
Zein tak menyangka jika Luis akan memintanya untuk memesan tiket. Restoran mewah dan juga hotel untuknya dan juga sang Oma. Ini adalah rencana dadakan yang cukup mengejutkan untuknya. Sebab, yang ia tahu, bahwa saat ini Luis sedang berjuang mendapatkan restu untuk menikahi gadis idamannya.
Kabar yang Zein Terima, nyantanya sanggup membuat pria ini pecah konsentrasi. Apa lagi, rencananya besok Luis memintanya untuk mencarikan tiket dan Hotel untuknya. Luis akan datang ke kediaman Juan. Guna melamar Vita, sang kekasih hati.
Sungguh, saat ini, detik ini, hatinya kembali tertampar. Sebab ia seperti seorang pengecut yang kalah sebelum berperang. Membunuh cintanya sendiri, sebelum memulai. Predikat pecundang sepertinya sangat cocok untuknya.
Zein tersenyum kecut ketika mengingat kelemahannya. Dulu ketika ia mengejar Stella. Ia begitu berani. Lalu, ketika ia jatuh cinta pada Vita, kenapa jadi seperti krupuk yang masuk ke dalam kolam ikan. Astaga, Zein ini sungguh memalukan. Tetapi ia tak berdaya. Ia tak ingin memaksakan apa yang seharusnya tidak terjadi.
Zein kembali membuka pesan teks yang dikirim oleh sang atasan. Mendapatkan perintah dadakan tersebut, akhirnya ia pun segera membatalkan niatnya untuk kembali ke Jakarta. Sebab ia juga ditugaskan untuk menjemput sang bigbos dan juga wanita tua kesayangannya.
"Zein, jangan lupa, siapakan tempat teromantis yang ada di kota itu ya. Aku ingin selepas acara lamaran, aku mau bawa dia melihat bintang dari ketinggian," tambah Luis bersemangat.
"Baik, Pak!" jawab Zein sembari mencatat apa saja yang bosnya perintahkan.
"Satu lagi, cari info tentang resto vegetarian. Kita harus memprioritaskan ibu ratu kita, jika tidak kita berdua pasti kena pecat, Zein!" ucap Luis, bermaksud mengajak Zein bercanda. Agar ia bisa menguasai dirinya. Agar dia tidak gugup tentunya.
"Siap, Pak. Laksanakan!" jawab Zein. Suaranya terdengar renyah. Seperti ikut bahagia dengan kebahagiaan yang kini bosnya rasakan.
Namun, sepandai-pandainya seseorang menyembunyikan luka. Tetap saja, ada saja yang mencurigainya. Seperti sekarang ini. Seseorang yang ada di sampingnya menangkap ada yang lain darinya. Itu sebabnya, ia pun bertanya.
"Zein!" ucap Wanita paruh baya itu.
"Ya, Ma. Ada apa?" tanya Zein pada ibu sambungnya.
"Apakah Mama tidak salah lihat? Kenapa Zein nangis? Apakah Zein sedang ada masalah?" tanya Laila lembut. Sikap keibuannya begitu nyata Zein rasakan. Entahlah, bukan berniat membandingkan. Tetapi, Widya dengan Laila sungguh jauh berbeda.
"Nggak ada, Ma. Zein oke!" jawabnya singkat.
Tetapi, Laila percaya dengan penglihatannya. Ia adalah ibu. Cara melihatnya juga berbeda. Laila melihat jelas kesedihan itu, sebagai seorang ibu.
__ADS_1
"Zein, putraku. Putra terbaik Mama. Apakah kamu percaya kalo Mama sangat sayang pada Zein?" tanya Laila lembut. Lagi-lagi suara wanita itu sanggup meluluh lantahkan benteng pertahanan pria tampan ini.
"Zein percaya, Ma!" jawab Zein lagi. Singkat, sebab ia tak bisa berucap panjang lebar. Ia takut tak bisa mengendalikan dirinya. Lalu menceritakan semuanya. Tanpa terkecuali. Zein takut jika perasaan anehnya ini akan di ketahui dan disadari oleh banyak pihak. Yang artinya, itu adalah bunuh diri baginya.
"Kalo kamu nggak mau cerita sekarang, nggak pa-pa. Nggak masalah. Yang penting Zein harus yakin, kalo mama, papa, dan Fira sayang sama Zein. Mengerti!" ucap Laila sembari tersenyum tulus.
Zein juga membalas senyuman itu dengan senyuman tak kalah tulus. Meskipun saat ini hatinya hancur berkeping-keping. Menyesali ketidak berdayaannya. Menyesali kebodohannya, mencintai seseorang yang tidak seharusnya. Apapun itu, bagi Zein ini adalah kebodohan terbesar dalam hidupnya.
Namun, Zein tulus mencintai Vita. Ia ikhlas. Akan berusaha selalu ikhlas. Zein berjanji tidak akan pernah mengusik Vita dengan rasa yang ia miliki. Justru ia akan terus mendoakan gadis. Agar bisa mencapai bahagianya.
***
Di sebuah rumah sakit, tepatnya di ruang rawat anak. Terlihat seorang pria sedang menggendong seorang bayi dengan kondisi yang cukup memprihatinkan.
Gadis cilik tersebut mengalami trauma hingga badannya panas tinggi. Terlihat ia hanya menangis dan terus menangis. Hingga Lutfi sendiri, sepertinya mulai lelah dan terlihat meneteskan air mata.
"Fi," ucap Safira sembari mengelus pelan pundak bapak satu anak tersebut.
"Eh, sorry," balas Lutfi, suaranya terdengar serak. Terlihat jelas, jika ia sedang menahan sesuatu.
"Yang sabar, sini coba aku bantu!" pinta Safira sembari meletakkan tas sekaligus barang-barang yang ia bawa.
"Nanti ngrepotin, Ibu duduk saja," tolak Lutfi lembut. Bukan melarang, hanya saja ia merasa sedikit kurang nyaman sebab sang baby dalam keadaan tidak bersih. Alias masih berkeringat.
"Nggak apa-apa. Sini!" pinta Safira sembari melepaskan ikatan selendang yang ada di pundak pria tampan ini.
Setelah mendapatkan bayi itu, Safira pun tahu kenapa baby cantik ini rewel. Pasti baby cantik ini merasa badanya lengket dan kurang nyaman.
"Ada baju ganti nggak buat si cantik ini?" tanya Safira.
__ADS_1
"Ada, sebentar," jawab Lutfi sembari mengambil tas milik baby Naya.
"Ini," jawab Lutfi sembari menyerahkan tas itu pada Safira.
"Oke mari kita ganti baju adek cantik ini, biar nggak lengket lagi." Safira merebahkan baby cantik yang menangis itu. Lalu mulai membuka kancing-kancing baju yang menurutnya membuat gerah bayi imut ini.
"Memangnya Ibu bisa gantiin baju dia?" tanya Lutfi menyangsikan kehebatan Safira.
"Kerjaan kelihatan kok nggak bisa, aneh kamu," balas Safira, terdengar sedikit ketus tapi Safira benar-benar melakukannya. Tanpa merasa jijik. Secara Lutfi tahu jika majikannya ini adalah seorang putri. Sedangkan dirinya hanyalah pelayannya, pekerjanya.
Lutfi hanya memerhatikan apa yang Safira lakukan. Mengelap tubuh bayi cantik itu. Lalu menganti pokoknya yang telah penuh. Namun, ketika hendak mengeringkan tubuh bayi mungil ini, Safira tidak menemukan handuk.
"Handuknya mana, Lutfi?" tanya Safira sembari mencari.
"Sepertinya mbaknya lupa bawa, Bu," jawab Lutfi sembari ikut mencari.
"Eh, di tas gymku kayaknya ada handuk bersih, tolong kamu ambil. Itu yang warna pink," ucap Safira sambil menunjuk tas yang ia taruh di ranjang samping tempat mereka berada.
"Ini, Bu!" Lutfi meletakkan tas itu di samping Safira. Lalu wanita cantik ini pun segera mengambil handuk kecil miliknya.
Tak menunggu waktu lagi, ia pun langsung mengeringkan kulit baby cantik itu dengan handuk kecil miliknya.
"Bu, apakah tidak apa-apa, handukmu di pakai putriku?" tanya Lutfi tidak nyaman.
"Nggak apa-apa. Kenapa emang! tadi rencananya aku mau ngegym, eh sama mama suruh mampir ke sini. Suruh jenguk baby cantik ini. Ternyata benar, dia cantik sekali. Menggemaskan, lucu," jawab Safira sembari menggelitik lucu perut baby Naya yang mulai tenang ini.
"Nah, udah harum. Udah bersih. Udah cantik. Sembuh ya nak. Jangan sakit-sakit lagi, kasihan ayah. Manggil kamu ayah kan, Fi?" tanya Safira, supaya tidak salah.
"Iya, Bu. Masak om. Kan saya bapaknya." Lutfi tersenyum, sedangkan Safira hanya menciutkan matanya kesal. Sedetik kemudian mereka saling melempar senyum malu-malu. Sampai bingung apa yang harus mereka bahas.
__ADS_1
Bersambung...
Like like like jangan lupa๐