PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
NAMANYA SAJA HATI


__ADS_3

Stella diam, menatap wanita yang saat ini terlihat mencurigainya. Stella tidak menyalahkan Safira, jika memang wanita itu ternyata memang curiga padanya. Pada kenyataannya Stella lah yang memulai membuka case ini, bukan Safira.


"Maaf jika aku sedikit mengusikmu, Ra. Tapi sungguh, aku sama sekali tidak berniat menyakitimu. Aku hanya ingin sebuah kepastian, Ra. Hanya itu!" jawab Stella tak kalah gusar.


"Aku mohon, Ste. Jangan muter-muter. Ngomong aja, apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang sebenarnya kamu khawatirkan?" tanya Safira. Terlihat wanita ayu ini beberapa kali menghela napas dalam-dalam. Mencoba menguatkan hatinya sendiri. Sebab ia tak tahu apa yang sebenarnya membuat Stella resah.


Stella menatap Safira. Mencoba menguatkan hatinya, menata kata, menyemangati hatinya, agar ia mampu mengungkap yang sebenarnya ia risaukan kepada wanita ayu di depannya ini.


"Oke, aku akan jelaskan, dari mana aku dapetin foto kamu. Dan mengapa aku mempertanyakan ini kepadamu. Aku yakin kamu sudah tahu, siapa pemilik asli foto ini?" ucap Stella mulai berani membuka tirai rahasia yang ia bawa saat ini. Kembali di tatap nya wanita ini. Sesekali Stella juga menghapus sisa-sisa air matanya.


"Juan?" tebak Safira, spontan.


Seketika butiran bening meluncur begitu saja dari pelupuk mata Stella. Bibirnya gemetar. Hatinya takut. Dadanya serasa sesak. Bagaimana tidak? Posisinya dengan posisi Safira sama. Sama-sama mencintai pria yang sama. Sama-sama mengharapkan pria yang sama. Dan Stella tidak menginginkan ini. Ia ingin serakah, ia ingin hanya dirinyalah yang tercipta untuk Juan. Hanya dirinyalah yang berhak atas Juan. Dalam pikiran, hati maupun fisik.


Bagaiamana ini? Bagaimana jika Juan memilih kembali pada cinta pertamanya? Bagaimana dengan cintanya? Bagaimana dengan hatinya? Yang sudah terlanjur terikat dan masuk ke dalam penjara cinta milik Juan. Milik pria itu. Milik pria baik hati itu.


Stella kembali menangis tersedu. Menumpahkan segala ketakutan yang ada dalam hatinya. Sedangkan Safira pun sama. Wanita ini juga menangis. Meskipun tangisannya tak sedalam Stella. Tetapi hati mereka tetap saja terluka. Terluka oleh oleh kenyataan yang mereka hadapi saat ini.


"Apakah kamu istri Juan, Ste?" tanya Safira serius.


Stella mengangguk pelan.


"Itukah sebabnya kamu terkejut ketika melihatku di bandara?" tanya Safira lagi.

__ADS_1


"Ya!" Stella mengambil tisu dan menghapus sisa-sisa air mata dan segala cairan yang keluar dari hidungnya.


Apakah ini yang kamu takutkan, Ste? Apa kamu takut aku mengusik kehidupan rumah tanggamu?" tanya Safira.


Stella tak sanggup menjawab dengan ucapan. Wanita ini hanya menjawabnya lewat isak tangis. Entahlah, Stella bingung.


"Maaf, aku tidak tahu bahwa kamu masih hidup, Ra! Demi Tuhan aku tidak berniat merebut Juan darimu. Juan sendiri sepertinya juga tidak tahu jika kamu masih ada. Kami. ... " ucapan Stella kembali terhenti oleh tangisan ketakutannya.


"Kamu jangan setakut itu, Ste. Aku tidak tahu bagaiamana kamu dan Juan menikah. Tapi aku juga nggak bisa menyalahkan pertemuan kalian, percintaan kalian lalu pernikahan kalian. Aku sudah melupakan Juan, Ste. Percayalah! Dia milikmu!" ucap Safira menyakinkan Stella. Bahwa apa yang terjadi bukanlah salah dirinya, Stella maupun Juan sendiri.


Tuhan pasti punya jalan sendiri untuk menentukan pasangan terbaik bagi hamba-Nya. Safira yakin itu.


"Sungguh? Kamu tidak marah padaku, Ra?" tanya Stella, masih dengan perasaan tak nyaman pada wanita yang ada di depannya ini.


"Iya, dia cerita itu. Dia tahunya kamu dan ... telah berpulang," balas Stella jujur. Sebab seperti itulah yang ia tahu dari sang suami.


Kedua wanita ini sama-sama diam. Rasa canggung langsung merengkuh mereka berdua. Stella tak sanggup menatap Safira. Sebab, dalam hatinya ada rasa kasihan untuk wanita itu. Pasti selama ini ia telah banyak berkorban waktu untuk menunggu Juan datang. Menjemputnya dan kembali merajut kasih. Sedangkan Safira sendiri juga memahami ketakutan Stella. Mau bagaimanapun dia dan Juan masih memiliki kisah yang belum usai. Masih belum selesai dan harus diselesaikan. Apapun alasannya.


***


Di sisi lain, ada Rehan yang kini diam membisu, tak sanggup berkata-kata setelah mendengar cerita mengejutkan dari Juan.


Rehan tidak menyangka jika Juan memiliki masa lalu dengan pria yang bersedia mendonorkan darahnya untuk sang sahabat. Bukan hanya itu, ternyata pria tersebut adalah pria yang pernah membuat hati Juan hancur berkeping-keping.

__ADS_1


"Kamu serius, Jun. Jangan becanda ah! Nggak lucu kamu!" jawab Rehan sedikit kesal.


"Kamu pernah lihat aku becanda soal perasaan?" tanya Juan tak kalah kesal.


"Demi Tuhan, Jun?" tanya Rehan memastikan.


"Astaga ni orang, bener-bener ya!" balas Rehan kesal.


"Bukan gitu masudku? Serius dia itu bapaknya si mantan?" ucap Rehan memastikan kembali jawaban Juan.


"Ae lah, dia tanya lagi. Iyo Re, Iyo. Wong kui bapake Safira. Ngerti! Awas tekon meneh (iya, Re, iya. Dia ayahnya Safira. Awas tanya lagi)," ancam Juan mulai geram.


Rehan melirik sekilas sahabatnya yang terlihat semakin resah. "Oke-oke, aku percaya. Terus kira-kira, itu orang siapanya Zein ya?" balas Rehan bingung.


Sungguh pertanyaan Rehan kali ini malah membuat Juan muak. Bagaimana tidak? Rehan terlihat bodoh dan menyebalkan. Jelas-jelas dia tahu Zein bukan anak kandung Agus. Udah pasti itu orang bapanya Zein lah apa lagi.


"Santai, Bro santai. Kita kan kudu teliti dalam menganalisa. Siapa tahu kita salah, ye kan?" ucap Rehan, kali ini lebih bodoh dan menjengkelkan. Membuat Juan makin malah meladeni pemikiran lemot itu.


"Tahu ah, Re. Stres gue ah!" jawab Juan kesal. Pria ini pun memilih meninggalkan Rehan sendirian di depan ruang operasi. Namun, langkahnya terhenti ketika pria yang mereka bicarakan kini sedang berdiri tegak di depannya. Tak mungkin bagi Juan untuk pergi. Dia tak ingin dinilai pengecut oleh Laskar, yang tak lain adalah pria yang sedang ia bicarakan dengan Rehan sedari tadi.


Bersambung....


Jangan lupa like komen n share ya... semoga sukak๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2