
Safira merajuk, bahkan ia tak mau berbicara dengan pria yang semalaman utuh telah memberinya kenyamanan dengan membiarkan dirinya tidur di pelukan pria tampan itu.
Safira cemberut, karena menurutnya Lutfi sangat keterlaluan. Sedangkan Lutfi sendiri lebih sering tersenyum, karena sang istri, si wanita tukang merajuk itu terlihat menggemaskan.
Melihat sang istri telah selesai membersihkan diri, Lutfi pun mulai beranjak dari tempat duduknya. Bermaksud Membersihkan diri juga.
Safira yang tahu tujuan sang suami, tentu saja langsung membantu sang suami membawakan botol infus tersebut ke kamar mandi.
"Makasih!" ucap Lutfi.
Safira tersenyum.
"Belum moleh mandi kan, Mas?" tanya Safira.
"Boleh, aku udah enakkan kok. Suhu tubuhnya juga udah normal. Kata dokter besok udah boleh pulang," jawab Lutfi.
"Aku bantu ya mandinya!" pinta Safira menawarkan.
"Hah.... " Lutfi bengong, tidak menyangka bahwa sang istri berniat membantunya mandi.
"Kok, ha? Kenapa? nggak boleh ya istri bantu mandi suami?" tanya Safira berusaha bisa saja. Namun tidak dengan Lutfi, ia malah takut. Takut tidak tahan menahan nafsunya dan akhirnya melakukan hal itu lagi. Lalu, Safira akan menolak dan menamparnya lagi. Lutfi merinding membayangkan itu.
"Nggak usah, Ra! Malu aku!" tolak Lutfi berbohong.
"Kenapa malu?" tanya Safira.
"Ya nggak pa-pa... malu aja!"
__ADS_1
"Kok malu sih, aku kan istrimu. Biarin ah, aku mau bantu kamu mandi," ucap Safira memaksa. Lalu tanpa meminta persetujuan dari sang suami, Safira segera melepaskan kancing-kancing baju yang Lutfi kenakan.
Namun, baru tiga kancing yang terbuka, dengan cepat Lutfi memegang tangan Safira. Menghentikan apa yang sang istri lakukan. "Stop! please!" pinta Lutfi lirih.
Bukannya marah, Safira malah tersenyum. "Kenapa? otak mesumnya kumat ya?" tanya Safira dengan senyum meledek.
Lutfi juga tersenyum, sebab apa yang sang istrinya ucapkan adalah benar.
"Aku tidak akan menolakmu lagi, Lutfi. Aku janji!" ucap Safira.
"Kamu memang pintar memanfaatkan waktu, Ra. Giliran aku sehat mau menolak. Giliran aku sakit kamu pasrah. Aku mesti gimana?" Lutfi menatap mesum pada sang istri.
Tatapan mesum itu tentu saja makin membuat Safira makin semangat menggoda sang suami.
Safira memasukkan kedua tangannya ke dalam baju Lutfi. Meraba dada pria itu. Berniat menggoda dan membangkitkan gairah pria itu. Sedangkan Lutfi hanya menunggu dan tersenyum mengancam.
Melihat sang suami mulai tak mampu menahan hasratnya, Safira pun langsung menghentikan aksinya dan beringsut
memundurkan langkah. Tentu saja untuk menghindar dari predator menyeramkan ini.
Lutfi tidak berusaha mencegah. Karena ia memang tidak ingin tempat seperti ini menjadi tempat pertama mereka bermesraan. Lutfi mau tempat bercinta mereka adalah tempat yang istimewa. Agar berkesan.
Setelah berhasil kabur dari kamar mandi itu, Safira langsung mengelus dadanya. Rasanya lega saja bisa kabur dari ancaman pria itu. Namun ia senang. Senang, sebab hubungannya dengan pria itu membaik. Senang karena Lutfi ternyata tidak lagi marah padanya. Sekarang tinggal bagaimana dirinya memperbaiki diri dan bisa memperlakukan serta menerima Lutfi sebagai suami seutuhnya. Sebagai suami lahir batin.
Sepuluh menit berlalu, Lutfi pun keluar kamar mandi dengan memakai pakaian yang telah sang istri siapkan untuknya.
Dengan senyum tampannya, pria itu pun mendekati sang istri yang saat itu sedang memakai skincare yang biasa ia pakai untuk merawat tubuhnya.
__ADS_1
Sedangkan Safira sendiri langsung beranjak dari duduknya dan mengambilkan tiang infus untuk menaruh infus yang masih menancap di tangan sang suami.
"Sarapan dulu ya, Mas!" pinta Safira.
"Boleh!" jawab Lutfi pasrah.
Kemudian sang istri pun mengambilkan makanan yang telah disiapkan oleh pihak rumah sakit.
Dengan lembut, Safira pun melayani sang suami untuk menyantap hidangan tersebut. Lalu, ia juga menyiapkan obat-obatan untuk sang suami yang diresepkan oleh pihak rumah sakit.
"Makasih, Sayang!" ucap Lutfi, kemudian mereka saling melempar senyum. Terlebih Safira, wanita ini terlihat malu-malu.
"Nggak pa-pa kan kalo aku panggil kamu, Sayang?" tanya Lutfi hati-hati. tentu saja ia tak ingin menyinggung perasaan sang istri.
"Nggap pa-pa, Mas. Terserah masnya aja!" jawab Safira dengan senyum malu-malunya.
Lutfi melirik manja pada sang istri, begitupun dengan wanita yang kini terlihat begitu cantik itu.
Lutfi memberanikan diri mengelus pipi dan dagu sang istri, lalu ia pun memberikan kecupan penuh cinta di kening sang istri.
Mereka kembali saling melempar senyum.
Merasa tak ada penolakan, Lutfi pun memberanikan diri mendekatkan bibirnya pada bibir sang istri. Safira memejamkan mata, pertanda wanita itu pasrah. Pasrah dengan apa yang diinginkan sang suami.
Namun, ketika bibir mereka menyatu, dan memulai saling membalas ciuman itu, mereka dikagetkan dengan suara ketukan pintu. Spontan mereka pun melepaskan ciuman yang mereka lakukan. Lutfi dan Safira saling menghapus bibir mereka masing-masing.
Barulah, setelah itu Safira beranjak dari duduknya dan berpamitan pada sang suami untuk membuka pintu tersebut.
__ADS_1
Bersambung....