PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 35


__ADS_3

Tidak semua orang mau mengerti apa yang kita rasakan. Tidak semua orang mau memahami apa yang kita pikirkan. Namun, memiliki seseorang yang mau mengerti dengan apa yang kita pikirkan dan dengan apa yang kita mau, bukankah itu adalah suatu kebahagiaan dalam hidup?


Seperti yang dimiliki oleh seorang Safira saat ini. Lutfi begitu telaten melayaninya. Memahami setiap inginnya. Mengerti dengan apa yang ia pikirkan. Pria itu begitu sabar menghadapi kediamannya. Tidak pernah sekalipun marah. Meskipun Safira hanya diam ketika dia ajak berbicara.


Seperti sekarang ini, Safira masih saja diam ketika sang suami menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Safira memang menerima setiap suap demi suap nasi yang diberikan sang suami. Namun, wanita ayu ini masih menahan suaranya, meskipun hanya untuk berucap terima kasih.


Sekali lagi Lutfi tidak marah. Justru pria ini malah memeluknya. Agar sang istri bisa merasakan, bahwa ada dirinya yang selalu setia menemani sang istri dalam suka maupun duka.


"Habis masak, Mas ke toko dulu ya. Mas mesti ngecek barang, banyak yang habis dan ada beberapa model baru yang datang. Nanti kalo udah selesai Mas pulang. Oke!" ucap Lutfi, masih setia memeluk sang istri yang saat ini sedang dilanda kesedihan ini.


Safira menjawab ucapan tersebut hanya dengan anggukan. Namun, kali ini lain. Sebab Safira masih belum mau melepaskan tubuhnya. Meskipun ia telah mengangguk dan menyetujui ucapan sang suami.


"Kenapa? Bunda mau ikut ke toko?" tanya Lutfi lembut.


Safira menggeleng. Safira malah beranjak dari tempat itu dan menarik sang suami. Mengajaknya duduk di sana. Dan ternyata si wanita tukang merajuk ini ternyata minta di pangku.


Tak ingin membuat sang istri kecewa, Lutfi pun menuruti permintaan itu. Membiarkan sang istri duduk di pangkuannya. Selama yang ia mau. Selama yang ia ingin.


"Lima belas menit lagi Mas harus di toko, Sayang. Barang udah mau datang. Gimana? Mau ikut aja. Hemm!" bujuk Lutfi agar ia diizinkan pergi bekerja.


Sebenarnya Safira masih enggan beranjak dari pangkuan sang suami. Namun, tidak mungkin baginya untuk menahan sang suami. Mau bagaimanapun, Lutfi punya tanggung jawab atas pekerjaannya dan Safira mengerti itu.


"Aku ikut," ucapnya lirih.


"Ayo!" sambut Lutfi.


Safira mengangguk dan tersenyum sekilas. Lalu ia pun beranjak dari tempat duduknya. Masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaian yang ia kenakan. Bersiap ikut sang suami ke tempat kerjanya.


Safira memang begitu, sejak kehilangan ibunya, ia jadi posesif terhadap Lutfi. Seperti takut kehilangan pria itu. Bahkan saat tidur, diam-diam ia sering memeriksa denyut nadi sang suami. Diam-diam dia sering memeriksa detak jantung Lutfi.


Pernah suatu ketika, Lutfi sampai terkejut dalam tidurnya, karena tiba-tiba saja Safira menempelkan telinga tepat di dadanya ketika ia terlelap. Saat ditanya, sedang apa, Safira hanya bilang, sedang memeriksa detak jantung dan jawaban itu membuat Lutfi yakin bahwa trauma yang kehilangan yang di alami sang istri bukan main-main.


Wanitanya ini membutuhkan ketenangan dan pengertian darinya. Lutfi harus memahami itu.

__ADS_1


Sembari menunggu sang istri selesai, Lutfi pun membuka beberapa pesan yang belum sempat ia buka. Terutama dari sang bos yang tak lain adalah abang iparnya.


Di dalam pesan tersebut, Zein ingin dirinya dan sang istri terbang ke Jakarta dalam minggu ini. Sang bos ingin dia membantunya mengelar acara resepsi. Membuat Lutfi bingung saja.


"Eh, kok melamun. Kenapa?" tanya Safira sedikit mengejutkan.


"Ah, tidak, Bun. Coba Bunda baca ini!" pinta Lutfi sembari menyerahkan ponselnya pada sang istri.


Safira pun segera menerima ponsel tersebut dan membacanya dengan teliti.


Kali ini, bukan hanya Lutfi yang bingung. Safira pun sama. Bagaiamana tidak? Tidak ada angin, tidak ada hujan, pria aneh itu meminta mereka datang ke Jakarta untuk membantunya mengurus masalah resepsi. "Memangnya abang punya pacar, Mas?" tanya Safira heran.


"Entah! Kan yang kita tahu dia sukanya sama sahabat kamu itu!" jawab Lutfi jujur.


"Makanya, aneh kan kalo tiba-tiba saja, abang mau nikah." Safira menatap aneh pada ponsel milik sang suami.


"Atau ... jangan-jangan abang di jodohin, Bun. Kan Bunda tahu bagaimana mama dan papa. Mereka kan unik cenderung aneh. Kita saja ditipu kan, Bun. Sampai menikah begini!" jawab Lutfi jujur.


"Mas benar, tapi di sini ditulis abang udah akad nikah, mungkinkah abang sudah menghamili wanita itu atau dijebak, mungkin. Seperti kita!" balas Safira menerka-nerka.


Sedangkan Safira, entah mengapa ia jadi penasaran dengan penyebab sang kakak mendadak menikah. Seperti pengalamannya, Safira yakin, sang abang pasti dijebak atau kalau tidak, dia pasti sudah menghamili anak gadis orang. Itu sebabnya mereka disuruh menikah cepat-cepat.


Namun, beberapa kali ia membaca pesan itu, tak satupun ada kalimat yang bisa digunakan untuk menebak penyebab sang abang menikah diam-diam. Malah, Safira menemukan chat antara sang suami dengan nomer yang tidak disimpan. Di dalam chat tersebut, tertulis jelas kata-kata yang hanya dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai.


Tentu saja, isi pesan tersebut pun langsung membuat darah Safira mendidih. Dengan kesal, ia pun menatap marah pada sang suami. Siap untuk mengintimidasi pria tersebut.


***


Lain Safira yang terbakar cemburu, Ada Zein yang tampak sumringah ketika bangun dari tidurnya. Sebab ia melihat, sang bidadari hati sudah terlihat cantik, segar dan apa lagi aroma sabun yang tercium dari tubuh sang istri membuat Zein semakin bersemangat memulai harinya.


"Pagi setengah siang!" sapa Zizi ketika melihat Zein sudah membuka matanya.


"Siang? Emang ini jam berapa, Sayang?" tanya Zein, sedikit linglung. Sebab ia memang bangunnya sangat siang. Maklum, mereka baru bisa terlelap hampir fajar. Wajar jika kesiangan.

__ADS_1


"Ini udah setengah sepuluh. Oiya, mama sama papa udah balik duluan. Baru saja. Soalnya mereka mesti balik ke Batam. Dapat penerbangan sore. Takut nggak keburu. Mama sama papa juga bilang, katanya nggak bisa ninggalin Naya lama-lama," ucap Zizi sembari membantu Zein bangun dari pembaringan.


"Oh, iya. Naya di Batam. Ibunya tu bocah masih galau ditinggal mama. Ya semoga semua segera membaik," balas Zein berharap yang terbaik untuk adik kandungnya itu.


"Aamiin. Kamu mau ke kamar mandi atau mau ngeteh dulu?" tanya Zizi lembut.


"Mandi, tapi temenin!" pinta Zein, manja.


Zizi menatap heran sembari mengerutkan kening. Aneh saja dengan permintaan sang suami. Sungguh, Zein seperti anak kecil yang manja.


"Kenapa, kan cuma minta ditemenin mandi? Bukan minta dimandiin," canda Zein dengan senyum manisnya. Manja, seperti bukan Zein yang Zizi kenal.


"Sejak kapan kamu punya sifat manja begini. Bukakah Zein aku kenal, dia arogan, dingin, cuek dan ya... mandiri, mungkin!" jawab Zizi, sedikit tegas, sedikit santai.


Zein yang gemas dengan sang istri, tentu saja langsung menarik tangan wanita itu dan langsung membawanya di atas pangkuannya.


"Siapa yang bilang aku, Zein... si pria tampan ini punya sifat seperti itu. Aku itu manja dan penyayang tahu," ucap Zein sembari menggelitik perut sang istri. Terang saja, Zi pun tertawa geli. Zein terus menggelitik perut Zi, tawa terus saja terdengar di antara mereka. Sehingga mengundang telinga yang mendengar tawa mereka jadi penasaran dibuatnya.


Zi yang ceroboh, setelah membukakan pintu untuk kedua mertuanya, dia lupa tidak menutup rapat pintu kamar mereka sehingga pemilik dua pasang telinga yang mendengar tawa Zizi langsung masuk tanpa permisi.


Betapa tekejut nya mereka berdua melihat sepasang pengantin baru itu sedang bergelut manja di atas ranjang tanpa menutup pintu. Tentu saja, aksi mereka ini membuat pemilik dua pasang telinga itupun menggeleng-gelengkan kepalanya heran.


"Apa yang kalian lakukan?" tegur Laskar tegas.


Terang saja, Zein dan Zi yang mendengar teguran itu langsung menghentikan candaan mereka.


"Eh, mama.. Eh, papa... Maaf, Ma, Maaf, Pa. Zi yang mulai duluan," ucap Zein gugup, malu. Sedangkan Zi pun sama, bahkan wanita itu tidak berani menatap kedua mertuanya tersebut.


"Eh ma eh pa, maap-maap. Kalo mau ***-*** dikunci. Memangnya semalam belum puas. Masih disambung siang hari. Udah gitu nggak ditutup lagi pintunya. Gimana sih? Ceroboh sekali!" gerutu Laskar kesal.


"Sorry, Pa. Kami nggak lagi itu kok. Sungguh!" jawab Zi takut.


"Mau begitu juga nggak apa-apa. Kita nggak nglarang juga. Kan kalian udah sah suami istri. Cuma ditutup atuh pintunya, Neng. Ya, jangan ceroboh lagi!" ucap Laila mengingatkan.

__ADS_1


"Ah, sudah Ma. Mending kita jalan aja. Bisa pusing papa lihat anak-anak muda jaman sekarang. Begituan kok nggak malu nggak tutup pintu. Sudah, kalian lanjut lagi. Siapa tahu bisa cepat kasih cucu buat kita, makin cepat buat, makin cepat jadi, makin baik. Sudah-sudah, maafkan papa. Kalian lanjut lagi aja, biar papa yang tutup pintunya. Ayo ma!" ucap Laskar sembari menggandeng tangan sang istri dan mengajaknya keluar kamar Zein. Sedangkan Laila tak lupa memberikan jempol untuk Zein, seperti memberi putranya itu semangat. Semangat untuk membuatkan cucu untuk mereka.


Bersambung...


__ADS_2