
Jangan ditanya bagaimana bahagianya Zein bisa mempermainkan emosi gadis ayu ini. Meskipun keseruannya sempat terhalang oleh rapat, ia tetap senang. Ternyata adik dari mantan istrinya ini memiliki emosi yang gampang dipancing. Membuat Zein seperti memiliki mainan baru.
Tiba-tiba saja, semangat kerjanya bangkit begitu saja. Zein seperti mendapat imun tambahan untuk mengejar apa yang menjadi tujuannya. Yaitu mengembalikan aset keluarga Anggara yang hampir terlepas dari genggaman tangannya dan hampir membuatnya terlepar dari keluarga tersebut.
Kesepakatan rapat telah dibuat. Beberapa orang terlihat menandatangani surat perjanjian tersebut. Tanpa terkecuali Zein. Pria ini tampak serius membaca detail surat perjanjian yang hendak ia tanda tangani.
Dalam hatinya ia memang telah menancapkan sebuah keyakinan untuk meraih apa yang telah ia janjikan pada dirinya. Apapun yang terjadi ia harus tetap kuat. Kuat menghadapi tantangan yang bersiap menghadangnya.
Rapat telah selesai. Mereka mengakhiri pertemuan ini dengan berjabat tangan. Kemudian mereka pun kembali ke kantor masing-masing. Sedangkan Zein, sepertinya sengaja membuat Vita menunggunya. Dia kembali duduk dan memainkan ponselnya dengan santai.
Vita tahu jika Zein memang sengaja mempermainkannya. Dengan penuh keberanian ia pun langsung mengutarakan maksud hatinya.
"Sebaiknya kita pergi, anda harus menghadiri satu rapat lagi. Tiga puluh menit lagi rapat tersebut dimulai!" ucap Vita sembari menatap tab yang ada di tangannya. Membacakan jadwal kerja untuk Zein.
Acuh, begitulah sikap Zein pada gadis ini. Tanpa menjawab ia pun langsung beranjak dari duduknya dan melangkah keluar ruangan tanpa menunggu Vita.
"Dasar pria gila! Awas saja kamu!" ancam Vita kesal.
Berbeda dengan Vita, Zein terlihat mengembangkan senyuman. Keberhasilannya membuat sang mantan adik ipar marah selalu mulus. Gadis pemarah itu ternyata sangat menyenangkan. Keinginan Zein mengizinkan Vita resign, kini berubah. Pria ini tak akan melepaskan gadis itu sampai dia benar-benar puas membuat Vita emosi jiwa.
***
Sera terlihat geram mendengar keberhasilan Zein mendapatkan tender kali ini. Hatinya terasa teremas. Bagiamana tidak? Ia sudah bersusah payah membujuk para koleganya agar tidak memilih perusahaan keluarga Anggara, namun Tuhan berkata lain. Nyatanya Zein bernasib baik. Mereka, para investor itu percaya bahwa Zein mampu membawa proyek ini di atas puncak.
Bukan Sera namanya kalau menyerah begitu saja. Baginya musuh adalah musuh tidak ada kata ampun bagi mereka. Kini dia sendiri yang akan berangkat ke Jakarta dan membuat penawaran yang lebih menarik untuk para investor tersebut.
Sera segera meminta asisten pribadinya untuk memesan tiket dan juga hotel di sana. Di samping itu dia juga ingin menemui sang keponakan. Yang kabarnya telah berada di Indonesia dan sudah bekerja di perusahaan ternama.
***
__ADS_1
Di sisi lain ada Juan yang kembali pada rutinisas kesehariannya. Berangkat ke kantor. Meninjau proyek dan masih banyak lagi kegiatan Juan di luar rumah. Namun, hebatnya pria ini tak melupakan kewajibannya sebagai seorang ayah sekaligus sebagai seorang suami.
Ketika sedang asik berbincang dengan Gani, tiba-tiba ponselnya berdering. Juan melirik ponsel tersebut dan membaca siapa gerangan seseorang yang mencarinya lewat panggilan tersebut.
Juan tersenyum sebab yang mencarinya adalah sahabat terbaiknya. Dia adalah Rehan.
"Hallo!" sapa Juan.
"Hay! apa kabar?" balas Rehan.
"Baik, kamu gimana? Jadi berangkat ke Malaysia?" tanya Juan.
"Nggak dikasih ama emak. Malah suruh pulang kampung aja!" jawab Rehan cemberut.
"Astaga! Kenapa?" Juan terkekeh.
"Suruh kawin mulu, malas aku!" jawabnya kesal.
"Ya udah sih pulang. Sapa tahu dapet perawan!" ledek Juan. Terang saja Rehan makin kesal.
"Perawan konon, ogah!" balas Rehan lagi. Tak ayal Juan pun kembali tertawa.
"Asem, diem kampret!" umpat Rehan. Semakin Rehan kesal semakin Juan senang. Kembali Juan terkekeh.
"Oke, Oke. Sorry-sorry. Habis kamu lucu. Nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba datang bawa kabar aneh begitu. Emang kita cowok apaan dipaksa-paksa kawin." Juan tak sanggup lagi menahan geli.
"Aku serius, astaga! Emak ngomel-ngomel. Aku disuruhnya pulang kampung. Suruh bawa calon bini. Kali enggak dia yang mau nyariin. Lah lah, asem bener hidupku!" gerutu Rehan kesal. Kali ini Juan tak meledek, meskipun sebenarnya dia masih ingat tertawa.
"Ya udah sih, lagian mumpung emak masih ada. Suruh pulang ya pulang aja sih. Lagian kamu mau nyari apaan lagi. Katanya mau buka usaha di kampung," balas Juan serius.
__ADS_1
"Bukan aku nggak mau Jun! Aku cuma takut dipaksa kawin ama emak. Kan kamu tahu. Melupakan Evelyn saja bikin aku sakit kepala. Ini lagi suruh urusan ama perempuan." Terdengar suara Rehan menghela napas.
"Re, yang namanya hidup itu nggak melulu di bawah. Pun dengan percintaan. Masak kamu nggak ingin cari ibu buat Kania. Kasihan anak gadismu. Ada saatnya dia membutuhkan seorang perempuan juga untuk mencurahkan masalah sesama perempuan. Percayalah padaku!" jawab Rehan
, aku pernah gagal! Kan kamu juga tahu gimana kerasnya emak" jawab Rehan pasrah.
"Iya, tahu. Tapi kan nggak ada salahnya melupakan dan mencoba bangkit. Ingat doa emak itu sebaik-baiknya doa. Nggak ada doa ngalahin doa orang tua. Ingat itu Re!" jawab Juan mengingatkan.
Rehan paham maksud sang sahabat. Namun tetap saja. Kegagalan berumah tangga adalah momok paling menakutkan bagi Rehan. Meskipun pada dasarnya tak dipungkiri bahwa selama ini dia juga kesepian. Karena mau bagaimanapun dia juga butuh seseorang untuk berkeluh kesah.
"Dahlah Jun, niatnya mau curhat malah diledekin!" Suara Rehan terdengar ketus.
"Iya- iya. Sorry, udah mau curhat apa? Mari aku dengar!" balas Juan.
"Beberapa hari yang lalu Zein minta aku balik kerja sama dia," jawab Rehan. Sedikit kurang nyaman sebenarnya menceritakan hubungannya dengan rival Juan.
"Terus? Apa masalahnya?" balas Juan.
"Sepertinya Zein sadar, jika dia bukalah bagian dari keluarga Anggara. Kamu inget kan waktu itu aku pernah dengar cerita ini dari salah satu keluarga mereka?" jawab Rehan berusaha mengutarakan kebimbangan nya.
"Ya, lalu?" Juan masih berusaha mencerna maksud ucapan Rehan.
"Kamu tahu kan Jun, saat ini perusahaan Zein sedang dalam masalah besar. Dan aku yakin jika ini adalah rencana pak Agus sendiri untuk menyingkirkan ibu Widya dan juga Zein. Aku yakin jika dia memang sengaja memanfaatkan Zein," ucap Rehan yakin.
"Kamu yakin Re?" tanya Juan memastikan.
"Aku yakin Jun, beberapa hari yang lalu aku sepakat bertemu janji dengan pak Agus. Namun, sebelum aku datang ke tempat itu aku melihat ia sedang menggelar pertemuan dengan beberapa rival Zein. Apa itu maksudnya kalau kek gitu?" ucap Rehan.
"Menurutku, sebaiknya kita awasi Zein dari jauh. Jika dia butuh bantuan baru kita bergerak. Sebab pak Agus sendiri juga licik, Re. Takutnya ia nggak pilih-pilih," tambah Juan. Rehan pun paham akan maksud sahabatnya. Pria gagah ini yakin jika Juan bukanlah pria jahat yang suka memendam dendam. Mau bagaimanapun Zein adalah sahabat mereka. Dan mereka selalu berjanji akan selalu saling menjaga, terlepas masalah yang pernah membelit mereka.
__ADS_1
Bersambung...
Thanks buat like komen n Votenya gaes☺☺☺☺