
Stella dan Juan baru keluar dari klinik dokter kandungan yang Juan percaya untuk memantau kesehatan anak dan istrinya. Mereka terlihat sangat bahagia. Karena bayi yang ada di dalam kandungan wanita itu sehat. Posisinya juga bagus. Jika tak ada halangan, Stella ingin melahirkan secara normal.
"Mami yakin mau melahirkan normal?" tanya Juan, sembari membantu Stella memakai seatbelt-nya.
"Hu em. Pengen ngrasain jadi ibu seutuhnya," jawab Stella manja, dengan senyum merekah indah di bibirnya.
"Tapi sakit lo ya, jangan nangis," canda Juan lagi. Bermaksud menakut-nakuti agar Stella mau dicesar saja.
"Pokoknya Mami nggak mau sesar. Mami mau lahiran normal aja. Sama aja sakitnya Pap. Cuma beda waktu aja. Normal di awal, sesar di akhir. Ya kan," jawab Stella, senyum tetap merekah indah di bibirnya. Wanita ini benar-benar merasakan kebahagiaan yang tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata. Sang suami begitu total mencintainya, menjaganya bahkan Juan juga menghargai keputusannya. Padahal keputusan itu sedikit membuatnya harus bersabar.
"Mam."
"Hemmm."
"Mami nggak pengen ngabarin orang tua, Mami kalau cucu mereka udah mau lahir?" tanya Juan. Tentu saja, sebelum bertanya soal ini, Juan sudah memikirkan berulang kali resiko yang akan mereka hadapi. Yaitu rasa trauma Stella pasti akan hadir kembali.
"Mereka sudah membuangku, Pi. Bagaimana mungkin aku tiba-tiba datang, aku nggak sanggup bertemu dengan mereka. Terlebih ayahku, pria jahat itu tak akan pernah mendapatku lagi sebagai putrinya. Sampai kapanpun," jawab Stella. Suaranya tersengar serak, seperti sedang menahan sesuatu.
Juan paham jika sang istri masih belum bisa melupakan apa yang ayahnya lakukan. Sebab, Juan adalah saksi bagaimana Stella saat itu berjuang untuk hidup. Untuk mengobati rasa trauma nya. Hampir satu bulan penuh wanita ini tak mau bicara pada siapapun selain padanya. Pria yang menolongnya.
Belum lagi dia dihantam dengan kabar kehamilannya. Menurut Juan wajar jika Stella masih butuh waktu untuk memulihkan emosinya.
__ADS_1
"Ya udah kalau Mami masih belum mau kasih tahu. Oia, baby kita kan cewek. Enaknya kasih nama siapa ya?" celetuk Juan sembari menyalakan mobilnya.
"Mami tak pandai cari nama," jawab Stella, senyum terlihat mereka di bibir ayu itu.
Juan meliriknya sekilas. Tentu saja senyum manja itu membuat Juan ingin sekali menciumnya.
"Mam, sini deh!" tipu Juan.
Stella yang lugu tentu saja mendekatkan wajahnya, "Apa?" Stella merapikan rambutnya.
Tanpa izin pria ini langsung mengecup bibir sang istri. Terang saja, serangan dadakan pria tampan ini membuat Stella gelagapan. Namun ia tak menolak, sebab ia pun ingin.
"I love you," ucap Juan seraya melepaskan pangutannya.
"Kamu cantik istriku," ucap Juan sembari menatap mesra mata sang istri.
"Aku milikmu, papinya baby. Selamanya!" balas Stella lagi. Tak ada yang lebih indah dari ini. Percakapan yang menunjukkan adanya cinta di hati mereka. Sayangnya mereka tak menyadari jika ada sepasang mata yang selalu mengintai mereka. Cemburu dengan apa yang mereka lakukan. Mata yang memiliki dendam pada pria tampan itu. Hingga menimbulkan rasa ingin menyingkirkan milik pria itu dari hidupnya.
****
Rehan bekerja seperti biasa. Berusaha mengalihkan perhatian sang big bos untuk melupakan wanita itu. Sebab Rehan tahu, jika Zein mengingat wanita itu maka runyamlah semua keadaan yang ia coba sembunyikan, yang ia coba tutupi.
__ADS_1
Meskipun begitu, tetap saja. Emosi Zein sering tak stabil. Pria ini lebih sering uring-uringan tak jelas. Tak bisa menerima kesalahan orang lain. Sifat aslinya kembali seperti sebelum mengenal Stella. Membuat Rehan kadang-kadang tak nyaman.
"Kamu udah dapat info di mana Stella berada belum, Re?" tanya Zein tiba-tiba.
Seketika jantung Rehan pun berdetak kencang. Tak menyangka si pria bebal ini mengingat wanita itu lagi.
"Belum, Bos. Emang mau ngapain sih?" tanya Rehan sedikit kesal.
"Aku ingin minta maaf sama dia Re, aku ingin dia kembali padaku. Aku masih mencintainya. Aku rindu padanya," jawab Zein jujur.
Rindu padanya konon, cinta konon. Cinta kok menyakiti, cinta apaan itu! gerutu Rehan dalam hati. Andai Zein bukan bosnya mungkin sudah dia lempar kali dari gedung ini. Biar si otak kolot ini paham dan mengerti bagaimana cara mencintai.
"Udahlah, Bos. Lupakan dia, doakan saja, semoga non Ste sekarang bahagia," jawab Rehan. Rasanya malas sekali jika meladeni masalah satu ini.
"Entahlah Re, rasanya aku belum bisa melupakan kesalahanku padanya. Aku masih ingin bertemu dengannya. Meminta maaf padanya dan aku ingin dia kembali bersamaku," tambah Zein.
Sudah Rehan duga, pasti pria ini akan memaksa Stella kembali padanya. Dia tak akan peduli bagaimana dan dengan siapa Stella hidup sekarang. Sungguh ini adalah PR tersendiri buat Rehan. Sebab Zein adalah pria yang suka memaksakan kehendak.
Rehan diam, enggan membalas apa yang Zein inginkan. Selama ia belum mengetahui di mana Stella berada, saat itulah kondisi masih bisa ia kendalikan. Namun, sampai kapan hanya Tuhanlah yang tahu.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like komen n share ya. Siapa ya yang lagi ngintip kebahagiaan Ste dan Juanπ€π€π€π€