PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Cinta Membawa Luka


__ADS_3

Di sisi lain, tanpa keluarga Juan sadari, percakapan mereka telah didengar oleh Zein. Sungguh, Zein merasa semua orang begitu kejam menghadapi cinta yang ada antara dirinya dan Vita. Bagaimana tidak? Mereka merasa sama sekali tidak melakukan kesalahan. Selama ini mereka juga menjaga batasan. Bahkan cinta yang ada itupun sama sekali belum mereka utarakan. Mereka masih menyimpannya dengan sangat baik. Entah sampai kapan. Yang jelas mereka harus menjaga para perasaan mereka yang tak menyukai cinta ini.


Zein menitikkan air mata, ketika mendengar Vita membela dirinya. Di depan Ste dan Juan, Vita begitu luar biasa. Vita. a mengakui bahwasanya ia memang mencintai Zein, tetapi dengan penuh kesadaran, ia juga tak mau memaksakan cinta itu. Karena dia tahu bahwa jika mereka memaksa, maka akan banyak hati yang terluka.


"Saya harap Kakak tidak menghakimi cinta Vita ke bang Zein. Karena sampai detik ini, dia pun nggak tahu kalo Vita ada rasa sama dia. Dan asal Kakak tahu, Abang nggak nggak sejahat itu. Dia memang pernah melakukan kesalahan. Lalu apakah karena satu kesalahan itu seseorang tidak boleh berubah. Tidak boleh menjadi baik. Apakah dia tidak berhak mendapatkan maaf?" Vita menatap Stella sembari mengambil napas dalam jeda amarahanya. Lalu kembali ia melanjutkan ucapannya.


"Memang benar kata orang, sebaik apapun kita, jika mereka melihat kita dengan kebencian, maka, semua akan terlihat buruk. Contohnya bang Zein inilah. Sebaik apapun dia, tetap buruk kan di mata Kakak. Karena kakak nggak bisa legowo. Belum bisa memaafkan. Tapi sudahlah, selama di hati Kakak masih ada kebencian untuk Abang. Maka, semua akan terlihat buruk. Vita nggak bisa menyalahkan itu juga. Karena kakak yang mengalaminya waktu itu." Vita menghapus lagi sisa-sisa air mata yang masih tersimpan di sudut matanya.


"Kamu jangan salah sangka begitu, Vit. Kakak hanya tak mau kamu terlihat dengan pria itu," ucap Stella mulai mau merendahkan nada suaranya.


"Vita sedang berjuang membunuh rasa itu, Kak. Vita sedang membolak balikkan hati Vita untuk mengubur dalam-dalam rasa itu. Dan apakah kakak mau tahu, rasa dari keinginan itu, sakit kak sakit. Itu sebabnya, Vira harap Kakak paham itu. Jangan menghakimi cinta Vita ke Abang, karena Kakak nggak tahu apa-apa." Vita kembali menatap Stella dan Juan bergantian. Dari tatapan itu, bisa tergambar jelas bahwa saat ini Vita merasakan sakit hati yang teramat sangat. Merasakan kekecewaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Ya, saat ini Vita memang sedang dalam fase yang sulit secara hati. Namun, ia tetap berusaha tegar. Tidak mengubah pendiriannya sedikitpun. Sebab, ia yakin bisa membunuh cinta ini dan menggantinua dengan cinta yang baru bersama seseorang yang telah dipilih oleh pikirannya. Di dalam pilihan itu, Vita berharap, Zein berbaik hati mengembalikan hatinya, agar hati itu bisa menerima hati yang baru.


Di depan pintu, Zein juga menangis dalam diam. Sungguh ucapan terakhir Vita sebelum meninggalkan ruangan itu, sempat membuat Zein goyah. Ingin rasanya kakinya melangkah masuk ke dalam dan memeluk gadis itu.

__ADS_1


Namun sekali lagi, ia tak mungkin melakukan itu. Dua hari lagi Vita akan melangsungkan pertunangan dengan lelaki pilihannya. Zein tak ingin membuat gadis yang dicintainya itu goyah. Hanya karena perasaan yang mereka miliki.


Zein tak ingin Vita menderita karenanya. Dihujat dan dimusuhi keluarganya hanya karena memperjuangkan cinta yang menurutnya hanya akan menyakiti banyak pihak.


Zein tak kuasa menahan hatinya. Pria ini pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit dan membawa ponsel Vita yang terjatuh di mobil.


"Yuk jalan, Fi!" ajak Zein sembari mengusap kasar wajahnya.


Lutfi tak berani bertanya, namun ia yakin bahwa tuan mudanya ini pasti memiliki masalah. Sopir tampan ini pun langsung menuruti ajakan putra majikannya ini.


"Ya, Bang," jawab Lutfi.


"Apakah mencintai itu sesakit ini?" tanya Zein lemah. Terlihat tidak bersemangat. Sangat melo. Terdengar nelongso.


Lutfi menatap sekilas pada pria yang terlihat sedang patah hati ini. Matanya memerah, mengeluarkan air mata, tidak banyak. Namun, itu sudah cukup untuk Lutfi memberikan penilaian, bahwa pria yang ada di sampingnya ini memang sedang patah hati.

__ADS_1


"Mencintai itu sama dengan berkorban, jadi ya sakit. Kalo nggak mau sakit ya jangan mencintai," jawab Lutfi ringan. Jawabannya memang terdengar pedas. Tak ada sedikit pun empati di dalam jawaban itu. Tetapi mereka adalah laki-laki. Harus menghadapi sesuatu sebagai laki-laki. No melo-melo.


"Haruskah aku menyerah dengan cintaku, Fi?" tanya Zein lagi. Lagi-lagi melo. Membuat Lutfi semakin tak mengerti.


"Saya kan nggak tahu permasalahan Abang, jadi nggak bisa kasih solusi." Lutfi kembali menatap sekilas pada Zein. Memerhatikan pria itu, berusaha memahami apa maksud dari pembicaraan mereka kali ini.


Sayangnya, Zein tak mau melanjutkan cerita yang ia bawa detik ini. Lutfi pun juga enggan menggorek terlalu dalam. Namun, Lurfi tahu, jika Zein pasti terlibat sesuatu dengan gadis yang mereka antarkan tadi.


***


Di dalam ruang rawat, seorang wanita sedang paruh baya sedang menangis sedih. Karena sang putri belum bisa di ajak bicara. Sepertinya masih shock. Masih mengingat kejadian yang menimpanya, mungkin.


"Yang sabar ya, Sayang. Mama akan selalu ada untukmu. Cepet sembuh ya," ucap Laila sembari mengelus rambut sang putri.


Sedangkan Safira hanya menatap sang ibu dengan penuh tanda tanya. Sepertinya Safira belum menyadari, bahwa saat ini dia habis mengalami kecelakaan dan saat ini sedang berada di dalam rumah sakit.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2