PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 37


__ADS_3

Keesokan harinya...


Safira masih mendiamkan sang suami hingga detik ini. Entah mengapa, rasanya malas saja jika sesuatu yang ia miliki ternyata diincar oleh orang lain.


Walaupun pada kenyatannya Lutfi sendiri juga tidak menanggapi apa yang wanita itu lakukan padanya.


Safira berubah menjadi kembali pendiam. Suka menyendiri dan hanya menghabiskan waktunya untuk merebahkan diri. Tidak melakukan apapun. Tidak makan, tidak minum dan hanya memeluk bantal milik sang suami.


"Yang, jangan beginilah. Aku kan nggak main api. Kalo dia suka sama aku ya biarin aja, toh kita nggak bisa nglarang orang lain suka ke kita. Yang penting kan aku ke kamu nggak ada masalah. Aku masih setia sama kamu. Kalau nggak, kita telpon dia aja bareng-bareng biar nggak gangguin aku lagi. Gimana?" tawar Lutfi mencoba mencari solusi terbaik untuk meredam kecemburuan yang kini sedang bergelut di sanubari sang istri.


"Aku sedang malas berdebat, aku tak ingin melakukan apapun. Jangan menyuruhku berpikir," pinta Safira memelas.


"Baiklah, tapi sungguh, Yang. Aku merasa sangat bersalah jika kamu seperti ini. Aku merasa suami paling berdosa karena telah membuat istrinya selalu sedih dan murung seperti ini," ucap Lutfi lagi.


"Aku nggak apa-apa, Mas. Aku hanya lelah saja. Perutku rasanya mual terus. Rasanya memang nggak pengen ngapa-ngapain. Sungguh, aku nggak apa-apa," jawab Safira, karena jujur ia memang tak sedang malas melakukan apapun.


"Ya udah aku nggak ke toko hari ini, aku temenin ya," tawar Lutfi. Safira tersenyum pertanda ia mengiyakan apa yang suaminya tawarkan. Safira terlihat senang. Matanya berubah dari sendu menjadi berbinar. Entahlah, penawaran ditemani, serasa seperti mendapatkan hadiah yang sangat besar. Safira menyukainya.


"Bener, Mas, nggak pergi hari ini?" tanya Safira masih dengan senyum yang mengembang penuh kebahagiaan.


"Ya, Mas di rumah hari ini. Nanti Mas kerja dari rumah aja," jawab Lutfi sembari naik ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya di sana.


Safira tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia pun langsung menaikan kepalanya ke dada sang suami. Dan meminta pria ini untuk memeluknya.


"Kapan kita pulang ke Batam, Mas? Aku kangen sama Naya," ucap Safira, Tiba-tiba mengingat buah hati mereka.


"Tadi pagi Mas udah telpon sama pengasuhnya, katanya oma sama opa baru datang dari Jakarta. Katanya mereka belum mau kasih Naya balik ke sini. Mereka juga lagi kangen-kangenan," jawab Lutfi, sesuai info yang ia dapat dari pengasuh putri mereka.


"Mama sama papa kenapa sih nggak mau bikin anak sendiri? Suka rebutin anak orang. Sebel ih!" Safira menggerutu kesal.


Lutfi tertawa, sebab istrinya begitu menggelikan.

__ADS_1


"Kenapa ketawa?" tanya Safira kesal.


"Kamu itu loh lucu, Bun. Mainan mereka kan dikasih ke aku, yaitu kamu. Ya wajar lah kalo sekarang mereka minta ganti. Mau nggak mau kita mesti suka rela minjemin Naya ke mereka. Kan aku juga nggak mau kamu diambil lagi oleh mereka," jawab Lutfi gemas.


"Eh, iya juga ya." Safira ikut tersenyum. Lutfi pun sama.


Sedetik kemudian, Safira teringat sesuatu. Mengingat Naya sering dipinjam oleh orang tuanya, Safira pun jadi kepikiran untuk membuat adik untuk bocah cantik itu.


"Mas!" ucap Safira.


"Hemmm!"


"Mas udah pengen belum nambah momongan?" tanya Safira lugu.


"Momongan itu nggak bisa diminta dan nggak bisa ditolak, Yang. Kalo dikasih cepet ya syukur. Kalo belum ya kita sabar aja," jawab Lutfi dewasa.


"Oh, oke. Tapi udah cepet-cepet pengen. Aku pengen punya empat anak. Naya, adiknya Naya, adiknya Naya, adiknya lagi. Pasti rumah kita bakalan rame, Mas!" ucap Safira antusias. Sedangkan Lutfi hanya menanggapi keinginan lucu samg istri itu dengan senyuman menggerakkan khas pria tampan ini.


"Boleh, apa aja yang penting kamu seneng," jawab Lutfi pasrah.


"Emmmm, sweetnya. Maacih, pokoknya aku mau empat, Naya, adiknya lagi, adiknya lagi, adiknya lagi. Emmmm, seneng!" ucap Safira senang, sedangkan Lutfi hanya tersenyum. Sebab sang istri terlihat sudah bisa melupakan kecemburuan yang menurutnya tidak perlu itu.


Sampai hari menjelang sore, mereka berdua hanya rebahan di kasur. Saling bercengkrama dan menceritakan masa lalu yang pernah mereka lalui bersama.


Bukan hanya bercengkrama, Safira juga dengan setia membantu suaminya bekerja. Yang penting Lutfi tidak keluar sari kamar. Pria tampan ini di larang keras beranjak dari ranjang. Wanita aneh ini hanya bersama bersama pria itu, mengurung diri mereka di kamar dan hanya berdua. Menghabiskan waktu berdua. Tak ada seorang pun yang boleh menganggu mereka.


Lutfi adalah pria penyayang yang akan m,engikuti apapun keinginan sang istri. Kecuali kalau ada keadaan yang mengharuskan dirinya untuk


Lalu tiba-tiba saja, Safira teringat dengan sahabatnya yang sudah lama tak berkirim kabar dengannya. Siapa lagi kalau bukan Vita.


Ya, sejak pertemuan terakhir mereka, Vita memang tidak pernah menghubunginya. Entah bagaimana sekarang kabar wanita itu.

__ADS_1


"Ya coba kamu telpon, Yang. Kasihan dia, kita kan tahu suaminya sedang sakit begitu. Nggak mudah lo, Yang. Ngadepin orang sakit begitu. Kesabarannya harus supern ektra! Ngerti kan maksud, Mas?"


"Ya, coba deh nanti Fira telpon, tanyain kabarnya!" jawab Safira sambil melamun memikirkan apa yang sedang Vita lakukan saat ini.


***


Wangi semebak aroma maskulin yang keluar dari pria bertubuh kekar itu sukses membangkitkan gairah seorang wanita bernama Zizi. Ya... pesona sang suami ternyata sanggup membuat bulu kuduknya berdiri. Ingin rasanya Zizi mendekati pria itu, dan mencium gemas. Namun, Zi malu. Zi takut Zein menilainya binal dan ah, entahlah... Zi masih belum berani mengekspresikan keinginannya untuk menyentuh pria itu.


Dalam keadaan masih kesusahan berdiri saja, Zein terlihat begitu keren dan berkarisma. Zi tidak bisa membayangkan jika sang suami bisa berdiri dengan gagahnya.


Mengenakan stelan jas dan berangkat ke kantor sebagai pimpinan perusahaan. Seperti yang pernah Zi lihat di salah satu foto yang terpajang di dalam apartemen pria tampan itu.


Zi tersenyum membanyangkan dirinya bisa leluasa menjamah lembut tubuh seksi itu. Zi melirik sang suami melalui sudut matanya. Terlihat pria itu sedang menikmati sebotol air mineral yang ia minta beberapa menit yang lalu.


Melihat cara sang suami minum saja, sudah membuat seorang Zi meleleh. Bibir Zerin terlihat sangat seksi dan nikmat. Ah, entah kenapa Zi jadi mesum begini ketika mencuri pandang ke arah sang suami.Pokoknya, di matanya, Zein terlalu sempurna untuknya.


"Sini ... kenapa melihatku seperti itu, apakah ada yang aneh?" tanya Zein ketika melihat sang istri sedari tadi hanya menatapnya gemas.


Tak ingin larut dalam otak mesumnya, Zi pun menolak permintaan itu.


"Kenapa? Kok nggak mau. Ada yang kamu risaukan?" tanya Zein sembari membawa kursi rodanya mendekati sang istri yang saat ini sedang duduk manis di sofa kamar mereka.


"Nggak, aku oke," Jawab Zi jujur.


"Oh, okelah kalau kamu baik. Hari ini masuk kerja jam berapa?" tanya Zein, bukan bermaksud apa, ia hanya tidak ingin mengekang sang istri. Zein ingin tetap membebaskan sang istri untuk tetap mengekpresikan skill yang ia bisa. termasuk bekeja.


"Hari ini aku jaga malam, nggak apa-apa kan kalo aku jaga malam. Oiya, mulai malam ini aku dipindah tugaskan ke UGD, sebab di sana kurang tenaga. Boleh kan nggak apa-apa kan?" tanya Zi, mau bagaimanapun sekarang ia telah memiliki suami, mau tak mau Zi harus tetap berdiskusi perihal apapun yang ia rasakan.


"Aku sih nggak apa-apa. Yang penting kamu enjoy ngejalaninnya. Tapi nanti kalo misalnya kamu hamil, terus kita punya anak, kamu mau nggak fokus ke anak-anak sama aku aja?" tanya Zein jujur. Sesuai dengan keinginannya selama ini.


"Ya nggak apa-apa. Nanti kalau misalnya kita udah dipercaya, Insya Allah aku siap di rumah jagain anak-anak kita. Tapi ngomong-ngomong kapan kita punya ya?" Zizi menatap lugu ke arah sang suami. Seakan tidak menyadari bahwa apa yang ia ucapkan telah berhasil membangkitkan sesuatu dalam diri Zein.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2