PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
REHAN SHOCK


__ADS_3

Juan tengah asik bercengkrama dengan Rehan. Meskipun ia sempat geram karena sesuatu yang ia inginkan hampir ia dapatkan lepas begitu saja akibat ulah menjengkelkan sahabatnya ini.


Pria ini seolah tak punya dosa, ia terus saja mengajak Juan bercengkrama. Padahal apa yang mereka bicarakan unfaedah.


"Udah tidur sana, ngapain malam-malam telepon nggak jelas gini. Udah, aku mau sayang-sayangan sana istriku. Dasar penggangu!" ucap Juan kesal.


Di seberang sana terdengar Rehan terkekeh.


"Eh, tunggu dulu... ayolah Bro, temenin aku ngobrol. Kalau aku gangguin bos Zein yang ada aku digantung di pohon cabe. Kalau ama kamu paling disuruh kawin, ye kan. Cariin dong cewek, satu aja. Tapi yang mau ama anakku juga, sepaket bilangnya!" balas Rehan masih dengan tawa renyahnya.


"Dasar edyan, bukanya situ yang sering nongkrong di tempat para cewek-cewek. Napa jadi suruh aku nyariin. Mau sama Nafa?" ledek Juan, tentu saja Juan mau menawarkan Nafa, sebab hanya gadis lugu itu yang menurut Juan cocok menghadapi sikap konyol Rehan.


"Ogah, bocil. Dia kasih ke Gani aja!" canda Rehan.


"Lagian aku juga nggak bakalan kasih dia ke buaya kek kamu. Adikku satu-satunya itu," balas Juan kesal.


"Masih sekolah kan dia?" tanya Rehan.


"Iya hari itu kejar paket, ini mau kuliah desain. Makanya dia kerja terus. Bagus sih, anaknya semangat belajar. Makanya aku nggak sayang kasih dia beasiswa." Juan menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil memijat keningnya yang sedikit pening karena lapar akut.


"Syukurlah kalau gitu. Aku juga lagi puyeng ni," balas Rehan, pria ini terdengar menguap.


"Puyeng apa lagi, carilah obat puyeng biar nggak oleng kamu!" ledek Juan. Lagi-lagi Rehan hanya terkekeh.

__ADS_1


"Bro, kamu jangan bikin adik kecilku tidur mendadak. Ini tadi mau main petak umpet, malah kamu nelpon. Nggak sopan banget sih. Udah sana tidur kamu. Udah tahu kawannya udah nggak bujang. Nelpon tengah malam buta gini" gerutu Juan kesal.


"Ya kan sengaja, Bro. Biar kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan." Rehan terkekeh. Juan mengumpat kesal.


Di sela-sela panggilan mereka terdengar suara Stella berbicara.


"Makanan siap, ayo keburu dingin," ucap Stella sembari mengelus pundak Juan.


Merasakan tangan sang istri ada di pundaknya, Juan pun meraihnya dan menggenggamnya mesra. Menciumnya lembut. Membuat sang empunya tangan merinding.


"Sebentar ya Mam, aku usir pengganggu satu ini dulu," ucap Juan. Stella hanya tersenyum.


"Eh, Bro aku mau makan, udah dulu ya besok lagi," pinta Juan.


"Makanya kawin, indahnya kawin. Dah ah, aku mau makan, bye!" Juan terkekeh, hendak memutus sambungan telepon, tetapi Rehan malah berteriak.


"Tunggu woy!" teriak Rehan.


"Apalagi, astaga. Keburu dingin makananku, bisa ngambek ibu bos," ucap Juan sembari melirik Stella yang masih ia genggam tangannya.


Bukanya menuruti Rehan malah sengaja mengalihkan panggilannya menjadi Video call. Tak ada pilihan lain bagi Juan selain menyambut permintaan Rehan. Stella yang tahu panggilan itu berpindah jadi Video Call ia pun enggan menganggu dan memilih meninggalkan Juan.


Juan yang paham jika istrinya kurang nyaman dengan temannya, langsung mengikuti langkah sang istri dan duduk di meja makan di mana makanan untuknya sudah siap saji.

__ADS_1


"Ngapain sih lo, udah sana. Ni lihat aku mau makan. Mau nglihatin aku makan?" ucap Juan sembari menunjukkan makanan yang telah tersaji untuknua. Sedangkan Stella beralih ke tempat penyimpanan air minum dan mengambilkan minum untuk sang suami.


"Ya nggak pa-pa. Kan kita pren," jawab Rehan, sepertinya ia memang sengaja membuat Juan kesal.


Juan tak peduli, ia pun menaruh ponselnya di depannya dan mulai memakan hidangan yang di siapkan sang istri.


"Ini minumnya," ucap Stella.


"Makasih Mam," jawab Juan. Stella tersenyum.


Di sebrang sana Rehan yang mendengarkan kemesraan antara Juan dan istrinya. Membuat pria ini sedikit naik darah.


"Udah ah, Bro. Makin panas aku lihat kemesraan kalian," gerutu Rehan.


"Siapa suruh? Dari tadi udah dibilangin. Tutup telpon tutup telpon masih aja ngeyel. Lihat temennya bahagia panas kan lo, aneh, " balas Juan tanpa rasa berdosa.


Setelah berpamitan Rehan pun memutuskan panggilan mereka. Sekarang tinggalah Stella dan Juan yang sedikit memiliki rasa kurang nyaman akibat dari kemesraan mereka yang gagal. Seperti malu, malu tapi mau. Seperti ingin tapi takut. Entahlah.


***


Di seberang ruang yang lain ada Rehan yang shock dengan apa yang dia lihat di layar kaca ponselnya. Pria ini iseng Men-sreenshoot foto seseorang yang berada di belakang Juan. Beruntung ponsel dimiliki Juan memiliki fitur kamera yang lumayan canggih. Sehingga hasil tangkapan layarnya jelas.


Shock, hanya kata itu yang mampu mendeskripsikan apa yang ada di otak Rehan. Wanita yang ada di rumah Juan ternyata adalah Stella dan wanita itu adalah wanita yang diakui Juan sebagai istrinya. Rehan tak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2