PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Memantapkan Pilihan


__ADS_3

Sebaik apapun menutupi rasa, nyatanya kegelisahan itu tetap ada. Vita adalah Vita, gadis ceria dengan segala kebaikan dan keburukannya. Menuliskan sebuah keputusan yang berat dalam otaknya. Untuk tetap melangkah bersama Luis. Melupakan cintanya pada Zein. Apapun yang terjadi.


Vita merapikan barang-barangnya untuk segera pergi dari kota ini. Ia tak ingin tinggal lebih lama di kota ini. Kota ini malah semakin memperdalam cintanya pada pria itu. Vita lelah.


Beberapa jam berlalu, Vita meminta izin kepada Juan untuk tinggal di apartemen milik kakak iparnya itu sembari menjalankan bisnis online shop nya. Di sana, Vita juga berharap bisa membangun toko bajunya sendiri. Seperti cita-citanya selama ini.


Juan adalah kakak ipar yang baik. Mana mungkin dia menolak permintaan baik itu. Sebenarnya, Juan tahu, itu bukanlah alasan utama Vita meninggalkan kota ini. Pasti salah satu alasannya adalah Zein. Pria yang diinginkan oleh hatinya. Namun, ditolak oleh keadaan.


***


Di sini bukan hanya Vita dan Zein yang sedang berperang melawan rasa. Ada pula pasangan Safira dan Lutfi. Diam-diam saat ini, mereka berdua juga sedang berperang melawan rindu. Perasaan mereka menggebu Ingin bertemu. Namun, untuk Lutfi sendiri tak punya alasan untuk menjenguk wanita yang kini sukses membuatnya resah itu.


Sedangkan Safira sendiri, berharap Lutfi datang menjenguknya. Mau pakai alasan apapun Safira tak peduli. Yang penting baginya, Lutfi datang menemuinya. Meski hanya menatapnya. Safira ingin. Sangat-sangat ingin. Terlebih ketika ia tahu, bahwa yang membawanya ke rumah sakit adalah pria itu. Si superhero yang tampan.


Sangking inginnya bertemu pria itu, Safira diam-diam duduk di dekat jendela. Melihat barisan mobil yang ada di bawah. Berharap, salah satu pengendara itu adalah pria itu. Pria yang sukses membuatnya resah.


"Fira mau makan?" tanya Laila ketika melihat sang putri hanya melamun.


Safira menggeleng.


"Fira pengen apa?" tanya Laila lagi.


Safira masih menggeleng. Lalu, ketika tak sengaja ia melihat seorang ibu sedang menggendong bayi, Safira pun mengingat Naya. Mengingat keinginannya untuk mengadopsi bayi itu.


Tak menunggu waktu lagi, Safira pun kembali mengutarakan keinginannya itu untuk mengadopsi bayi tersebut pada sang ibunda tercinta.


"Ma!" ucap Safira sambil memutar kursi roda yang ia naiki.

__ADS_1


"Ya, Fira mau apa? Fira mau makan apa?" tanya Laila sembari membantu sang putri kembali ke ranjang pasien tempatnya di rawat.


"Nama ingat nggak, Fira pengen adopsi bayi," ucap Safira sambil menutupi kakinya dengan selimut.


"Iya, ingat. Kenapa? Emangnya Fira mau ngadopsi bayi siapa?" tanya Laila.


"Anaknya si Lutfi, Ma," jawab Safira, sedikit takut sih. Takut sang ibunda berpikir macam-macam terhadap dirinya.


"Anaknya Lutfi? Emang boleh ama bapaknya. Kamu ini, ada-ada aja," jawab Laila meremehkan.


"Fira hanya kasihan sama gadis cilik itu, Ma. Badannya kurus banget. Kayak kurang nutrisi. Sepertinya pengasuhnya nggak begitu parhatian deh, Ma. Terus baju-bajunya, aromanya. Pokoknya kasihan deh Ma." Safira menatap sang ibunda, berharap Laila mau meluruskan niatnya.


"Emangnya Lutfi nggak ngurus. Kok ampek segitunya?" tanya Laila heran.


"Bukan nggak urus, Ma. Dia kan sibuk, seharian kerja, kadang juga pulang malem kalo pas papa lagi rapat atau pas ada klien. Kan Lutfi jadinya nggak ada waktu buat deket atau ngurus putrinya, Ma. Ya kan, kasihan tahu, Ma," jawab Safira serius.


Laila menganguk-anggukkan kepala. Seperti sedang memikirkan apa yang Safira usulkan.


Safira menatap sekilas pada sang ibu. Lalu ia pun kembali mengutarakan apa yang ada di pikirannya.


"Lutfi nya suruh ke sini aja, Ma. Kita tanyain, boleh nggak Naya buat kita." Safira sepertinya berhasil mempengaruhi sang mama. Terbukti Laila menyetujui usulnya.


Laila pun mengambil ponsel yang ia simpan di atas nakas ranjang pasien Safira. Kemudian ia pun menghubungi Lutfi dan meminta pria tampan itu ke rumah sakit.


Karena tidak mengetahui maksud dan tujuan sang majikan memanggilnya, tentu saja Lutfi tak membantah. Ia pun segera tancap gas menuju rumah sakit di mana Safira dirawat.


***

__ADS_1


Seharian penuh, Zein memikirkan cara untuk menjauhi Vita. Bukan ingin bersikap sebagai pengecut. Ia hanya tak ingin membuat gadis yang dicintainya itu semakin tersiksa jika sering bertemu dengannya. Zein takut Vita akan goyah karena tak sanggup menahan cinta yang terus mengusiknya. Zein harus tetap membuat keputusan.


Dalam lamunannya, tiba-tiba Zein teringat permintaan Laskar untuk membantunya mengelola bisnis keluarga mereka yang ada di Ujung Pandang. Zein tersenyum, sebab ia telah menemukan alasan untuk resign dari pekerjaan yang ia tekuni kali ini.


Zein yakin, jalan yang ja pilih kali ini adalah jalan terbaik. Jalan yang diinginkan semua orang.


Selesai merapikan pekerjaannya, Zein pun langsung bersiap untuk berangkat ke Jakarta. Malam ini ia harus menemui bosnya dan melaporkan semua tugas yang diberikan oleh Luis kepadanya.


Ternyata kesibukan yang dilakukan samg putra tak lepas dari perhatian sang papa. Yang sedari tadi memerhatikannya.


"Zein jadi berangkat ke Jakarta?" tanya Laskar ketika masuk ke kamar sang putra.


"Ya, Pa! Ini Zein lagi siap-siap," jawab pria tampan ini.


"Papa baru dapat kabar, ibumu kena vonis sembilan tahun penjara dan denda seratus juta. Gimana kamu mau bantu urus tidak?" tanya Laskar pada sang putra.


"Boleh, Pa. Nanti Zein bantu urus," jawab Zein pada papa kandungnya.


"Kalo soal bapakmu, gimana? Kamu masih mau urus apa tidak. Tapi sepertinya kasus dia banyak sekali, Zein. Pacarnya terlalu dalam menjerumuskan dia," tambah Laskar. Sebenarnya Laskar tidak tahu apa tujuannya membahas Agus dan juga Widya. Menurutnya, Zein hanya berhak saja mengetahui kabar kedua orang tua yang membesarkannya itu.


"Zein masih belum tahu perkembangan kasusnya, Pa. Tapi, Zein juga nggak akan biarin mereka menghadapi masalah mereka sendiri. Zein akan coba bantu nanti," jawab Zein yakin. Dalam pikiran pria tampan ini, mau bagaimanapun mereka adalah orang tua yang berjasa kepdanya. Zein harus tetap berbakti. Tak peduli kesalahan yang telah mereka perbuat di masa lalu padanya.


"Baiklah, apapun hasilnya tolong beri tahu, Papa. Siapa tahu Papa bisa bantu juga," ucap Laskar sembari menepuk kedua pundak sang putra. Bermaksud memberikan semangat pada putra terbaiknya itu.


"Siap, Komandan! Laksakan!" jawab Zein tegas. Tak hayal kedua ayah dan anak itu pun tertawa senang.


Tak lupa, Zein juga mengutarakan keinginannya untuk berhenti bekerja pada Luis. Kalau boleh, ia ingin membantu sang ayah mengembangkan bisnis keluarga yang ada di Ujung Pandang.

__ADS_1


Tentu saja, keinginan Zein ini di sambut baik oleh Laskar. Dengan penuh kasih sayang, pria paruh baya itu pun memeluk sang putra. Sebab itulah keputusan yang selama ini ia nanti.


Bersambung...


__ADS_2