PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
AURA KEMARAHAN ZEIN


__ADS_3

Di sudut ruang yang lain, ada Rehan yang saat ini sedang harap-harap cemas. Berharap Stella mengurungkan kepergiannya. Berharap rumah tangga Juan dan Stella baik-baik saja. Berharap Zein benar-benar sadar dan tidak tertidur lagi. Berharap Zein sembuh dari pederitannya.


Pria tampan ini berdiri tegak di depan ruang rawat Zein. Menungu para petugas medis menyelesaikan tugas mereka.


"Sabar, Mas. Zein pasti baik-baik saja," ucap Renata sembari mengelus lengan kekasihnya.


"Jujur aku stres dengan nasib mereka, Yang. Rasanya nggak henti-hentinya ujian menimpa mereka. Mbok ya sudah to! Biarkan mereka bahagia." Rehan menghela napas dalam-dalam pertanda menyesal.


"Husst, sembrono! Kalo masih bernapas itu tandanya masih hidup. Kalo masih hidup, ya harus siap menerima ujian. Mau nggak mau harus legowo. Mereka saja fine, kenapa masnya yang riweh," balas Renata kesal.


"Iya juga ya, tapi aku yang nglihatnya ini lo, Yang, capek. Jadi kasihan!" sanggah Rehan masih tak terima.


"Nggak usah ngeyel, Masku. Namanya ujian ya begitu. Itu tandanya Allah sayang sama mereka. Biar mereka naik kelas. Nggak sembarangan berucap. Dan masnya sebagai penonton juga kudu paham, Mas nggak boleh begitu." Renata melirik Rehan. Sedangkan Rehan masih berdiri tegak di samping gadis pujaan hatinya itu.


"Harusnya Ste kan jangan pergi dulu, namanya juga hadepin orang marah! Orang emosi!" balas Rehan.


"Lagian! Marah tu jangan nyuruh pergi. Bener Stellalah pegi. Kalo Nata jadi Ste juga bakalan pegi kalo di suruh pegi. Misalnya ni, Mas marah, minta Nata pegi, ya Nata pasti pegilah. Ngapain bertahan dengan orang yang udah nggak mau ama kita. Sori la yau!" jawab Renata gemas.


Rehan menatap sang kekasih heran. Bagaimana tidak? Renata begitu fasih menjawab ucapannya. Renata begitu fasih mengungkapkan isi hatinya. Tidak seperti Renata yang ia kenal. Yang ini lebih centil dan menggemaskan.


"Kenapa, Yang?" tanya Renata.


"Kamu nggak sakit kan?" tanya Rehan serius.


"Nggak, aku baik-baik saja. Masnya kali yang sakit. Orang masih hidup dikasih cobaan kok dilarang, kan aneh!" Renata terkekeh. Sedangkan Rehan hanya diam dan memfokuskan pandangannya pada tim medis yang masih sibuk melepaskan alat bantu di tubuh Zein.


"Gimana keadaan Zein, Yang?" tanya Rehan, berusaha mengalihkan pembahasan mereka yang menurutnya unfaedah itu.


"Entahlah, Mas. Tapi aku curiga, dia mengetahui sesuatu. Beberapa kali kulihat suster membantunya menghapus air mata pria itu, " jawab Renata lirih.


"Mungkin saja, Yang. Mungkin Zein memang mengetahui sesuatu." Rehan merasakan kakinya lelah. Ia pun memutuskan untuk duduk.

__ADS_1


Di kursi panjang itu, Rehan kembali diam. Sepertinya dia memang sedang memikirkan sesuatu yang berat.


"Mas kenapa lagi sih? Muram mulu dah mukanya!" ucap Renata. Gadis cantik ini memanyunkan bibirnya kesal.


"Aku pusing soal Juan dan Ste. Ste memutuskan untuk pergi. Aku nggak bayangin, bagaimana nanti jika Juan tahu bahwa Ste telah benar-benar pergi. Dia begitu percaya diri, jika Ste tak mungkin meninggalkannya," ucap Rehan sedih.


"Seriusan Ste pergi?" tanya Renata kaget.


"Ya, tadi pagi dia kirim pesan chat. Ia pamitan, katanya mau nenangin diri. Makanya cepat-cepat aku cari Juan. Ternyata dugaanku benar. Bahwa Stella memang memiliki pemikiran yang sukar di tebak. Sebenarnya ia termasuk wanita yang berani mengambil sikap. Sepertinya Juan benar-benar belum mengenal Stella," jawab Rehan sedih.


"Iya, Stella memang seperti itu. Dia memang paling nggak bisa ditolak." Renata pun terlihat sedih.


"Apa menurut, Mas, Juan masih suka dengan mantannya?" tanya Renata.


"Kalo itu aku nggak bisa jawab, Yang. Kita nggak akan pernah hati isi hati seseorang," jawab Rehan.


"Baiklah, kita doakan saja. Semoga rumah tangga mereka baik-baik saja." Renata mengelus lengan sang kekasih.


Rehan memang benar. Bahwa Stella memiliki sifat pendiam. Namun, di balik sikap pendiamnya itu tersimpan ketegasan yang tidak semua orang tahu. Pada dasarnya, Stella adalah wanita yang berani mengambil sikap. Berani m ngambil resiko. Yang jelas, wanita ini enggan disakiti apa lagi menyakiti. Lebih baik ia memilih pergi.


"Mas tahu ke mana dia pergi?" tanya Renata penasaran.


"Dia nggak bilang sih, Yang. Tapi aku rasa dia keluar negeri. Makanya aku sangat menyayangkan sikap Juan, Yang." Rehan menundukkan kepalanya. Mungkin ia sedang menyayangkan sikap arogan Juan.


Renata tak menimpali ucapan itu. Cukup tahu saja. Karena Rehan lebih tahu bagaimana sifat sang sahabat. Renata hanya bisa berharap, agar semuanya baik-baik saja. Baik masalah yang dihadapi Zein maupun yang sedang menghadang Juan dan Stella.


Beberapa menit kemudian, para tim medis keluar dari ruang rawat Zein. Mereka segera menemui Rehan, sebagai penangung jawab atas Zein sebagai keluarganya. Tak lupa, sang dokter juga menjelaskan detail kondisi fisik pria yang kini jadi pasiennya.


Dari penjelasan sang dokter, bisa di simpulkan bahwa keadaan fisik Zein sudah mulai stabil. Hanya saja, sepertinya Zein memiliki tekanan yang luar biasa pada bantinnya.


"Apa kami boleh masuk untuk menemuinya, Dok?" tanya Rehan pada sang dokter.

__ADS_1


"Tentu saja, silakan. Kami pamit dulu ya!" jawab sang dokter sembari berpamitan.


Rehan dan dokter tersebut pun berjabat tangan. Sebelum kemudian mereka berpisah.


Kini, Rehan telah berada tepat di depan Zein. Pria itu masih terbaring lemah dengan wajah sedikit pucat.


"Bagaimana kabarmu, Bos. Apakah masih ada yang sakit?" tanya Rehan pada Zein.


"Apa yang dilakukan si brengsek itu pada Stella?" Zein malah bertanya dengan nada sangat rendah. Namun Rehan tahu jika Zein sangat emosi saat ini.


Sedangkan Rehan dan Renata saling menatap. Tentu saja mereka sama-sama heran dan sangat-sangat terkejut dengan pertanyaan yang Zein ajukan.


"Apa maksudmu, Zein? Tidak terjadi apa-apa dengan Ste dan Juan!" jawab Rehan mencoba menutupi kenyataan yang ada.


"Heh!" Zein tersenyum sinis.


"Sudahlah Zein, jangan seperti ini. Ini adalah urusan mereka, kita nggak berhak ikut campur," ucap Rehan, mencoba membuat Zein tenang.


"Aku merelakan Stella untuknya dengan harapan dia bisa membuat wanitaku bahagia. Aku mencoba mengikhlaskan Stella untuknya, karena aku tahu Ste sangat mencintainya. Kenapa bajingan itu merusak segalanya. Lihat saja, kalo aku sembuh akan ku rebut kembali Stella ku. Aku tidak akan mengalah lagi dengannya!" ancam Zein. Tatapan nanar kembali Zein perlihatkan di depan Rehan dan Renata. Terlihat jelas, bahwa saat ini Zein merasakan sakit hati yang luar biasa.


Rehan bisa merasakan aura kemarahan pria itu. Namun, mau bagaimana lagi? Zein berhak mengambil sikapnya sendiri. Zein berhak memutuskan mana yang baik dan mana yang benar untuk hatinya.


Rehan hanya bisa berharap, apapun yang terjadi jangan sampai ada pertengkaran lagi antara Juan dan Zein. Karena tanpa mereka sadari, kenyataannya merekalah yang membuat Stella terluka. Stella tersungkur hingga babak belur. Stella terjerumus ke dalam lubang nestapa. Karena siapa? Karena mencintai mereka.


Dasar gila! umpat Rehan dalam hati.


Bersambung...


Yuk like like like n komen ya, biar mamake rajin up...


Jangan lupa dukung karya emak yang ikut lomba "Berbagi Cinta" dengan judul KETULUSAN HATI ISTRI KEDUA... dan Nantikan Giveaway terbaik dari emak🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2