
Terkadang orang yang sangat kita benci, bahkan tidak kita kehendaki, bisa jadi itu adalah orang yang paling setia dan sangat menyayangi kita. Begitupun yang terjadi pada gadis yang bernama Vita. Sebenarnya gadis ini sangatlah membenci Zein. Sebab Zein sangat
jahat terhadap kakaknya. Entah dia sangaja atau tidak, nyatanya Zein tega
melakukan sesuatu yang keji pada keluarganya. Sehingga keluarga yang melahirkan sekaligus membesarkannya itu hancur berantakan tak bersisa.
Namun, apa yang ada di hati Vita berbanding terbalik dengan apa yang ada di hati Zein. Pria ini begitu peduli dan hati-hati memperlakukannya. Zein sama sekali tak pernah menyakitinya. Dalam hal apapun. Sayangnya Vita sering Baper. Hingga sering menimbulkan kesalahpahaman di antara mereka.
Andai Vita tak terlanjur menandatangi kontrak kerja tersebut, mungkin gadis ini juga tak akan sudi berdekatan dengan pria jahat itu. Rasanya malas saja, setiap hari harus berurusan dengan pria yang ia benci itu. Terkadang ia juga kesal harus selalu berpura-pura baik dan manis di depan Zein. Tapi mau bagaimana lagi? Ia sudah memilih. Mau tak mau harus menjalaninya, bukan?
Namun, seiring berjalannya waktu, jujur saja Vita merasakan perbedaan. Ternyata memang begitulah sikap Zein. Begitu kaku. Malas peduli dengan sesuatu yang tidak penting,
terutama lawan jenis. Pria ini selalu menjaga batasannya, harga dirinya, atau
lebih tepatnya dia memang tak menyukai wanita yang memiliki jiwa penggoda. Mau secantik apapun seorang wanita, selama ia tak bisa menjaga diri dari pandangan seorang pria, maka baginya itu tak ada harganya. Ya begitulah Zein, dengan sikap dan pemilirannya yang kolot.
Pernah di suatu pesta, saat itu ada salah satu rekan kerja mereka. Begitu cantik, anggun bahkan boleh di katakan sempurna. Memakai gaun berwarna ungu muda. Hanya saja belahan
dadanya terbuka sedikit. Awalnya wanita itu mendekati Vita. Sebab ia tahu bahwa
Vita adalah asisten Zein. Wanita itu meminta Vita untuk menyampaikan salamnya. Setelah Vita menyampaikan salam tersebut, Zein malah cuek. Membuat sang wanita penasaran. Akhirnya, merasa Vita tak bisa membantunya, wanita tersebut
mendekati sendiri pria yang jadi incarannya. Mangajaknya berdansa. Seketika Zein pun menolak. Dengan alasan kakinya agak sedikit sakit. Bukan hanya itu, ia juga langsung mengandeng Vita. Mengajaknya keluar dari pesta, untuk mengindar dari wanita tersebut tentunya.
__ADS_1
Kejadian aneh ini, terang saja membuat Vita tertawa terpingkal-pingkal di dalam mobil. Sebab Zein menggerutu dan terlihat sangat kesal. “Dasar wanita gila, nggak tahu apa aku lapar. Malah diganggu dengan hal yang tidak berguna begitu!” ucap Zein kesal. Spontan Vita pun kembali tertawa. Menurutnya bosnya ini sangat lucu dan menggemaskan. Kadang-kadang juga seperti anak kecil.
“Diam kamu!” ucap Zein, masih dengan wajah cemberut. Tatapan kesal. Dan yang membuat Vita lebih lucu adalah ternyata Zein beberapa kali mengkidik ngeri. Seperti seseorang yang jijik pada sesuatu. Entahlah, memang begitulah Zein dengan segala keunikkannya.
Sayangnya Vita malah semakin geli. Baginya Zein sangat aneh. Terlalu tertutup dan yang jelas terlalu jual mahal.
“Diam ih! Kalau nggak berhentiin mobilnya. Terus kamu turun aja!” pinta Zein lagi-lagi mengeluarkan emosinya.
“Astaga, Bapak! Maaf jika saya kelewatan. Habis Bapak lucu. Pasti kak Catrine pengen nyium Bapak,
kalau dia tahu Bapak ternyata menggemaskan begini kalau marah,” ucap Vita, bermaksud bercanda. Gadis ayu ini kembali tertawa. Namun tidak dengan Zein. Pria ini tetap kekeh pada pendiriannya. Cuek dan tidak peduli. Baginya bisnis adalah bisnis dan perihal hati adalah hati. Meskipun tanpa ia sadari, dia sendiri pun pernah berbuat khilaf. Ketika memperebutkan hati Stella.
“Dasar gila!” umpat Zein lagi. Kali ini Zein tak mau menanggapi kekonyolan sang asisten. Priaini memutuskan untuk diam dan membuang pandangannya. Sedangkan Vita tetap fokus pada jalanan yang ada di depannya. Namun, sesekali dia tetap mencuri pandang pada pria aneh yang duduk anteng sembari memainkan ponselnya. Bagaimana tidak dikatakan aneh? Dideketin cewek cantik malah menghindar. Sebenarnya dia normal nggak sih, batin Vita, tertawa geli. Menertawakan bosnya yang selalu terkesan cuek dan tak peduli dengan lawan jenis. Bukan sekali dua kali Zein bersikap seperti ini. Pria ini selalu jual mahal terhadap lawan jenis. Entah wanita seperti apa yang dia inginkan.
***
Dalam pesan teksnya, Rehan menulis bahwa saat ini Zein dalam masalah besar. Zein di ambangkebangkrutan. Karena diam-diam Agus menggadaikan perusahaannya tersebut kepada teman-temannya untuk bermain judi dan main perempuan. Dan sekarang, pria itu dalam kejaran pihak berwajib. Karena terlibat kasus pencucian uang.
Bukan hanya Agus yang bermasalah. Widya pun sama. Wanita itu juga tertangkap karena penyalahgunaan obat terlarang. Rehan bingung bagaimana memberihatukan kabar inipada Zein. Sebab, kemungkinan besar Zein juga belum tahu perihal ini.
“Kamu dapat kabar gila ini dari mana, Re?” tanya Juan, langsung melakukan panggilan telepon pada
sang sahabat.
__ADS_1
“Kamu tahu Dayat, kan?” jawab Rehan.
“Ya, pengacara om Agus kan?” Juan menghentikan langkahnya, karena matanya menangkap seseorang
yang sedang ia bicarakan bersama sang sahabat.
“Ya aku tahu,” jawab Juan, terlihat mulai tak fokus dengan perbincangannya dengan Rehan.
Karena ada hal yang lebih menarik dibanding itu.
“Jun! Kamu masih di situ?” tanya Rehan.
“Ya, kamu tadibilang apa?” tanya Juan balik.
“Aku bilang, omAgus gadein semua asetnya untuk judi dan main perempuan. Sekarang dia melarikan diri, sebab dia buron sekarang. Kamu paham?” terang Rehan sedikit kesal.
“Oke aku paham, dia sekarang ada di depanku, Re. Kamu pecaya nggak?” tanya Juan sedikit gusar.Sebab apa yang sedang ia bicarakan dengan apa yang ia lihat seperti sebuah kebetulan.
“Hah? Serius kamu, Jun?” tanya Rehan. Terdengar gugup. Mungkin dia tegang.
“Aku serius, aku sekarang ada di Shanghai. Opa kritis Re, aku serius. Udah dulu, aku fotoin kalau kamu nggak percaya,” ucap Juan. Kemudian panggilan pun berakhir dan Juanmenepati ucapannya. Mengirimkan foto Agus dan seorang wanita muda dengan pakaian yang amat seksi. Setelah itu, Juan kembali melangkahkan kakinya. Namun sebelumnya ia meminta pada asisten opanya untuk mencari seseorang yang bisa membantunyamembuntuti Agus. Sebab ia yakin apa yang ia lakukan sekarang, pasti akan berguna untuk Zein nanti.
Biar bagaimanapun, bagi Juan, Rehan dan juga Zein adalah sahabat sejati. Kalau pun pernah terjadi masalah atau kesalahpahaman pada hubungan mereka, Juan yakin itu adalah kehendak yang Maha Kuasa.
__ADS_1
Bersambung...
Makasih yang masih mengikuti, love u buat kalian semua