PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Luka Tak Berdarah


__ADS_3

Hari ini adalah hari terbahagia dalam hidup Luis dan juga Vita. Kedua calon mempelai itu terlihat begitu bersemangat menghadapi hari paling bersejarah dalam hidup mereka. Vita dirias begitu cantik. Sampai Stella, sang kakak, pangling.


"Masya Allah, ayu banget kamu, Vit. Pantesan Luis termehek-mehek," canda Stella sembari mengambil gambar sang adik dengan kamera ponselnya.


"Kakak bisa aja, tapi Vita sedih, Kak. Ibu nggak bisa dateng. Padahal, Vita pengen pas akad ada ibu," ucap Vita sedih. Sampai air mata yang berusaha ia tahan akhirnya keluar juga.


"Sabar ya, Dek. Kamu mending loh, nolikah masih ada Kakak, ada abangmu, Mama Sera. Teman-teman kamu juga pada dateng. La Kakak, boro-boro temen, keluarga aja nggak ada yang dateng. Udah gitu dipaksa lagi. Miris kan?" balas Stella sedikit kesal dengan kelakuan sang suami yang menurutnya menyebalkan itu.


"Ya, tapi sekarang kan jadi hot, Kak. Lihat aja abang, ngejar-ngejak Kakak ampek ke Belanda," balas Vita senang.


"Terus kamu nggak gitu, Luis malah hampir setiap detik mau bolak balik Jakarta-Batam. Entah berapa duit yang telah ia keluarkan demi untuk bertemu sang tambatan hati," balas Stella tak mau kalah.


Vita terkekeh sebab apa yang kakaknya ucapkan adalah sebuah kebenaran. Luis memang sangat menyayanginya. Luis memang sangat mencintainya. Sampai rela menghabiskan banyak uang hanya untuk bertemu dengannya. Ya begitulah Luis, dengan sikap manis dan juga kasih sayangnya. Diperlakukan sedemikian rupa, tak mungkin bagi Vita untuk menyakiti dan menolak pria itu.


Waktu yang dinanti pun tiba. Luis sudah duduk di depan penghulu dan di temani oleh nenek sekaligus beberapa kerabat. Menunggu sang mempelai wanita datang kepadanya.


Sedangkan dari pihak Vita ada Juan, Stella, Sera, dan juga beberapa teman akrabnya. Tanpa terkecuali Zein. Pria itu sekarang ada tepat di samping kedua sahabatnya.


Raut wajah Zein tak luput dari perhatian Rehan, sang sahabat. Karena pria itulah yang paling tahu, bagaimana perasaan Zein saat ini. Rehan yakin, bahwa saat ini Zein pasti merasakan sakit yang teramat sangat sakit. Karena wanita yang ia cintai akan menjadi milik orang lain.


Setelah ijab qobul Luis ikrarkan nanti, maka tak ada lagi kesempatan bagi Zein untuk mendapatkan Vita. Namun, Zein ikhlas. Sangat-sangat ikhlas.


Kini Vita telah berjalan menuju tempat di mana acara ijab qobul akan dilaksanakan.


Vita terlihat begitu cantik, ia mengenakan kebaya putih yang terlihat sangat mewah. Riasan wajah yang terlihat natural menambah kesan manis pada wanita ini.

__ADS_1


Vita berjalan pelan diapit oleh Safira dan juga ibu Laila. Mereka berdua terlihat begitu hati-hati menjaga Vita. Membuat Hati Zein tertusuk perih. Bagaimana tidak? keluarganya menjaga gadis itu, bukan untuk dirinya tetapi untuk pria lain.


Rehan melirik sang sahabat yang saat ini sedang menatap wanita yang dia cintai itu. Tanpa sengaja Rehan melihat mata Zein memerah. Seperti menahan amarah. Atau lebih tepatnya menahan rasa sakit yang saat ini meremas jantungnya.


"Kalo kamu nggak kuat, yuk kita keluar!" ajak Rehan berbisik lirih.


"Ah, nggak... aku oke!" jawab Zein sembari membuang pandangannya dan mengusap diam-diam air matanya.


"Oh oke, hapus air matamu. Jangan sampai Vita melihatnya. Kamu nggak mau kan kalo dia jadi ragu," ucap Rehan mengingatkan.


"Ya!" jawab Zein singkat. Namun, perihnya hati tepat saja perih. Sepandai apapun seseorang merahasiakannya, tetap saja yang namanya sakit ya sakit.


Zein masih menatap penuh amarah pada Vita dan Luis. Mata elang bergantian memerhatikan mereka. Terlebih pada Vita yang saat ini tengah duduk dengan senyum mengembang di sebelah pria pilihannya.


Rasanya, ingin sekali Zein menarik tangan gadis cantik itu dan membawanya lari. Biarkan pesta ini berantakan. Biarkan pria yang kini sedang berjabat tangan dengan penghulu itu, menangis. Zein tak perduli. Sungguh Zein tak peduli.


Semenit kemudian, Zein tersadar dari lamunan jahatnya, setelah mendengar teriakan "Sah" dan riuhnya tepuk tangan para saksi, yang bagi Zein tepuk tangan dan teriakan itu adalah teriakan paling menyakitkan. Apa lagi tepuk tangan riuh itu, serasa seperti cambuk yang menyabet seluruh tubuhnya. Serasa amat sangat sakit.


Ingin rasanya Zein memaki semua orang yang ada di sini. Agar mereka semua tahu, bahwa hatinya saat ini sakit. Bahwa hatinya saat ini terluka. Namun ia tak bisa mengungkapkan rasa itu.


"Zein!" ucap Rehan kembali mengagetkannya.


"Apa sih?" tanya Zein, suaranya berubah ketus. Mungkin ini karena pengaruh pikirannya.


"Ayo kita kasih selamat pada kedua mempelai itu!" ajak Rehan lembut.

__ADS_1


"Kamu sendiri aja sana, aku ogah!" jawab Zein kembali ketus. Seperti tak sadar dengan apa yang ia katakan.


Tentu saja jawaban Zein membuat Rehan tekejut setengah mati. Bagaimana tidak? Seorang Zein, pria gagah yang selalu berpikir rasional, Tiba-tiba saja jadi galak, judes dan tak memikirkan nama baik sendiei, hanya karena ia sakit hati dan cemburu.


"Oh my god, Zein. Oh come on. Kamu jangan bikin Luis curiga. Please!" ucap Rehan mengingatkan.


"Ih apa sih? Dibilang ogah ya ogah!" jawab Zein semakin marah.


"Gila lu, Zein. Tahan tahan, tahan pokoknya tahan, sekali lagi tahan. Ini acara penting buat gadis itu. Kamu jangan bikin gara-gara, deh! Sampai kamu berbuat macam-macam. Aku nggak akan mengampunimu!" ancam Rehan mulai tak sabar.


"Bodo amat!" jawab Zein seraya pergi meninggalkan tempat menyebalkan ini tanpa peduli dengan apa yang dipikirkan orang-orang yang sedang melihatnya aneh.


Rehan hendak menyusul, tetapi keburu Luis menghampirinya. "Eh, tadi ada Zein. Mana dia?" tanya Luis tanpa basa basi.


"Oh, sorry, Bro. Dia buru-buru. Katanya mules. Sepertinya dia salah makan. Dia titip salam buat kalian berdua," jawab Rehan gugup. Sebab ia harus berbohong demi menutupi kebodohan Zein.


"Oh, oke ... baiklah. Ngomong-ngomong makasih udah datang. Udah mau jadi saksi pernikahan kami," ucap Luis seraya menyambut tangan Vita yang tiba-tiba datang kepadanya.


"Sama-sama, nanti gantian ya, Bro. Insya Allah, sebulan lagi aku dan calon istri nyusul. Oiya, selamat ya Vit, Bro.. semoga rumah tangga kalian langgeng. Awet sampai kakek nenek. Berdua terus sampai ke jannah... Aamiin," ucap Rehan.


Vita dan Luis yang mendapat doa baik itu, tentu saja langsung mengamininya.


"Oke, makasih banyak ya, Bro, doanya. Baiklah, kami permisi dulu. Mau nyapa tamu yang lain. Ayok dinikmati hidangannya. Silakan," ucap Luis ramah.


Rehan mengangguk menyetujui. Kemudian Luis dan Vita pun meninggalkannya. Sedangkan ia sendiri sudah mencari ancang-ancang untuk kabur mencari sahabat gilanya itu.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like komen n vote yes🥰🥰🥰🥰


__ADS_2