
Zi tak ingin mengambil keputusan terburu-buru. Ia pun memutuskan untuk mengurung diri di kamar tempat tinggal yang masih diperuntukkan oleh pihak rumah sakit untuknya.
Ya, Zi kembali ke tempat sebelum ia menjadi istri Zein. Beruntung, pihak rumah sakit belum mencabut haknya tersebut. Sehingga Zi masih memiliki tempat selain tempat yang memberinya rasa nyaman, namun pada akhirnya memberinya tatu itu.
Cidro ati tidak bisa Zi ingkari. Menangis sudah pasti. Wanita ini menangis menjadi-jadi di kamar itu. Zi tidak peduli dengan orang-orang yang mungkin menganggapnya aneh. Tapi inilah dia, Sedang terluka, sedang merana, sedang dirundung derita karena cinta.
Di sela-sela tangisnya, Zi kadang juga tertawa. Menertawakan dirinya sendiri. Kenapa begitu bodoh dan mudah terlena.
Lalu jika sudah begini, dia bisa apa. Mengandung ... tapi malah ditinggal suami bersama wanita lain. Bukankah itu suatu kebodohan yang luar biasa.
Ya, Zi memang telah tertipu soal rasa. Rasa yang ia pikir hanya untuknya, rasa yang ia pikir hanya untuknya, ternyata rasa itu hanya angan semata, bukan miliknya.
Zi kembali tertawa dalam sela tangisnya. Menertawakan kenyataaan yang kini ia hadapi, merasa lucu dengan hidupnya. Ternyata, dirinya adalah songok manusia yang hanya boleh hidup sendiri. Tak ada yang boleh menemaninya. Apalagi yang mengatasnamakan cinta. "Ohhh ... itu sama sekali tidak boleh," gumam wanita cantik ini sembari mengeleng-geleng geli sendiri.
Zi menatap jendela kamar yang ia tutu rapat itu. Angin sepoi-sepoi yang menerpa gorden itu seperti mengisyaratkan padanya untuk tegar. Untuk tetap berdiri tegak menatap masa depannya. Zi tidak boleh menyerah. Apalagi saat ini ada calon baby yang harus ia jaga.
Zi memang gagal mempertahankan prinsipanya, selama ini dia begitu kuat menjaga hatinya. Membentengi hatinya tersebut, agar jangan sampai jatuh cinta.
Selama ini Zi selalu berhasil membintangi dirinya sendiri agar tidak jatuih cinta. Karena ia tahu mana ada yang mau mencintai dirinya dengan keadaan seperti ini.
Orang tua tidak punya, adik meninggal karena ia tak mampu membayar biaya rumah sakit. Lalu, ia pun tak memiliki tempat tinggal. Hanya fasilitas yang diberikan rumah sakit di mana ia bekerjalah, makanya ia bisa punya tempat berteduh tanpa membayar sewa.
"Zi ... Zi ... mimpimu terlalu tinggi, Sayang. Lihat kan sekarang ... lihat kan? Cinta itu tidak ada, Honey. Lalu ngapain kamu capek-capek membuang waktu percuma hanya untuk mengharapkan sesuatu yang tidak tercipta untukmu. Ohhh ... ayolah, Baby, come on... hapus air matamu. Jangan menangis lagi! " Zi tersenyum kecut, lalau di detik berikutnya tangisnya kembali pecah.
Wanita ini benar-benar berada di fase terendahnya. Terhempas oleh kapal yang membawanya berlayar. Lalu tenggelam dalam lautan lepas.
Zi memang tidak kan pernah tahu, ke mana air dan angin itu akan membawanya. Namun dia yakin, pati Tuhan akan menjaganya dan membawanya kermbali ke darat. Entah bagaimana caranya. Yang jelas Zi percaya, bahwa Tuhan tidak akan meninggalkannya.
Zi beranjak dari tempat duduknya. Mengintip ke jendela kamar. Terlihat air hujan kembali menyerang bumi. Namun bumi tidak pernah marah pada air hujan tersebut. Bahkan bumi malah menyerap air itu dan menyimpan rapi butiran-butiran air tersebut.
Dari sana Zi belajar, bahwa setiap masalah tidak harus di sesali, di telan mentah-mentah. Semua pasti ada hikmahnya. Contohnya sekarang ini. Zein memilih wanita lain di banding dirinya. Mungkin, Zein memang bukan pria yang baik untuknya.
Sayangnya, ia tahu bahwa Zein bukanlah pria yang tepat untuknya di saat ia sudah jatuh cintab pada pria itu. Bahkan saat ini, ia telah mengandung adak dari pria jahat itu.
__ADS_1
Zi tersenyum dalam diam. Hatinya terasa teremas. untuk menyamarkan rasa itu, Zi pun menghirup napas dalam-dalam. Lalu mengembuskannya perlahan, Zi mencoba menghibur diri dengan menatap air hujan yang terus berjatuhan tanpa henti itu.
"Percayalah, tanpanya kamu pasti bisa. Ayo Zi, kembalilah ke titik di mana kamu bisa berdiri tanpa orang lain. Kembalilah ke titik di mana tidak ada seorang pun yang berani menyentuhmu. Kembalilah di mana tak ada seorang pun yang berani menjatuhkan harga dirimu. Air matamu terlau berharga untuk pria yang tidak menghargai komitmen. Zi kamu pasti bisa," ucap Zi mencoba menguatkan dirinya sendiri.
Tak ingin di ganggu oleh siapapun, Zi pun mematikan ponselnya. Zi ingin menenangkan diri. Menghilang sementara dari keributan yang menurutnya tidak ada manfaatnya baginya.
***
Seperti sudah mendapatkan firasat, Safira berkali-kali menghubungi kakak ipar nya tersebut. Entahlah, Safira hanya merasa pasti terjadi sesuatu yang tak beres pada hubungan abang dan juga kakak iparnya.
Kecurigaannya itu terbukti ketika ia tak bisa menghubungi keduanya. Membuat Safira semakin merasa tak nyaman.
"Kenapa gelisah begitu, Bun? Ayolah masuk, angin malam nggak baik untukmu," ajak Lutfi sembari menggandeng tangan sang istri dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Mas, kamu bisa nggak telpon abang?" tanya Safira tiba-tiba.
"Bisa, barusan abang ngobrol sama abang," jawab Lutfi jujur.
"Nggak tahu ya, kata abnag dia lagi nggak di rumah tu. Kayaknya di apartemen deh," jawab Lutfi lugu, seperti memang tidak mencurigai sesuatu.
"Apartemen? Kenapa nggak pulang ke rumah?" tanya Safira curiga.
"Ih, mulai deh, Bunda! Kata abang kak Zi jaga malam, percum,a juga pulang. Sama-sama tidur sendiri," jawab Lutfi sesuai dengan jawaban yang Zein berikan ketika ia bertanya demikian.
"Ohhh, kirain," jawab Safira lega. Jika Zein menjawb demikian, berarti tidak terjadi apapun pada hubungan kakak dan juga kakak iparnya tersebut.
"Emang ada apaan sih, Bun?" tanya Lutfi merasa aneh.
"Ah, nggak ... mungkin ini karena Fira telat dsatang bulan aja, jadi curigaan begini," jawab Safira asal.
"Ohhh!" Lutfi diam sesaat. Kembali memikirkan ucapan sang istri yang mengatakan telat datang bulan.
"Eh, Bun!" Lutfi menatap aneh pada sang istri.
__ADS_1
"Ya...."
"Bunda tadi bilang telat ya, jangan-jangan.... Naya mau punya adek, Bun," ucap Lutfi.
Safira berdecak santai, lalu ia pun menjawab, "Sayangnya belum, Bunda udah tes," jawab Safira jujur.
"Baiklah...." Lutfi terlihat tertunduk lemas. Padahal ia sudah sangat berharap. Bawa sang istri segera hamil.
"Sabar ya, mungkin kita belum di percaya, mungkin kita suruh gedein Naya dulu. Nanti kalau baby kita itu uudah gede, barulah kita bisa dipercaya punya baby," jawab Safira smbil mengecup manja bibir sang suami. Sedangkan Lutfi hanya tersenyum manja. Mencoba mengerti dengan apa yang sang istri ucapkan.
***
Berbeda dengan Zi yang patah hati karena cinta. Kini ada Vita yang mencoba membicarakan hubungannya dengan Zein bersama sang kakak.
"Kamu yakin dengan Zein?" tanya Stella khawatir.
"Yakin, Kak," jawab Vita.
"Bukannya Kakak nggak suka atau bagaimana, tapi kamu kan tahu keluarga mereka seperti apa. Kamu tahu ayahnya dia itu keras, Vit. Tanpa sengaja kamu pernah membuat putra mereka cidera sampai nggak bisa jalan, kamua yakin keluarga mereka kan kasih restu," ucap Stella mengingatkan.
"Itu yang sedang kami perjuangkan, Kak. Kami ingin hubungan kami ini mendapatkan restu dari semua keluarga. Dari keluargaku maupun keluarganya. Dan Vita mohon, tolong restui hubungan kami," pinta Vita memohon.
"Sekali lagi, Kakak tekankan, bahwa kakak tidak akan menghalangimu untuk menjalin hibungan dengan siapapun. Namun, pikirkalah baik buruknya hubunganmu dengannya nanti," Stella menatap sang adik mencoba membuka pikiran adiknya ini agar kembali mempertimbangkan apa yang memang harus dipertimbangkan.
Stella hanya tidak ingin sang adik menyesal dikemudian hari. Mengingat perangai Zein yang keres dan Vita yang tidak mudah mengalah. Stella hanya tidak mau mereka kembali menciptakan kehebohan di antara dua keluarga lagi. Bukankah ketika kecelakaan yang menimpa Zein waktu itu sudah cukup membuktikan bahwa keluarga mereka tidak mudah di ajak menjalin sebuah hubungan.
"Haruskah aku bertanya kepada Fira tentang penilaian kedua orang tuanya kepada kita, Kak?" tanya Vita.
Stella diam sesaat, lalu ia pun memberikan jawabannya,"Ya kamu bisa mencari tahu dari sahabtmu itu. Dan jika penilaian mereka tidak baik tentangmu dan nantinya malah akan menjadi bomerang dalam hubungan kalian, sebaiknya jangan. Karena pernikahan bukanlah mainan Vit, yang hari ini nikah besok cerai. Menikah itu harus seumur hidup. Jangan lah berhubungan dengan pria yang mudah mengucapkan kata pisah hanya karena masalah yang sebenarnya bisa di bicarakan baik-baik. kakak hanya tidak mau kamu mengalami masalah yang sama seperti yang kakak alami," ucap Stella mencoba membuka pandangan Vita tentang Zein.
Bukan ingin mempengaruhi, namun itu adalah realita yang pernah Stella rasakan ketika menjalin hubungan dengan pria itu. Dan jujur, Stella berharap sebaiknya Vita memang menjauhi pria tersebut.
Bersambung ....
__ADS_1