
Juan sibuk menyadarkan sang istri. Begitupun Sera. Wanita ini juga sibuk mencari sesuatu untuk membuat sang putri tersadar dari pingsan.
"Mam, ingat Berliana, Mam. Jangan begini! Mami sudah janji dengan Papi kan! Ayo Mam, bangun!" ucap Juan gugup, terlihat takut. Sangat-sangat takut.
Semenit kemudian Stella mulai tersadar. Wanita ini membuka matanya pelan. Namun tatapan matanya masih kosong. Masih belum sadar betul.
"Stella, jangan seperti ini. Ini nggak lucu!" ucap Sera kesal. Sungguh, perlakuan Sera kali ini sedikit menyinggung Juan. Sebab, selama ini Juan begitu lembut memperlakukan sang istri.
"Kamu jangan lembek gitu jadi laki-laki Juan. Istri kek gini harus diajari kuat. Jangan dikit-dikit pingsan. Dikit-dikit nangis. Stella tatap mata, Tante!" ucap Sera dengan nada sedikit tinggi.
"Tan, aku mohon! Jangan terlalu keras pada Ste!" pinta Juan memohon.
"Apa kamu bilang?" Sera berkacak pinggang. Kali ini dia benar-benar marah.
"Iya, maksud saya .... " sela Juan. Bukannya mereda Sera malah semakin geram.
"Jangan terlalu keras! Ini juga salahmu Juan, kenapa kamu begitu lemah menghadapi dia. Ini belum apa-apa. Dia sudah pingsan, bagaimana kalau dia tahu bahwa aku adalah wanita yang melahirkannya?" jawab Sera spontan. Kali ini wanita ini tak mau menutupi apapun dari Stella. Ia menginginkan semuanya terbuka. Tanpa sedikitpun tirai yang menutupi. Ia ingin sang putri menjadi kuat sepertinya. Apapun yang terjadi harus mereka hadapi.
Mendengar ucapan Sera yang dinilai tidak main-main, Stella pun langsung menatap wanita itu. Dengan tatapan penuh pertanyaan. Stella langsung bangun dari pembaringan. Tak peduli kepalanya masih terasa pusing. Mau tak mau Sera harus menjelaskan apa yang ia ucapkan barusan.
"Apa maksud, Tante? Apa maksudnya, Pi? " tanya Stella serius.
__ADS_1
"Mam, kendalikan dirimu. Jangan terlalu memaksa!" pinta Juan lembut.
"Tidak, Pi. Mami nggak apa-apa, percayalah!" ucap Stella sembari menepuk punggung tangan Juan.
"Mam, aku tahu kamu," ucap Juan lembut.
"Tidak, Pi. Percayalah! Aku baik-baik saja." Stella mengelus lengan sang suami. Sedangkan Sera terlihat muak dengan tingkah putri dan juga menantinya yang sok romantis di depannya itu.
"Tan, mau kan Tante menjelaskan apa yang sebenernya terjadi pada Ste. Ste mohon Tan!" pinta Stella memohon.
"Tanpa kamu minta, Tante juga akan jelaskan apa yang sebenarnya terjadi padamu, Ste. Kamu nggak usah takut. Aku bukan suamimu yang lembek," jawab Sera kesal. Kali ini dia bukan hanya kesal pada Vita dan Zein, tetapi juga pada Juan dan Stella. Baginya anak muda sekarang terlalu lamban menghadapi masalah. Terlalu lemah untuk mengambil keputusan.
Padahal jika diingat, Juan seperti ini juga karena menuruti perintahnya. Dia yang meminta agar Juan jangan sekali-sekali menceritakan apa yang terjadi. Biar dirinya yang membuka tabir kebohongan ini.
Sera kembali duduk di sofa tempatnya semula. Wanita ini terlihat masih kesal dengan Stella yang begitu lemah. Tidak sekuat dirinya. Yang mampu melawan segala rintangan yang ada di depan matanya. Lalu pelan-pelan Stella pun mendekati wanita yang terlihat masih berusaha menguasai emosi itu.
"Tan, maafin Ste ya. Karena Ste lemah. Karena Ste nggak bisa sekuat, Tante. Tapi Ste janji, kali ini Ste akan kuat Tan. Serius!" ucap Stella memohon. Ditatapnya wanita yang mengatakan bahwa dialah yang melahirkannya. Stella menatap wanita itu dengan penuh permohonan. Sedangkan Sera sendiri juga membalas tatapan itu. Mulut mereka memang diam, namun hati mereka menyampaikan signal, bahwa sebenarnya mereka memiliki hubungan batin yang tidak disadari oleh siapapun.
"Apa kamu merasa mirip denganku?" pancing Sera, masih bersikap sok angkuh. Seperti Sera yang Stella kenal selama ini.
"Kok Tante tanyanya begitu?" balas Stella, masih belum bisa menerima jika apa yang dikatakan Sera adalah kenyataan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Kamu jawab saja, apakah kamu merasa mirip denganku?" ucap Sera, mengulang lagi pertanyaan yang telah ia sampaikan.
"I-iya. Kita memang mirip, Tan!" jawab Stella. Sedikit ragu. Tetapi ia harus tetap jujur. Jujur dengan apa yang dia rasakan.
"Bagus jika kamu merasa mirip denganku. Lalu, apakah kamu tidak penasaran kenapa kita mirip?" Sera kembali meminta pendapat Stella tentang kemiripan mereka.
"Entahlah, Tan. Ste hanya takut salah!" jawab Stella jujur.
"Apa kamu siap mendengarkan ceritaku?" Sera menatap Stella. Memastikan bahwa apa yang akan ia ungkapkan tidak membuat putrinya ini shock. Meskipun Stella sudah berjanji akan kuat kali ini, tetap saja sebagai seorang ibu, Sera sendiri juga menyimpan ketakutan.
Stella mengangguk, pertanda ia siap mendengarkan apa yang hendak Sera katakan.
Melihat semangat Stella untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tentu saja membuat semangat Sera pun terbakar.
Tak menunggu waktu lagi, wanita paruh baya ini pun langsung menceritakan detail masalah yang sebenarnya terjadi. Tanpa menutupinya sedikitpun.
Sembari bercerita, sesekali Sera mengeluarkan air matanya. Setangguh-tanggunnya seorang wanita pasti ada sisi rapuhnya juga. Terlebih ketika dibawa kembali ke masa kelam. Ke masa terberat dalam hidupnya.
Stella masih berusaha kuat, berusaha bahwa dia memang bisa mendengarkan apa yang disampaikan oleh wanita yang mengaku sebagai ibu kandungnya ini. Meskipun sesekali ia juga menghapis air matanya. Stella tetap berusaha tegar.
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih yang masih setia. Jangan lupa like n komennya ya. Sukur2 mau kasih vote☺