka terlihat antusias ketika menginjakkan kaki di negara yang mereka rindukan.
"Aku deg-deg, Ra. Do'ain bosku baik ya," ucap Vita pasa sang sahabat.
"Iye, pasti aku do'ain. Kamu enak, begitu nyampek udah dapet aja kerjaan. Kalau aku kapan?" tanya sang sahabat.
"Itu namanya nasib baik sedang berpihak pada Vita Gunawan. Aku juga do'ain kamu Ra, semoga kamu juga cepet dapet kerjaan." Vita memeluk sang sahabat.
"Maacih. Mana yang jemput kamu?" tanya wanita itu lagi.
"Aku sebatang kara di Jakarta gaes. Mana ada yang jemput. Lupa ya?" Vita terkekeh. Sedangkan sang sahabat yang sangat tahu bagaimana Vita tentu saja langsung memeluk penuh kasih sayang.
"Gimana jika keluargamu tahu kalau kamu tiba-tiba balik ke Indo, Ra?" tanya Vita pada sang sahabat.
"Bodo amatlah, Vit. Biarin aja, toh selama aku diungsikan mereka juga nggak peduli kan. Mereka sudah menganggapku nggak ada. Jadi apa salahnya kalau aku juga nganggep mereka nggak ada!" jawab wanita ayu yang dikenal setahun yang lalu oleh Vita ini.
"Baiklah kalau gitu, gaes. Mari kita berjuang mencari sesuap nasi, karena kita sama-sama sebatang kara." kembali dua wanita itu tertawa. Begitulah persahabatan yang terjalin antara Vita dan Safira. Mereka memiliki kisah hidup yang sama-sama rumit.
Bersambung....
__ADS_1
Vita jadi sekertaris Zein๐คSafira sahabat Vita? Lalu? ๐๐๐