PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Kembalikan Hatiku


__ADS_3

"Udah jangan cemberut, masak calon pengantin cemberut. Ntar kusut loh," canda Zein. Bermaksud mencairkan suasana.


"Apaan sih, Bang? Nggak jelas banget deh," balas Vita, masih saja ketus. Seakan Zein adalah pria yang wajib ia marahi. Pria menjengkelkan yang wajib musuhi. Antara benci dan cinta, rasa itu kini telah sukses menguasai sanubari gadis cantik ini. Berperang seakan berlomba menunjukkan eksistensinya. Namun, tetap rasa peduli yang muncul tanpa ia sadari. Vita bingung harus bagaimana lagi ia membujuk hatinya untuk mengerti tentang keadaan yang harus ia perjuangkan.


"Nggak jelas gimana? Kan udah mau jadi istri, harus kuat mental," ucap Zein sembari bercanda.


"Apaan istri! Abang tu jangan kerja lagi sama orang." Vita membuang pandangannya agar Zein tidak menangkap kesedihannya.


"Iya, kan Abang udah bilang, Abang pasti berhenti kalo kalian dah nikah kan," jawab Zein menurut.


"Tahu ah." Vita melirik Zein sekilas. Lalu tanpa dia duga air matanya kembali jatuh. Hati memang tak bisa bohong, bahkan jendelanya pun sepertinya mendukung, untuk mengekspresikan rasa yang kini membelengunya.


"Kamu ini sebenarnya kenapa to? Coba cerita sama Abang. Ada apa? Luis menyakitimu ha?" tanya Zein lembut.


"Nggak dia baik. Yang bikin hati Vita capek ya Abang lah. Bukan dia!" jawab Vita kesal.


Zein mengerutkan kening bingung. Aneh dengan jawaban yang ia dengar dari gadis yang saat ini sedang menghakiminya.


"Abang? Bikin hati kamu capek? Emang Abang ngapain?" tanya Zein bingung. Aneh saja, perasaan dia tak melakukan sesuatu apapun. Bahkan gaji terakhir sekaligus pesangon untuk Vita juga ia udah bayar. Bukan hanya itu, Zein juga mentransfernya lebih. Lalu apa lagi salahnya.


"Tahu ah!" Vita beranjak dari duduknya dan meninggalkan pria tak peka ini.

__ADS_1


Vita tak mau meladeni kebodohan pria yang nyatanya memang tak bisa menangkap maksud dari setiap kata yang terlontar dari bibirnya. Tanpa berpamitan, Vita pun memilih pergi. Memilih menghindari pria yang menurutnya super bodoh itu.


Zein menatap kepergian Vita dengan hati bertanya-tanya. Bagaimana tidak? Tak ada angin tak ada hujan, dia marah-marah nggak jelas. Menangis tanpa mengatakan apa sebab dari tangisan itu.


Zein menghela napas dalam-dalam. Mencoba tenang dan memikirkan kembali apa penyebab Vita bertingkah seperti itu. Bertingkah seolah seperti seseorang yang sedang putus asa.


Namun, kepekaan hati Zein memang kurang. Ia sama sekali tak menemukan jawaban atas pertanyaan yang menjeratnya kali ini.


Tak ingin menjadi perhatian penghuni rumah ini, Zein pun memutuskan untuk kembali ke hotel di mana bosnya berada. Berharap dalam perjalanannya nanti ia bisa menemukan jawaban atas apa yang membuat gadis aneh itu marah dan menangis kesal padanya.


***


Sedangkan di dalam kamar, Vita kembali mengumpat kesal. Ingin sekali ia memukul pria menyebalkan itu agar mengerti, bahwa pada kenyataannya Zein telah mencuri hatinya. Membawa hati itu pergi. Serta menyembunyikan hati itu entah di mana. Hingga tak bisa menerima hati lain yang ingin mendekatinya.


Vita duduk termenung sambil menatap gaun yang telah Luis siapkan untuknya. Gadis ini tersenyum tipis. Ingatannya kembali pada doa yang Zein tujukan untuknya. Vita tahu jika doa itu tulus untuknya. Namun, entah mengapa ia merasakan sakit ketika Zein mengucapkan itu semua dengan senyuman. Seolah ia tak merasakan sedikit goncangan atas pernikahannya.


***


Di lain pihak, Safira gelisah. Sebab pikirannya selalu terbayang nasib bayi kecil yang hanya hidup berdua dengan ayahnya. Nasibnya tak jauh berbeda dengannya ketika bayi. Hingga ada seorang wanita yang rela menjadi ibunya. Dia adalah Laila. Yang mau merawat serta menjaganya tanpa pamrih. Andai Naya boleh ia ambil. Safira rela mengasuh dan membesarkan bayi itu.


Di meja makan, Safira terlihat melamun. Memikirkan cara untuk mengadopsi bayi itu. Entahlah, ia sangat kasihan dengan nasib Naya. Karena menurutnya Lutfi tidak bisa menjadi ayah sekaligus ibu.

__ADS_1


"Kamu kenapa melamun begitu?" tanya Laila sembari menepuk pundaksang putri.


"Ma, boleh nggak Fira mengadopsi bayi?" tanya Safira tiba-tiba.


Laila mengerutkan kening. Aneh saja dengan permintaan sang putri.


"Ngapain ngadopsi bayi, kamu kawin aja kalo mau punya baby," jawab Laila. Jawaban umum yang biasa diberika oleh orang tua jika ditanya hal demikian.


"Astaga, Mama! Nggak semudah itu. Fira kan nggak punya pacar, mau kawin ama siapa? Ogah Fira kalo ama anak temen mama itu. Mama tahu nggak itu pria pernah berniat jahat sama Fira. Sampai kapanpun nggak akan Fira mau sama dia," jawab Safira dengan lirikan kesal.


"Kok kamu nggak cerita?" Laila yang penasaran tentu saja langsung duduk di meja makan. Penasaran dengan cerita yang diucapkan sang putri.


"Kami ketemu di club, Ma. Sebenernya Fira juga nggak kenal sama tu cowok. Tiba-tiba dia kasih sesuatu di minuman Fira. Beruntung Fira cepet-cepet menyadari bahwa ada yang nggak beres dengan badan Fira. Eh bener, Ma, Pas Fira keluar dari club, anak buah dia ngejar Fira. Untung Fira ketemu superhero," jawab Safira dengan senyum menawan. Tetapi, sepertinya Safira tidak menyadari jika ia mengucapkan sesuatu yang bisa membuat orang lain salah paham.


"Kurang aja sekali dia, berani sekali mau mencelakai putriku. Awas saja dia!" ancam Laila kesal. Terlihat wanita ini meremas kedua tangannya geram. Sedangkan Safira hanya santai. Karena dia bangga bisa meloloskan diri dari pria jahanam itu.


"Tapi kamu belum di apa-apain kan?" tanya Laila khawatir.


"Belum, Ma. Kan Fira berhasil kabur," jawab Safira santai.


"Oiya ya, tadi udah bilang kalo kabur. Eh tapi, kamu bilang ketemu superhero kan? Siapa dia? Kamu kenal?" tanya Laila, tidak bermaksud apa-apa. Hanya ingin berterima kasih kepada superhero tersebut karena telah menyelamatkan sang putri.

__ADS_1


Sayangnya tidak untuk Safira. Wanita ayu ini diam seribu bahasa. Karena di saat itu juga Lutfi berada tepat di depannya. Ia pu menatap pria itu dengan tatapan terkejut. Sedangkan Lutfi pun sama. Ia juga menatap bingung ke Safira.


Bersambung...


__ADS_2