
Tak ada perbincangan yang berarti antara dua sejoli ini. Vita sibuk dengan jalanan yang ada di depannya. Sedangkan Zein sibuk dengan ponselnya. Meskipun sebenarnya mereka sama-sama tidak nyaman dengan posisi mereka saat ini.
Seprofesionalnya seseorang, jika memiliki masalah pribadi, tetap saja. Suasana canggung, kesal dan ingin memaki pasti hadir. Itupun yang terjadi dalam hati Vita. Andai saat ini dia kesempatan untuk mencekik pria ini. Andai saat ini ia tidak berada di jam kerjanya. Mungkin Vita akan mengobrak-abrik pria yang kini duduk dengan penuh kenyamanan di kursi penumpang bagian belakang mobil yang sedang ia kendarai.
Zein yang paham dengan perasaan Vita, sebab itu ia enggan banyak bicara. Pria ini memilih diam dan berbincang via chat dengan beberapa klient yang bersedia bekerja sama dengan perusahaannya. Zein tidak peduli jika seandainya setelah ini Vita meminta berhenti kerja padanya. Zein tak akan mencegahnya. Mau bagaimanapun ia juga kurang nyaman bekerja, jika yang menjadi partner-nya adalah orang yang tak menyukainya.
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya mereka pun sampai di hotel tempat mereka akan meeting bersama klient-klient. Vita masih bersikap profesional. Membukakan pintu untuk pria yang menjadi bosnya kali ini. Tanpa bicara sepatah katapun. Vita hanya diam dan melaksanakan tugasnya dengan baik.
Dari situ, timbulah sikap iseng Zein untuk memberi pelajaran pada gadis pemarah ini. Zein hanya melirik lucu pada gadis yang mirip dengan mantan istrinya itu. Di susunnya rencana untuk membuat gadis ini semakin kesal padanya. Vita memang profesional, sama seperti asisten-asisten pada umumnya. Namun, entah mengapa? Baginya asisten pemarah nya ini lebih menggemaskan.
Awas saja kamu kalau masih diam, lihat saja nanti! batin Zein mengancam. Lalu, tanpa banyak bicara, pria ini pun membetulkan jasnya. Kembali melirik sang asisten, tak lupa senyum sinis dan licik ia kembangkan. Sebab ia telah memiliki rencana untuk membuat gadis yang kini menjelma menjadi asisten nya ini semakin kesal padanya.
Di sisi lain, seperti asisten-asisten pada umumnya. Vita pun berjalan di belakang Zein. Sedangkan Zein seperti sengaja. Ia yang tahu Vita memiliki kaki yang pendek, sengaja mempercepat langkah kaki jangkungnya. Bermaksud membuat gadis ini kesusahan. Kesusahan mengimbangi langkah kakinya.
Zein berhasil, Vita pun kewalahan menginbanginya. Terlihat beberapa kali gadis ini berlari kecil. Namun, amarah dan gengsi yang terlalu tinggi. Membuat Vita memacu sendiri semangatnya untuk mengimbangi langkah pria yang menjengkelkan ini. Tidak mau kalah. Tidak mau ketinggalan. Sedangkan Zein yang menyadari kesuksesan tujuannya hanya tersenyum dalam hati.
Memang, saat ini mereka sedang berperang ego dalam pikiran. Berperang profesionalisme dalam diam. Mereka sama-sama memiliki harga diri yang tinggi. Sehingga tak ada satupun yang mau mengalah.
__ADS_1
Bagi Vita Zein hanyalah laki-laki biasa yang tak akan sanggup menaklukkan sikap profesionalnya. Sedangkan Zein yakin, dengan kekuasaan yang ia miliki, pasti dia mampu membuat Vita menangis darah karena jengkel dan akhirnya menyadari siapa diri dan bagaimana posisinya di perusahaan yang ia pimpin. Zein hanya ingin Vita bicara padanya. Menghormatinya. Terlepas dari masalah pribadi yang sedang menerpa mereka.
Kini mereka telah berada di dalam ruang rapat yang telah disediakan oleh pihak hotel. Vita duduk di samping Zein. Seperti asisten-asiaten pada umumnya. Menyiapkan seluruh peralatan kerja termasuk tab dan juga berkas-berkasnya. Zein yang jahil tentu saja kurang puas jika tidak menguji gadis yang terlihat kesal dan enggan peduli dengannya tersebut.
Zein berpikir keras. Mencari kesalahan yang mungkin bisa ia manfaatkan untuk menguji gadis ini. Sedetik kemudian, mata Zein menangkap paha mulus Vita. Seketika ide pun mengalir begitu saja. Dengan keisengannya pria ini tak menunggu waktu lagi. Ia pun langsung meluruskan tujuannya.
"Besok jangan pakai rok, aku tidak suka melihat sekertarisku memakai rok. Genit sekali sih!" bisik Zein, dengan nada ketus. Seperti sengaja memancing emosi gadis ini. Karena memang sengaja memancing emosi Vita. Bukan hanya bisikkan. Mata tampannya juga ia manfaatkan, agar terkesan nakal di mata Vita.
Terang saja, melihat mata kurang ajar Zein yang menatap bebas pahanya membuat Vita salah tingkah dan segera menutup paha itu dengan map yang tidak terpakai.
"Kamu mau menggoda siapa di sini? Ini ruang rapat! Bukan ajang pamer paha!" bisik Zein lagi. Tentu saja, kalimat kedua yang Zein lontarkan sukses menendang harga diri Vita sebagai gadis baik-baik.
"Tidak? Aku hanya menyampaikan ketidaksenanganku. Di sini nanti ada beberapa eksekutif-eksekutif muda yang mungkin akan menggodamu. Dan aku tidak suka aja suasana kerja seperti itu atau mungkin kamu memang sengaja," jawab Zein santai.
Vita hanya mendengarkan, enggan membalas pemikiran konyol sang mantan kakak ipar. Baginya Zein tidak jauh berbeda dengan para pria yang katanya penggoda itu. Jika dia bukan penggoda juga, mana mungkin dia punya pemikiran kotor seperti itu.
"Nggak usah marah kali! Aku kan cuma mengutarakan apa yang aku tahu!" ucap Zein lagi. Vita hanya melirik kesal.
__ADS_1
Sepertinya Zein kurang puas jika Vita hanya menjawab ocehannya dengan lirikan. Meskipun lirikan yang Vita tujukan bermakna ingin membunuh. Beberapa anggota rapat telah datang. Tak mungkin Zein melanjutkan keisengannya dengan suara langsung. Ia pun tak kurang akal. Ditulisnya apa yang hendak ia ucapkan. Di dalam pesan teks, lalu mengirimnya lewat pesan teks ke ponsel milik gadis sasaran keisengannya.
"Kamu nggak pernah kerja ya? Nggak bisa menghargai atasan banget?" tulis Zein di dalam pesan teks tersebut.
Kali ini Vita pun terpancing. Andai di depan mereka tak ada orang, mungkin dia sudah menggebrak meja dan mengajar pria cerewet ini dengan ilmu bela diri yang ia miliki.
Beruntung di sana sudah ada beberapa peserta rapat. Sehingga mau tak mau Vita harus tetap menahan diri. Menahan diri agar jangan sampai amarahnya meledak. Sebab jika itu terjadi, maka Vita sedang mempermalukan dirinya sendiri. Menjatuhkan harga dirinya sendiri.
"Bisa nggak Bapak diam dan fokus saja pada materi rapat!" balas Vita dalam pesan teksnya.
Bukannya mereda. Zein kembali membalas pesan yang Vita kirim untuknya. "Biasa aja kali! Kan aku cuma nanya. Kamu belum pernah kerja ya? Nggak bisa menghargai atasan banget? Dari tadi cuma diem? Kayaknya ada yang nggak beres dengan ketua HRD. Masak nyariin aku asisten bisu begini. Minta dipecat tu HRD bodoh," tulis Zein lagi.
Kali ini pesan ini sanggup membakar hati Vita. Vita yang baik hati, tak mungkin tega memberikan masalah pada orang yang tidak bersalah. Dengan cepat ia pun membalas pesan teks itu.
"Dasar pria gila! Kalau ada mau pecat, pecat saja saya!" tulis Vita kesal. Sayangnya semua anggota rapat telah hadir. Sehingga Zein menunda membaca pesan tersebut.
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih atas like komen dan Votenya... lope kalian semua🥰🥰🥰🥰