PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Ternyata Banyak Saingan


__ADS_3

Safira menatap kesal pada Lutfi. Begitupun dengan bapak satu anak tersebut. Ingin rasanya Safira meremas wajah Lutfi, mencolok mata itu, agar tak terus memerhatikan tingkah lakunya. Satu hal lagi yang membuat Safira kesal, sekarang Lutfi sudah berani mengatur cara berpakaiannya dan ini sangat menyebalkan baginya.


"Besok, aku mesti nyusul abang ke Ujung Pandang. Aku mau kamu ikut!" pinta Lutfi sedikit ketus, terkesan memaksa.


"Ogah!" jawab Safira tanpa merasa bersalah.


"Ogah bagaimana? Ya udah, berarti kamu mau jauhan dari Naya!" ancam Lutfi santai. Untuk membuktikan bahwa ancamannya tak main-main, Lutfi pun menunjukkan pesan teks yang di kirim Zein padanya.


"Lihat, abang udah suruh aku datang besok. Gimana? Masih nggak mau ikut. Kalo nggak mau ya udah, ucapkan selamat tinggal pada Naya. Karena kemungkinan kami akan lama tinggal di sana, jadi say good bye wanita merepotkan. Akhirnya, aku bebas juga dari wanita barbar ini. Terima kasih ya Tuhan!" ledek Lutfi sembari melipat kedua tangan, berterima kasih pada Sang Pemilik Hidup. Bukan hanya itu, Lutfi juga memasang wajah sumringah, seakan dia memang suka berpisah dengan Safira.


Safira tak mau kalah. Ia pun langsung melancarkan serangannya. "Enak saja kamu mau melarikan diri dariku. Akan kutuntut kamu. Lihat saja kalo sampai berani keluar dari Batam tanpaku!" Safira menatap kesal pada Lutfi. Sedangkan Lutfi malah tertawa.


"Dasar gila!" umpat Safira kesal.


"Biarkan saja gila! Aku tampan! Putriku cantik. Ah, lama-lama kamu juga bakalan terpesona padaku. Hina saja terus. Makin sering menghina nanti semakin sayang. Nggak mau ditinggal. Maunya nempel terus!" ledek Lutfi dengan gaya kocak khas dirinya.


"Dih, kepedean. Mimpi saja sana. Itu nggak akan pernah mungkin terjadi. Hatiku sekuat baja. Tak mempan kalo cuma pria sekelas kamu," balas Safira ketus.


"Benarkah? Yakin kamu nggak pengen punya suami setampan aku. Gini-gini juga banyak lo yang ngedeketin aku. Nggak percaya, lihat ni!" ucap Lutfi sembari menunjuk pada seorang wanita yang membawa rantang sedang berjalan menuju rumahnya. Sedangkan Safira hanya melongo tak percaya.


"Assalamu'alaikum, Mas Lutfi, Naya, Tante Kinan datang!" ucap gadis itu sembari mengetuk pintu.


"Tu kan, nggak percaya. Ini gadis yang sama, yang makannya kamu makan tempo hari," ucap Lutfi sembari terkekeh. Sedangkan Safira hanya menatap kesal.


Terdenger bunyi ketukan pintu lagi.


"Iya, sebentar!" jawab Lutfi seraya berdiri. Lalu berjalan melewati Safira yang masih terdiam bingung itu.


Melihat sang istri hanya melongo, Lutfi pun memundurkan langkahnya dan mengecup nakal bibir Safira. Spontan wanita itu pun terkejut. Dengan cepat Safira hendak memukul Lutfi, sayangnya Lutfi sudah berlari ke arah pintu. Tentu saja untuk membukakan pintu snag tamu.


"Iya, ada apa Kinan?" tanya Lutfi pada gadis berambut panjang itu.

__ADS_1


"Oh, ini Kinan disuruh ibu. Ini ibu masak soto buat Mas Lutfi sama Naya." Kinan mengarahkan rantang itu pada Lutfi.


"Duh, Kinan, nggak usah repot-repot. Bilang Bude ya, makasih banyak," jawab Lutfi seraya menerima rantang tersebut.


"Nggak pa-pa. Dih, kayak ama siapa aja. Oiya, Nayanya mana, Mas. Katanya sakit!" ucap Kinan seraya masuk tanpa permisi ke rumah Lutfi.


"Udah sembuh, kok tahu Naya sakit. Siapa yang bilang. Bude ya?" tanya Lutfi lagi.


"Iya. Tadi Bude bilang. Ya udah Kinan langsung ke sini. Budenya juga minta maaf nggak bisa ke sini jaga Naya hari ini. Terus dia minta Kinan jaga untuk hari ini," ucap gadis itu dengan tawa bahagia.


"Makasih lo Kinan, kamu udah baik sama, Mas. Sama Naya juga. Kok kamu mau jaga Naya, emang nggak kuliah?" ucap Lutfi sok manis. Sengaja! supaya sang istri cemburu. Padahal biasanya juga nggak begitu. Kinan saja sampai heran.


"Ini siapa, Mas?" tanya Kinan ketika melihat Safira menatapnya dengan tatapan tak suka.


"Kamu kenalan sendiri aja, biar tahu dia tu siapa!" suruh Lutfi dengan candaan khasnya.


"Saya Kinan, Mbak. Mbak siapa?" tanya Kinan sopan. Tak lupa gadis ini juga mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan.


Spontan, Kinan yang selama ini menaruh hati pada Lutfi pun gugup. Dengan cepat gadis itu pun menarik tangannya dari genggaman Safira.


"Oh, maaf, Mbak. Saya nggak tahu kalo Mas Lutfi punya istri," jawab Kinan salah tingkah.


"Nggak pa-pa. Selama ini saya kerja jauh, jadi maklum kalo kamu nggak kenal. Ngomong-ngomong makasih ya makananya buat anak sama suami saya. Besok-besok nggak usah repot-repot. Saya sudah masak kok!" jawab Safira pedas.


Tak ayal, Kinan yang sedari tadi gemeteran karena merasa kecewa, langsung berpamitan.


"Kinan pulang dulu, Mas!" ucap Kinan izin.


Lutfi tak mungkin mencegah, sebab Safira terus menatap gadis itu dengan tatapan tajam. Lutfi tak ingin mempersulit Kinan. Sebab ia sendiri paham bagaimana perasaan Kinan saat ini.


Selepas kepergian Kinan, Safira pun menatap tajam ke arah Lutfi. Dan meminta pria itu untuk menjelaskan siapa gadis itu.

__ADS_1


"Katakan padaku, siapa gadis itu?" tanya Safira marah.


"Untuk apa kamu tanya soal dia, bukankah kamu bilang tak mau peduli dengan kehidupan pribadiku?" pancing Lutfi santai.


Safira tak kuasa menjawab ucapan tersebut. Karena ia memang pernah berkata semikian. Namun, tak dipungkiri bahwa saat ini hatinya tersayat perih, entah apa masalahnya.


"Jadi selama ini kamu makan dikasih-kasih sama cewek-cewek genit itu?" tanya Safira, suaranya terdengar serak, seperti menahan sesuatu.


"Mereka yang kasih, aku nggak minta!" jawab Lutfi santai.


"Kamu ngeselin!" ucap Safira sambil menghentakkan kakinya marah. Lalu, untuk meredam kekesalahnya, Safira pun memilih pergi meninggalkan pria menyebalkan itu. Sedangkan Lutfi tersenyum. Karena ia yakin pasti terjadi sesuatu dalam hati sang istri.


***


Zein ingin sekali mendiskusikan masalah ini dengan Juan atau pun Rehan. Karena menurutnya, dua sahabatnya itu ia yakini memiliki pemikiran yang lebih dewasa di banding dirinya.


Namun, Zein masih bingung bagaimana cara menyampaikan apa yang ia pikirkan ini kepada kedua sahabatnya tersebut.


Yang Zein takuti bukan apa, dia takut kalo kedua orang tuanya itu menyuruhnya untuk meminta hak asuh atas Berliana. Sedangkan dirinya tidak melakukan itu karena takut jiwa sang putri terguncang.


Zein tidak ingin Berliana bingung siapa sebenarnya ayah kandungnya. Kenapa ayahnya ada dua? Kenapa oma opanya banyak? Dan masih banyak lagi kekhawatiran Zein.


Intinya, Zein hanya tidak ingin jiwa Berliana menjadi labil karena masalah yang seharusnya belum boleh ia hadapi. Zein hanya ingin memendam ini sendiri. Ingin menyembunyikan ini sendiri. Sampai Stella dan Juan mau membuka perihal ini kepada putri mereka. Bahwasannya dialah ayah kandung gadis itu.


Zein berjanji akan berjuang untuk sabar. Lalu, kenapa Tuhan membuka masalah itu sekarang. Kenapa harus sekarang kedua orang tua itu tahu rahasia ini? Kenapa tidak nanti, ketika Berliana, dirinya dan juga ayah ibu dari bocah tersebut siap.


Sungguh, jika boleh jujur, Zein tidak suka keributan. Zein sama sekali tidak ingin keributan. Cukup sudah bayinya pernah menjadi sumber masalah dalam rumah tangga sang sahabat dan mantan istrinya. Zein tidak ingin masalah itu terulang kembali.


Bersambung...


Yuk kepoin karya temen aku... keren abis lohh🥰🥰🥰

__ADS_1



__ADS_2