PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
MEMENANGKAN PEPERANGAN


__ADS_3

Seperti yang Zein takutkan. Setelah mendengarkan penjelasan Juan, akhirnya para investor tersebut tergerak hatinya untuk tetap melanjutkan proyek mereka bersama Juan. Terang saja ini membuat Zein naik darah. Sampai pria ini tak mampu lagi berpikir. Dengan penuh amarah ia pun menggebrak meja. Meluapkan kekecewaannya atas keputusan para investor yang awalnya memihaknya.


"Apa-apaan ini!" bentak Zein pada seluruh anggota rapat.


"Tenangkan diri anda Pak Zein, kami berhak memilih," ucap salah satu investor.


"Mari bersikap dewasa, Bapak Zein. Di sini bukan ajang perkelahian." Salah satu investor yang memang tidak menyukai perangai Zein terlihat geram.


"Memintaku tenang? Kalian tidak salah?" Zein tersenyum sinis. Sedangkan Juan Stella dan Sera belum mengeluarkan pembelaan apapun. Mereka masih menunggu apa yang sebenarnya diinginkan oleh pria arogan ini. Begitupun dengan para investor yang tadinya ingin berpihak padanya.


"Aku tidak percaya dengan ini. Kalian semua adalah penghianat!" tuduh Zein sembari menunjuk satu persatu para investor yang tadinya berpihak padanya.


Tak Terima dengan tuduhan Zein. Salah satu investor tersebut pun mengeluarkan pembelaannya. "Atas dasar apa anda menuduh kami seperti itu. Sudah kami bilang. Kami akan memikirkan permintaan anda. Bukan berarti kami langsung menyetujui usul anda. Untuk mundur dari proyek ini. Lagian, setelah kami pikir-pikir, Bapak Juan tidak menyalahi aturan. Lalu untuk apa kami mundur. Semua sudah sesuai prosedur. Kalau tidak mana mungkin ada investor baru yang berani berinvestasi lebih besar dari pada kami. Anda jangan lucu Bapak Zein. Kami malah curiga, mungkinkah bujukan anda mengandung masalah? Jika iya, maka anda salah besar kalau mengambil jalan seperti ini. Anda sama sekali tidak profesional, Pak Zein!" pria itu menatap Zein dengan tatapan penuh selidik. Seperti meledek. Sehingga membuat Zein tak nyaman.


Terang saja, mendengar penuturan dan juga tatapan sinis para investor itu, darah Zein mendidih. Pria ini kembali meluapkan amarahnya.


"Apakah kalian tahu jika kedua wanita ini adalah penipu?" tanya Zein masih berusaha mempengaruhi mereka.


Stella dan Sera masih diam. Masih menunggu sejauh apa Zein berani mengeluarkan ketidakmampuannya meredam amarah.

__ADS_1


"Maaf Pak Zein kali ini kami tidak percaya pada anda. Sebab, saya dengan ibu Sera sudah saling kenal setahun yang lalu. Dan beliau jujur, buka begitu ibu Sera?" tanya salah satu dari mereka. Sera hanya tersenyum dan menatap Zein, seperti meledek.


Tentu saja keadaan ini semakin membuat Zein garam. Pria ini langsung naik pitam. Dengan penuh amarah ia pun


membalas tatapan Sera tanpa rasa takut. Bukan hanya itu, hatinya pun mengeluarkan sebuah ancaman untuk Juan dan Stella. Bahkan untuk Sera. "Lihat saja, kalau cara ini gagal. Maka aku pasti akan cara lain untuk memisahkan kalian berdua. Dan untukmu wanita tua, jangan harap aku akan mengampunimu," Zein tersenyum sinis.


"Jika anda tidak berkenan mengikuti rapat ini, sebaiknya anda keluar Bapak Zein. Sebab jika anda tidak mampu menjaga sikap. Kami jangan salahkan kami kalau sampai kami tidak menghormati anda." Kembali salah satu investor mengeluarkan pendapatnya.


Diperlakukan seperti itu, tentu saja membuat Zein malu setengah mati. Untuk menutupi rasa malunya, tanpa kata pria arogan ini pun meninggalkan ruang rapat tersebut. Sedangkan Stella hanya diam. Belum berani mngambil keputusan apapun. Namun jika boleh jujur, ada ketakutan tersendiri di hati wanita ayu ini.


Sebab ia tahu, Zein tak mungkin pasrah begitu saja. Pasti pria itu akan mencari cara yang lebih kejam untuk memisahkan dirinya dengan sang suami.


"Jangan goyah!" bisik Sera memperingatkan.


"Pasti, Tan. Apapun akan aku lakukan untuk suamiku. Tak akan kubiarkan siapapun menyakitinya. Termasuk pria jahat itu," jawab Stella berbisik, namun ia sangat yakin. Yakin bahwa pilihannya untuk tetap mendukung dan mendampingi Juan tidak salah. Stella mencintai Juan.


Kemudian tanpa memerdulikan kemarahan Zein, mereka pun memutuskan untuk melanjutkan rapat. Stella berusaha sekuat tenaga dan mengeluarkan seluruh kecerdasan serta kemampuannya untuk membantu sang suami menyakinkan para investor tersebut.


Begitupun dengan Sera. Wanita paruh baya yang telah berpengalaman dalam bidangnya itu pun juga sukses merebut posisi sebagai investor utama. Dengan kekuatan itu akhirnya Juan pun mendapatkan kembali kepercayaan para koleganya.

__ADS_1


Rapatpun berakhir. Senyum mengambang di antara para anggota rapat. Kuputusan telah diambil dan bersyukur peperangan ini dimenangkan oleh Juan dan Stella.


Seluruh anggota telah meninggalkan tempat mereka masing-masing. Kini tinggalah dua sejoli yang masih duduk di tempatnya masing-masing. Saling menatap. Saling melempar senyum. Stella tidak tahu harus berucap apa. Pun dengan Juan.


Beberapa menit kemudian, Juan pun memberanikan diri memdekati sang istri dan duduk di atas meja. Persis di depan sang istri.


"Dapat ilmu dari mana tadi?" canda Juan.


Stella tersenyum, kemudian ia pun menjawab candaan itu dengan candaan pula. "Kasih tahu nggak ya?" senyum mengembang sempurna di bibir wanita ayu ini.


Ingin rasanya Juan mencium bibir wanita cantik ini. Namun, ruangan ini dilengkapi dengan kamera pengawas. Tak mungkin baginya untuk nekat dan mempermalukan diri sendiri. Akhirnya, Juan pun meminta wanita ini masuk ke dalam kawasannya.


"Sebaiknya anda ikut ke ruangan saya, Ibu Stella. Ada sesuatu yang kita bicarakan," ajak Juan sembari mencolek dagu sang istri. Kemudian dengan sikap sok cool-nya. Juan pun meninggalkan Stella. Melangkah menunju ruang kerjanya. Sedangkan Stella hanya tersenyum dan menurut serta mengikuti langkah sang suami dari belakang.


Seperti partner kerja profesional. Mereka pun tak menunjukkan bahwa mereka sebenarnya adalah suami istri kepada para karyawan. Juan melangkah dengan kewibawaannya. Sedangkan Stella dengan sikap anggunnya. Mereka sungguh pandai menjaga sikap di depan para karyawan. Mereka bukan hanya menang melawan Zein. Namun juga menang melawan hasrat yang saat ini sedang menyerang mereka. Juan ingin mencium dan meluapkan cintanya. Begitupun Stella. Namun tempat dan kondisilah yang memaksa mereka untuk meredam keinginan itu. Dan pada kenyataannya mereka menang.


Bersambung....


Makasih buat dukungannya selama ini. I love u😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2