
Lutfi tidak menyerah, buktinya saat ini dia dan anak istrinya telah berada di pesawat menuju Ujung Pandang. Safira tampak ceria sebab Naya ada di pangkuannya. Namun, hatinya seperti apa, tidak ada yang tahu.
"Nanti aku bakalan sering ke luar kota, nemenin abang. Kamu nggak pa-pa sering ku tinggal-tinggal?" tanya Lutfi basa basi.
"Nggak pa-pa, pergi aja, cari uang yang banyak. Biar kami berdua bisa belanja banyak-banyak!" jawab Safira ketus.
"Boleh! tapi ada syaratnya," ucap Lutfi sembari melirik manja pada sang istri.
"Apa?" tanya Safira lugu.
"Yakin mau syaratnya?" pancing Lutfi.
Safira menatap kesal pada pria yang kini sering meledeknya itu.
"Pasti kamu mau aku merengek pada abang supaya minta uang padanya kan?" tebak Safira asal.
"Dih, ya nggak lah! Emang kamu istrinya abang. Enak aja! Ya nggak lah, jangan coba-coba meruntuhkan jiwa kelelakian ku ya!" jawab Lutfi, Lagi-lagi sisi kocak pria ini keluar.
"Apaan sih, nggak jelas banget? Sisi kelelakian sisi kelelakian, enang situ laki-laki?" balas Safira sengit.
"Laki-laki lah, buktinya tu ada Naya. Mau aku buktiin ke kamu kalo aku laki-laki?" balas Lutfi tak mau kalah. Sebab inilah tujuannya, ia yakin jika Safira mengandung anaknya. Wanita ini tak akan pergi darinya. Wanita ini tak akan meninggalkan Naya yang sudah terlanjur cinta padanya.
"Gila! Ogah!" Safira membuang padanya ke depan. Enggan berbicara lagi. Karena hatinya terlanjur teriris perih. Takut jika sampai malam itu tiba, maka rahasianya akan terbongkar. Lutfi pasti akan langsung menceraikannya. Mengembalikan dirinya kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Baiklah! Aku nggak akan maksa. Yang penting kamu udah percaya kalo aku laki-laki!" jawab Lutfi santai.
Tak ada perbincangan lagi. Namun, air mata yang keluar dari pelupuk mata sang istri membuat Lutfi bingung.
"Eh, Ra. Jangan nangis, aku cuma becanda doang," ucap Lutfi sembari merangkul sang istri.
Dengan lembut, Safira menepis tangan itu. Dia merasa kuat. Tak butuh seseorang untuk sekedar menenangkan. Lalu ketika ia merasa nyaman, orang itu meninggalkannya, orang itu menghilang. Seperti cintanya pada Juan kala itu. Safira takut seperti itu.
"Cup, udah jangan nangis. Aku janji nggak lagi-lagi becanda seperti itu. Udah jangan nangis ya! Maafkan aku, oke!" pinta Lutfi lembut. Untuk membuktikan kesungguhannya, Lutfi meraih tangan Safira dan menciumnya lembut. Membuat Safira sedikit terkejut.
Ingin rasanya ia menolak perlakuan manis itu. Tapi tak dipungkiri, bahwa hatinya ingin. Ingin dimanja oleh pria ini. Ingin disayangi. Ingin dilindungi.
Tuhan, dia terlalu baik untukku. Aku takut, ucap batin Safira. Saat ini dia benar-benar gemetar. Andai tidak sedang berada di pesawat. Mungkin Safira akan kabur, menghindar dari pria yang kini sanggup menggetarkan hatinya itu.
"Jangan nangis ya, kalo kamu nggak suka bilang aja. Aku nggak akan marah kok!" pinta Lutfi sembari mengelus rambut Safira.
Hatinya sedang berperang melawan dilema. Dilema yang tidak semua orang bisa memahami itu. Pilihan di dalam hatinya begitu sulit. Sehingga bernapas pun susah. Safira hanya bisa diam untuk saat ini.
***
Belum sempat Zein berdiskusi dengan kedua sahabatnya, kedua orang tuanya sudah mendahuluinya. Kini mereka telah berada di rumah Juan.
Niatnya untuk bersilaturahmi, tetapi sepertinya Stella dan Juan sendiri kurang suka.
__ADS_1
Mau bagaimanapun, mereka tidak ingin siapapun mengguncang jiwa putri mereka.
"Maafkan Om, Juan. Maafkan Om, Ste. Om hanya ingin sebuah jawaban pasti dari kalian saja. Untuk mengobati rasa penasaran kami saja. Kami berharap, kalian bisa mengobati rasa penasaran kami itu!" ucap Laskar mulai mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke tempat Juan dan Stella tinggal saat ini.
"Maaf, Om. Sebenarnya apa yang sedang Om bicarakan. Kami sungguh tidak paham!" jawab Juan sedikit gusar. Sebab dalam hatinya, ia yakin pasti kedua orang ini akan bertanya pasal Berliana padanya.
"Om ingin tahu, siapa sebenarnya ayah kandung putrimu?" Laskar bukanlah orang yang pandai berbasa-basi. Ia tak suka membuang-buang waktu percuma. Namun, sikap itulah yang sering membuat orang lain merasa tidak ia hargai.
Juan tersenyum licik. Sedangkan Stella terlihat tegang. Mungkin dia memiliki keberanian lebih terhadap Zein. Tapi orang tuanya, tak sopan rasanya jika dia harus melawan dengan teriakan.
"Jangan tersenyum seperti itu pada kami Juan. Kamu tahu siapa kami?" ancam Laskar dengan tatapan mulai tak suka pada Juan dan Stella.
"Maaf Om, siapapun ayah kandung putriku, itu tak ada sangkut pautnya dengan kalian. Bahkan Zein sendiri pun tak punya kekuatan untuk mengambil putriku dariku. Berliana terlahir dari pernikahan Juan dan Stella. Jadi saya rasa itu sudah cukup memberi jawaban kepada kalian, bahwa Liana adalah putri dari Juan dan Stella," jawab Juan tegas.
"Tunggu dulu! Kalian memang bisa berkata demikian. Tetapi seorang anak punya nasab Juan, jangan lupakan itu!" balas Laskar mengingatkan.
"Kami tahu Om, tapi untuk membuka itu tidak sekarang. Putriku masih belum cukup umur untuk mengetahui apa lagi dipaksa mengerti tentang masalah yang terjadi antara kedua orang tuanya. Tolong, jangan usik putriku dengan masalah yang bisa ditunda. Saya rasa, Zein sendiri juga paham akan hal ini!" jawab Juan. Sungguh kali ini Juan tak ingin mengalah dengan kedua orang tua yang selalu bertindak egois ini padanya.
Laskar dan Laila diam seribu bahasa. Mereka seperti tak memiliki kekuatan lagi untuk membalas ucapan Juan. Namun, dari sudut hati yang terdalam, mereka tetap menginginkan Berliana ada di pihak mereka. Entah kapan itu terjadi.
"Sebaiknya kita tutup masalah ini sampai putriku siap menerima kenyataan ini, Om. Kami harap, Om dan Tante memikirkan kesehatan jiwa bocah ini. Mari kita saling jaga, toh Om juga sudah tahu. Tapi saya harap, Om dan Tante tetap jaga batasan. Agar anak ini tidak bingung dengan jati dirinya!" ucap Juan mewanti-wanti lagi.
Lalu, tak ada perbincangan lagi. Laskar dan Laila memutuskan untuk pulang.
__ADS_1
Tinggallah sekarang Stella dengan tangis kebingungannya. Bagaimana tidak? Kedua orang itu datang tanpa permisi. Meminta pengakuan dari mereka. Bagaimana jika mereka memberitahu Berliana sebelum anak itu siap. Sungguh, Stella takut akan hal itu.
Bersambung...