PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 17 (Lutfi n Safira)


__ADS_3

Di sebuah restoran, Safira hanya duduk termenung membayangkan saat ini pasti sang suami sedang bersanda gurau dengan wanita seksi itu.


Resah pun menghampiri wanita cantik ini. Bagaimana tidak? Hubungan antara dirinya dengan sang suami baru saja menemui titik bahagia. Lalu mengapa harus ada duri tajam yang menancap sempurna pada hubungan tersebut.


"Seharusnya kamu tadi jangan langsung keluar, Ra. Harusnya kamu bilang sama dia kalo kamu istri Lutfi. Bukan asistennya. Dia itu, semakin di ngalahin semakin jadi. Coba tadi aku yang ada di dalem udan aku omelin dia!" ucap Kirana ikut kesal.


Safira masih tak menjawab. Ia masih asik menghitung banyaknya mobil yang berlalu lalang. Sambil memikirkan langkah yang harus ia ambil.


"Ra.... ayolah, jangan mau dikalahin sama wanita yang jelas-jelas nggak punya hak soal Lutfi. Jangan mau kalah sama wanita yang mengaku teman, tapi nyatanya mencintai dan berniat tidak baik. Aku rasa Mawar tahu kok kalo kamu istrinya Lutfi. Kan Lutfi pasang foto kalian di profil WAnya... ayolah Ra bertindak, jangan diam aja!" ucap Kirana mencoba membangkitkan semangat istri sahabatnya. Sebab Kirana sendiri juga tak jika rumah tangga sahabatnya ini terusik kembali.


"Aku bukan marah karena kedatangan wanita itu, Na. Aku cuma kecewa dengan suamiku, karena dia nggak tegas dalam memilih!" jawab Safira pelan.


"Aku nggak bisa membela dia kalo soal itu, Ra. Hanya saja, aku juga sedikit kecewa sama kamu. Karena kamu juga sama, nggak bisa mertahanin apa yang kamu punya!" jawab Kirana tenang.


Safira menatap Kirana, entah mengapa? Ia merasa tertampar dengan ucapan tersebut. Kirana benar, bahwa sebagai seorang wanita, apa lagi ini menyangkut suami, dia harusnya tetap berada di tempat. Jangan pergi. Jangan mengalah.


Segenggam harapan pun akhirnya tumbuh di hati wanita cantik ini. Dengan tekat kuat, ia pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit untuk kembali menemani sang suami, menjaganya, apapun yang terjadi.


***


Di sisi lain, Lutfi juga tampak gusar. Nasehat yang pernah diberikan Zein kepadanya, tiba-tiba saja terngiang di telinganya.


Bahwa sebagai seorang pria, tidak boleh menyakiti wanita. Terlebih ibu dan juga istrinya. Sebab, dua sosok wanita tersebut adalah pendukung dan teman setia dalam hidupnya.


Zein juga pernah berkata padanya, bahwa kesalahan terbesar yang telah ia lakukan telah membawanya pada titik terendah dalam hidupnya.Dan semua itu berawal dari kebodohannya, yaitu menyakiti hati seorang wanita.

__ADS_1


Lutfi tak ingin bernasib sama seperti kakak iparnya.Kehilangan belahan jiwanya karena sebuah kebodohan yang seharusnya bisa dikendalikan.


Lutfi diam sesaat, lalu ia pun segera mengambil keputusan.


Tanpa berpikir panjang, Lutfi pun segera melepas selang infus yang menancap di pergelangan tangannya.


Tentu saja, aksinya itu langsung mendapat reaksi keras dari Mawar. Wanita yang sedari tadi menemaninya.


"Hay, apa yang kamu lakukan?" tanya Mawar terkejut.


"Sorry, May. Aku mesti pergi. Ada sesuatu yang aku lakukan!" jawab Lutfi sambil memakai jaket, mengambil dompet, sekaligus kunci mobil milik Zein yang dipercayakan untuknya.


"Ada masalah apa sih? Masalah penting apa?" tanya Mawar sembari menghadang Lutfi.


"Maaf, May. Aku mesti jemput istriku!" jawab Lutfi sembari melewati tubuh Mawar yang menghadangnya. Kemudian, tanpa berucap apapun, Lutfi pun tetap melangkah untuk menunjukkan pada sang istri bahwa dia adalah suami yang baik. Suami setia. Dan bertanggung jawab atas sumpah setia akan pernikahan yang telah ia dan sang istri sepakati.


Beruntung, perjalanan Lutfi keluar dari rumah sakit tak ada kendala. Sebab Rahmat yang tak lain adalah pegawainya di toko, sudah membantunya membayar seluruh biaya rumah sakit. Dan sekarang pegawainya itu sedang menunggunya di depan lobi rumah sakit.


"Pak! Saya di sini!" panggil pemuda itu.


"Makasih, Mat. Aku jalan sendiri aja. Assalamu'alaikum!" ucap Lutfi sambil terus melangkah, namun tak lupa, ia tetap melambaikan tangan sebagai tanda terima kasih dan perpisahan pada pemuda itu.


"Pak, ibu nyonya sana bapak tuan pesan sama saya suruh jagain, Bapak!" ucap Rahmat sambil berlari mengejar Lutfi.


"Aku tak apa, Mat. Kamu urus aja wanita itu untukku. Pastikan dia tidak mengikuti ku!" pinta Lutfi sembari menunjuk pada Mawar yang terus mengejarnya.

__ADS_1


"Baik, Pak!" jawab Rahmat. Tak ada penawaran lagi, pria ini pun segera menjalankan perintah Lutfi untuk menghadang wanita seksi itu. Agar sang bos bisa meloloskan diri dan memuluskan langkahnya.


Merasa bebas, akhirnya Lutfi mempercepat langkahnya menuju mobil. Namun, ketika ia hendak membuka pintu mobil seseorang memanggil namanya.


"Mas Lutfi!" panggil wanita itu.


Dengan cepat Lutfi pun mengurungkan niatnya untuk naik ke dalam mobil dan memutuskan mencari arah suara.


"Mas!" panggil wanita itu lagi, sambil berlari kearahnya.


Senyum mengembang di antara keduanya ketika mata mereka bertemu. Sekarang, bukan hanya wanita itu yang berlari mendekat, Lutfi pun sama. Ia pun segera berlari menuju wanita tersebut.


"Mas mau ke mana?" tanya Safira ketika mereka tak lagi berjarak.


"Mau nyariin kamu, Istriku!" jawab Lutfi jujur.


Mendengar jawaban sang suami, senyum pun merekah sempurna di bibir Safira. Sebab inilah yang ia inginkan. Sang suami tetap memilihnya, apapun yang terjadi.


Tak ingin menunda waktu lagi, Safira pun langsung memeluk sang suami. Safira sangat bahagia, sungguh. Lutfi ternyata tak seperti yang ia pikirkan di awal. Ternyata sang suami sangat mencintainya dan menginginkannya. Bukan wanita itu.


"I love you, Istriku!" bisik Lutfi dalam pelukan mereka.


"Aku pun, Mas. Aku juga mencintaimu!" jawab Safira.


Sayangnya kebahagiaan dan suka cita kedua insan tersebut tidak serta merta membuat sepasang mata ikut senang. Justru pemilik mata itu kesal. Karena merasa perjuangannya untuk mendapatkan pria incarannya sia-sia. Gagal. Pria itu lebih memilih wanita yang menurutnya tidak sekelas dengannya. Tidak sebanding dengannya. Membuat wanita itu berjanji akan memisahkan mereka, bagaimanapun caranya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2