PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 42


__ADS_3

Serakah, mungkin seperti itulah devinisi kata yang pas untuk seorang Zein. Bagaimana tidak? Pada kenyataanya, saat ini ia begitu bahagia ketika berhasil mendengar suara wanita yang selama ini ia rindukan.


Imej setia yang selama ini melekat dalam diri pria ini akhirnya luntur seketika.


Zein berani main api sekarang, hanya karena ia masih penasaran dengan cinta yang belum sampai. Zein masih penasaran dengan cinta yang ia sendiri sadar bahwa cinta itu tidak ditakdirkan untuknya.


Serabut rindu yang sedari tadi menggebu, akhirnya terurai, meskipun tidak semuanya. Nyatanya saat ini, pria tampan ini tersenyum bahagia. Ia kembali bersemangat menjalani hidupnya. Cinta yang memang tersimpan rapi untuk wanita itu, kini Zein sudah berani menunjukkannya.


Zein tidak peduli, seandainya Zi marah dan meninggalkannya. Zein tidak peduli jika seandainya semua orang menentang cintanya, yang jelas yang Zein mau saat ini adalah, dunia tahu bahwa perasannya terhadap Vita adalah nyata. Dia menyukainya. Dan kali ini dia tak main-main, walaupun semua orang pasti akan menganggapnya gila. Serakah dan tidak berperasaan.


Nyatanya, perasaan yang hampir ditentang oleh semua orang, nyatanya perasaan itulah yang membuatnya bahagia.


Zein, tersenyum sendiri ketika kembali ke kamar tidurnya. Hatinya begitu bahagia. Berbunga-bunga. Sangging bahagianya, sampai dia lupa bahwa di ranjang tersebut sudah ada seorang wanita yang mencintainya dengan hati. Bukan lagi dari fisik dan materi yang ia miliki. Tetapi dari ikatan batin yang dia miliki.


***


Beberapa hari berlalu sejak perbincangan malam itu dengan Vita, Zein semakin bersemangat menjalani hidupnya.


Namun, sikap semangatnya itu berbanding terbalik dengan ketika ia bersama dengan Zi. Zein berubah pendiam ketika bersama sang istri. Malas diajak bersama, walaupun hanya sekedar makan.


Zein tak lagi hangat ketika bersama dengan sang istri. Selepas pulang kerja, Zein langsung masuk ke kamar dan sibuk dengan ponselnya.


Zi adalah istri yang baik, ia pun tetap berpikir positif, bahwa tak ada apa-apa di dalam rumah tangganya. Semua baik-baik saja. Mungkin Zein lelah bekerja sehingga ia malas beraktivitas kembali di rumah. Sampai ingin membicarakan pasal resepsi saja, Zi tidak berani. Takut Zein marah.


Kegelisahan Zi akhirnya terbaca oleh Safira, yang saat itu sedang menunggu, apakah resepsi yang sudah direncanakan akan mereka realisasikan atau tidak, sebab sampai detik ini tidak ada kabar sama sekali.


"Aku nggak berani nanya, Ra, abangmu kalo pulang kerja pasti langsung mausk kamar, mandi dan tidur. Begitupun pagi, dia juga jarang sarapan. Siap-siap langsung berangkat. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Tapi kami memang jarang berbincang," jawab Safira jujur.


"Sabar ya, Kak. Mungkin abang lagi banyak kerjaan," ucap Safira mencoba tetap membangun pikiran positif sang kakak ipar.


"Ya, mungkin demikian, aku juga pengen ngurangi aktivitas aku di rumah sakit, biar ada waktu lebih banyak buat dia. tapi gimana? mau aku obrolin dulu ke dia, tapi dianya seperti menghindar." Zizi mengelap keringat yang mulai membasahi keningnya.

__ADS_1


Entahlah, beberapa hari ini Zizi sering merasa pusing dan mual.


"Tapi dia pulang kan, Kak?" tanya Safira.


"Pulang kok, setiap hari pulang," jawab Zizi masih berusaha menutupi kelakuan Zein yang semakin hari susah untuk Zi mengerti itu. Padahal, Zein sudah dua hari ini tidak pulang dan hanya mengirim pesan bahwa saat ini dia ada di apartemen. Sahabatnya dari Amerika datang dan mau meminjam apartemennya selama berada di Jakarta. Istilah kata, saat ini Zein sedang menjamu temannya.


Entah itu benar atau tidak, yang jelas isi pesan yang Zein kirim untuknya seperti itu. Zein tidak pulang ke rumah karena ada temannya datang. Ya hanya itu pesan teks yang Zein kirim untuknya.


Tidak bertanya meskipun hanya sekedar kabar. Tidak, Zein sama sekali tidak bertanya perihal dirinya.


"Jadi enaknya resepsinya nunggu abang kasih keputusan atau gimana, Kak? Soalnya mama sama papa juga udah nanya?" tanya Safira lagi, mencoba memastikan.


"Ya nunggu keputusan dari dia lah, kan dia yang punya niat. Aku ma ngikut ajak, Dek. Masak iya nanti aku di pelaminan sendirian. Gimana? Kan harus dapet jadwal yang pas juga. Kalo nggak kita tunggu aja sampai akhir bulan, kalo abangmu memang nggak kasih kabar, udah mendingan semua dibatalin aja. Nggak enak juga sama yang punya WO," jawab Zizi, berusaha mencari penyelesaian yang tepat untuk masalah yang sedang mereka hadapi saat ini.


"Ya udah dek, Kak. Kalau begitu! Safira tunggu sampai abang kasih jawaban aja," jawab Safira. Kemudian tak ada perbincangan lagi. Mereka berdua pun sepakat mengakhiri panggilan telpk tersebut.


***


Badai di setiap rumah tangga itu pasti ada, contohnya badai di dalam rumah tangga Vita dan Luis.


Namun, sebuah kesempatan tiba-tiba hadir di depan mata. Dan kesempatan itu datang dengan begitu gagah dan tampan.


Ya, saat ini Zein dan Rehan datang ke Singapura untuk membicarakan bisnis mereka.


Pertemuan pertama yang sangat mendebarkan untuk seorang Zein dan Vita.


Dalam hati masing-masing ternyata cinta itu masih nyata adanya. Jangankan Vita dan Zein sendiri sebagai pelaku, Rehan sebagai penonton pun bisa merasakan bahwa binar cinta di antara mereka benar-benar ada. Dan Rehan mengakui keberadaan cinta itu.


"Zein, ingat Vita istri orang. Tolong kamu jaga sikap," bisik Rehan ketika melihat Zein malu-malu kucing ketika menghadapi Vita.


"Aku tau, lu pikir gue sebuta itu!" jawab Zein, tak Terima.

__ADS_1


Sayangnya, Rehan bukanlah pria yang mudah percaya dengan sahabatnya ini. Rehan sangat tahu bagaimana Zein. Rehan paham betul bagaimana Zein. Sekarang saja, pria itu selalu menatap intens pada wanita yang saat ini sedang duduk menunggu mereka di sebuah restoran yang cukup mewah di Singapura.


"Hay," sapa Zein lembut.


Vita yang saat itu sedang melamun dan duduk sendirian, langsung menyambut dengan senyum ketika kedua pria tersebut menyapa.


"Hay juga!" sambut Vita.


Zein dan Rehan bergantian mengulurkan tangannya pada wanita cantik itu.


"Maaf, lama ya nunggunya?" tanya Zein basa-basi.


"Belum sih, Bang. Baru beberapa menit yang lalu," jawab Vita, singkat. Karena jujur, saat ini dia sedang sibuk mengatur detak jantungnya yang sedikit menganggu.


"Oh, oke... ini Rehan mau bantu kamu, dia juga lagi nggak banyak kerjaan. Ayo Re, silakan presentasikan potensimu," ucap Zein, sedikit bercanda.


"Waduh... sorry Vit, Aku baru kali ini mau punya bos cewek. Jadi agak gimana gitu? Pokoknya tanpa aku jelasin panjang lebar, aku rasa kamu sudah kenal aku. Bagaimana teknik ku dalam bekerja. Dan semoga kita bisa cocok nantinya," ucap Rehan, terdengar bingung saat menyusun kata-kata itu. Sebab jujur, dia sendiri juga bingung harus berucap apa.


"Nanti di kantor ada Gani, Bang. Kadang-kadang juga ada Bang Juan. Untuk sementara, saya serahin semua sama mereka. Supaya saya bisa fokus sama suami," jawab Vita, kali ini dia serius.


"Kami ikut sedih dengan kondisi Luis saat ini, Vit. Semoga beliau cepat sembuh," ucap Rehan.


"Makasih banyak, Bang. Makasih atas doanya." Vita menundukkan kepalanya, terlihat jelas bahwa saat ini dia sangat sedih.


"Sebenernya dia sakit apa sih, Vit?" tanya Rehan lagi.


Vita pun menjelaskan detail sakit yang diderita oleh sang suami. Bukan hanya itu, Vita juga menjelaskan tentang Luis sendiri juga selalu berkata lelah. Dia tidak ingin menyusahkannya terus.


"Sungguh, Vita nggak pernah merasa di repotin. Justru Vita senang bisa merawat dia dengan tangan Vita sendiri." Vita kembali menunduk, tentu saja untuk menyembunyikan rasa sedih yang ia rasakan.


"Kami hanya bisa berdoa, Vit. Semoga Luis cepat sadar dan sembuh," tambah Zein.

__ADS_1


Vita sedikit menyunggingkan senyum. Entahlah, ia seperti mendapatkan amunisi ketika mendengar suara pria itu. Meskipun pria itu hanya datang memberinya gejolak, namun Vita bahagia. Entah ini cinta atau dusta, yang jelas Vita merasa indah.


Bersambung...


__ADS_2