
"Sorry, Bro sorry banget. Aku telat!" ucap Juan sembari menjabat tangan sang sahabat dan juga asisten pribadinya.
"Nggak pa-pa, kita ngerti kok. Gimana nyonya sehat?" tanya sahabat Juan.
"Baik, Alhamdulillah, tapi ya gitu, Bro. Namanya Bumil, suaminya salah dikit ngambeknya nggak ketulungan." Juan terkekeh. Begitupun sang sahabat dan kedua asisten mereka.
"Gan, kayaknya kamu mesti ke pusat deh, perwakilan dari Jakarta kamu yang kamu aja deh. Biar aku yang di sini!" Pinta Juan pada Gani sang asiten.
"Baik, Pak. Saya segera ke sana. Permisi semua!" jawab Gani, sembari berpamitan. Juan dan kedua tamunya pun mengizinkan.
Sepeninggal Gani, ketiga pria ini pun melanjutkan perbincangkan mereka.
"Gimana istrimu udah isi belum?" tanya Juan pada pria yang ia kenal sejak sama-sama kuliah.
Sang sahabat terlihat sedih, sebab ia tak tahu bagaimana caranya menceritakan keadaan yang ia alami pada Juan.
Melihat wajah muram pria itu, Juan pun tanggap. Dengan cepat ia pun segera meminta maaf.
"Sorry, Bro. Bukan maksudku untuk membuatmu sedih, kalau pun sekarang kalian belum dikasih. Jangan putus asa! rejeki itu nggak akan salah rumah! Aku juga nggak nyangka kok, istriku bisa cepat isi, " ucap Juan sembari terkekeh, sedikit bercanda agar suasana tak kaku.
"Kamu bikinnya ngebut kali!" canda pria itu.
"Setan! Ya enggaklah, kamu pikir aku apaan!" Juan melepar bantal sofa ke arah sang sahabat.
__ADS_1
"Heh, kayak aku nggak tahu kamu aja. Kalau udah makan cewek mana tahu waktu," sangah pria itu sembari melempar bantal sofa itu ke arah Juan.
"Nggak, Bro. Tobat aku dah," balas Juan.
"Yakin tobat, nggak percaya aku," Pria itu terlihat tersenyum.
"Dibilangin nggak percaya, kalau aku berani aneh-aneh bisa habis aku direbus ama nyonya. Pulang malem sekali aja doi ngambek. Hah! Susahnya berurusan ama calon emak!" Juan tersenyum manis, tentu saja ingatan tentang apa yang ia lalui tadi pagi bersama sang istri terlintas begitu saja. Membuat pria tampan ini tersenyum sendiri.
"Dasar bucin akud!" umpat sang sahabat.
Juan terkekeh. "Eh, ngomong-ngomong sekarang kamu ama istri tinggal di mana?" tanya Juan.
"Aku stay di Bali, Bro. Kadang-kadang juga di Jakarta. Tergantung kebutuhan. Oia, kamu kawin kok nggak ngundang-ngundang sih?" tanya Pria itu.
"Apaan, aku telepon kamu nggak bisa. Nggak pernah nyambung. Aku juga kirim pesan sama asisten kamu. Kirim email juga. Emang kamu, makan enak di makan sendiri," balas Juan kesal.
"Apaan, aku ada di Bogor. Tempatnya Salsa. Habis ke makam ibu, nginep di sono beberapa hari," jawab Juan jujur.
"Asem, tahu gitu aku jemput kamu." Mereka terkekeh.
Mereka terdiam beberapa saat. Juan memeriksa proposal yang dibawa sang sahabat. Yang berniat mengajaknya membangun bisnis bersama.
"Om Agus sama tante Wid, sehat Bro?" tanya Juan tiba-tiba.
__ADS_1
"Sehat, cuma ya gitulah. Kamu kan tahu hubunganku dengan mereka. Mereka mana mau tahu keadaan anaknya sih. Mau mati mau hidup juga bodoh amat," jawab pria itu sedih.
"Sabar, Bro. Namanya juga orang sibuk, tapi mereka sehat kan?" tanya Juan.
"Sehat, oia opa gimana, sukses operasinya?" tanya pria itu balik.
"Sukses, tapi nggak mau balik ke Indo. Roman-romannya punya gebetan di Shanghai." Juan terkekeh. Pun dengan kedua tamunya.
"Re, kamu kalah ama opanya Juan, beliau udah hampir 80 tahun, tapi masih bisa dapet gebetan loh," canda Zein pada Rehan, sang asisten.
"Kemarin udah ada yang klik, Bos. Eh lolos," balas Rehan dengan senyum khasnya. Juan dan Zein pun terkekeh. Menertawakan duda satu anak ini.
"Alasan, bilang aja belum bisa move on kan lu?" ejek Zein.
"Apanya yang mau dipertahanin, Bos. Doi udah sama pria yang lebih kaya. Lebih hebat, aku ma santai. Kalau jodoh nggak akan ke mana. Sekarang mikirin si inces aja, yang penting bisa makan. Besok mau janjan apa ada. Buat sekolah ada. Aku nggak mau mikir yang susah-susah, Bos. Jalani aja, biarkan ngalir apa adanya. Kalau pun aku harus berpasangan lagi, mungkinkah si wanita bisa menerima putriku. Kalau aku panjang, Bos. Nggak semudah yang masih single. Ya kan Pak Juan?" tanya Rehan, berusaha mencari dukungan.
"Kamu bener, Re. Santai aja, kalau udah jodoh mau bagaimanapun caranya pasti akan ketemu. Kalau nggak ya, gimana? Mau sekeras apapun kita berusaha pasti lepas juga." Entah mengapa, tiba-tiba suasana menjadi melo. Zein teringat kebodohannya melepaskan Stella. Rehab mengingat perjuangannya mempertahankan biduk rumah tangganya dan akhirnya gagal. Sedangkan Juan, tentu saja ia mengingat sang mantan kekasih yang meninggal saat itu. Sejenak susana hening. Ketiga pria satu generasi ini terlihat bergelut dengan pikirannya masing-masing.
"Ahhh, udah ah. Kerja-kerja. Malah ngomongin jodoh. Udah Jun, kalau bahas cewek nggak bakalan habis perkara. Mari kita cari cuan aja, biar gampang dapat cewek. Yok mulai yok!" ajak Zein berusaha mengalihkan perhatian dua pria sahabatnya ini. Agar ia pun juga bisa melupakan apa yang harus ia lupakan.
Bersambung....
Like komen dan sharenya ya.
__ADS_1
Gimana ya reaksi Zein kalau tahu, kalau istri sahabatnya adalah wanita yang selama ini ia cari.
Ayo like like like n Komen, biar aku semangat up...