
Zein menginjak pedal gasnya seperti pria kesetanan. Pikirannya saat ini jauh lebih kalut di banding dia menyaksikan ijab qobul antara Vita dan Luis sore tadi. Ia ingin segera sampai di rumah sakit. Ingin segera mengetahui apakah sahabatnya itu baik-baik saja.
Resah yang ia rasakan perihal masalah perasaan langsung hilang seketika. Berganti dengan rasa kekhawatiran yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
Zein kembali merasa sangat-sangat bodoh. Harusnya sebelum ia pergi, alangkah baiknya berpamitan dulu. Harusnya dia tidak pergi begitu saja. Harusnya ia mengucapkan selamat terl bih dulu. Zein menyesal tidak melakukan ketiga hal tersebut untuk kedua mempelai. Hanya karena ia menuruti egonya. Sungguh Zein sangat-sangat menyesal.
Lalu, jika sudah begini, dia bisa apa? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Luis? Bagaimana jika Luis menghembuskan napasnya sebelum dia datang?
Di serang ribuan pertanyaan yang menakutkan, Zein kembali menambah kecepatan mobilnya. Tentu saja ingin segera sampai dan memastikan bahwa sepasang pengantin baru itu, baik-baik saja.
Tak sabar menunggu sampai di rumah sakit, Zein pun mengambil ponselnya dan menghubungi Rehan. Sebab ia yakin, jika saat ini Rehan pasti masih berada di antara Vita dan Luis.
Beruntung, hanya butuh waktu beberapa detik, akhirnya Rehan pun menyambut panggilan teleponnya.
"Ya, Zein," sambut Rehan malas.
"Re! Sorry, Re. Gue nggak tahu," ucap Zei merasa bersalah.
"Ya, nggak pa-pa. Lu tenang aja." Rehan kembali menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap Zein.
"Re, sungguh, gue minta maaf. Maafkan aku ya," ucap Zein lagi.
"Emmm .... sudahlah, Zein. Apa gunanya minta maaf. Kamu punya perasaan. Aku paham itu, cuma lain kali jangan begitu. Cobalah lebih bijak, biar orang lain nggak khawatir. Setiap orang punya masalah Zein. Tapi mematikan ponsel itu perbuatan sangat buruk. Sebaiknya kamu belajar lebih dewasa. Supaya nggak ngrepotin orang lain terus," ucap Rehan pelan. Sama sekali tidak menunjukkan emosi. Tetapi Zein tahu, jika Rehan marah padanya.
"Maaf ya, Re. Sungguh aku minta maaf. Kamu sekarang ada di mana?" Zein mencoba mengambil hati sang sahabat.
__ADS_1
"Nggak kebalik itu nanyanya. Harusnya aku yang nanyain kamu, sekarang kamu ada di mana?"
"Sekali lagi maaf, Re. Maaf banget. Saat ini aku Otewe ke rumah sakit. Maaf aku baca pesan dari Lutfi telat," jawab Zein jujur.
"Baiklah! Hati-hati berkendara. Aku tunggu kamu di sini," jawab Rehan, kemudian ia pun menutup panggilan telepon tersebut.
Zein sendiri sedikit tenang, meskipun ia belum sepenuhnya tahu bagaimana kondisi terkini suami dari wanita yang ia cintai itu.
Namun, Zein berharap, Luis selamat dan baik-baik saja. Zein akan sangat menyesal jika sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Luis. Maupun pada Vita.
***
Semalam utuh Juan dan Rehan tidak tidur. Mereka siaga menjaga dan menemani Vita. Sedangkan Lutfi dan juga Safira izin pulang. Karena mereka memiliki bayi yang tak tak bisa lama-lama mereka tinggalkan.
Vita kini juga sudah menganti pakaiannya, Renata yang membawakan perlengkapan wanita ayu itu. Calon istri Rehan itu juga yang menemani Vita sebagai pengganti Stella. Mengingat Stella belum lama melahirkan. Tak mungkin ia meninggalkan babynya sendirian. Juan tak mungkin mengizinkan itu. Toh saat ini Juan dan Rehan ada untuk Vita.
"Siapa lagi kalo bukan pria keparat itu," jawab Rehan marah.
"Di mana dia sekarang? Dia baik-baik saja kan?" tanya Juan.
"Dia baik, dia sedang menuju ke sini," jawab Rehan apa adanya.
"Oke!" Juan mengangguk.
"Bagaimana dengan pengacara untuk Vita, Jun. Apakah sudah siap? Atau aku perlu menghubungi Jeremi?" tanya Rehan memastikan.
__ADS_1
"Gani sudah menghubunginya. Semoga Jeremi bisa. Aku stres, Re. Sungguh. Masalah putriku belum usai, kini datang lagi masalah baru," ucap Juan jujur.
"Tadi pagi, sebelum aku dan Zein terbang ke sini, aku sempat bicara perihal putrimu. Zein minta maaf soal itu. Sungguh dia tidak tahu jika orang tuanya senekat itu. Dia berjanji akan menyelesaikan masalah ini segera. Jangan risau lagi, Jun," ucap Rehan.
Juan menatap Rehan sembari tersenyum senang. Diam-diam, sahabatnya ini selalu memberikan kejutan yang luar biasa terhadapnya.
"Kamu serius, Re?
"Ya, tentu saja. Aku sudah membicarakan ini." Rehan mengangguk dengan senyum mengembang sempurna di bibinya.
Tak ada perbincangan lagi, sebab mereka memutuskan untuk sholat bergantian. Karena tak mungkin meninggalkan Luis sendirian di kamar rawat itu. Takut terjadi apa-apa.
***
Di kamar hotel mewah yang telah di siapkan Luis untuknya, Dena marah besar kepada pelayan yang ia beri tugas untuk memasukkan obat di minuman yang diminum oleh Luis.
Dosis yang di masukan ke dalam minuman itu lebih banyak dari yang dia perintahkan.
Terang saja Dena shock. Karena ia tahu efek dari obat tersebut. Kerusakan saraf dan kelumpuhan jaringan otot adalah efek terdasyat dari obat tersebut. Yang itu artinya, meskipun bisa selamat dari maut, si korban tidak akan bisa melakukan apapun. Karena di pastikan dia akan cacat lumpuh seumur hidupnya.
"Bodoh!" bentak Dena kepada pelayan itu. Tak tinggal diam, tangan wanita itu juga melayang tepat di pipi pria itu.
"Kamu! Aaagggrrhh!" Dena kembali berteriak. Lalu ia pun berbisik pada anak buahnya. Untuk memberikan obat itu kepada pelayan yang telah lalai dalam tugas itu.
"Pastikan dia meminum obat itu. Biar dia merasakan apa yang cucuku rasakan. Jika gagal, maka aku sendiri yang akan meledakka kepalamu!" pinta Dena pada salah satu anak buahnya.
__ADS_1
Kemudian tak ada lagi perbincangan. Karena Dena meminta mereka semua enyah dari hadapannya. Dia ingin sendiri. Ingin menangis sendiri. Karena ia gagal dalam misinya. Senjata makan tuan, itulah peribahasa yang pas untuk kita sematkan untuk Dena saat ini.
Bersambung....