PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
MEMILIH PERGI


__ADS_3

Keesokan harinya...


Semalam utuh Stella menunggu Juan mencarinya. Nyatanya masih tidak ada kabar. Akhinya Stella pun memutuskan pergi dan memberi waktu pada Juan untuk mengambil keputusan yang tepat untuk hubungan mereka.


Stella tidak bisa menuruti permintaan Rehan. Untuk tetap tinggal di Batam. Tempat tinggalnya dengan sang suami.


Entah mengapa? Stella tak bisa kembali ke sana. Rasanya sakit saja, sebab pria sandaran hatinya begitu tega memintanya pergi. Namun, wanita cantik ini berjanji akan kembali ketika hatinya siap.


Stella hanya tak mau menjadi pengemis cinta. Ia ingin menjadi dirinya sendiri. Bisa berjuang sendiri untuk hidupnya. Stella tak mau lagi menggantungkan hidupnya pada seorang pria. Baginya, cukup sampai di sini ia mencintai. Kalau pada akhirnya dia tak diinginkan.


Sedih, tentu saja Stella sedih. Bagaimana tidak? Selama ini Juan begitu perhatian padanya. Begitu baik padanya. Namun, hanya satu kesalahan yang ia lakukan, Juan bisa seberingas itu. Menurutnya Juan sangat keterlaluan.


"Kakak yakin mau meninggalkan Indonesia?" tanya Vita sambil membantu merapikan barang-barangku Berliana.


"Sebaiknya begitu, Vit. Mungkin ini jalan terbaik untuk Kakak sama abangmu. Nyatanya di hatinya masih ada wanita lqin," jawab Stella, tak terasa air mata wanita cantik ini pun menetes begitu saja.


Vita tak mungkin melarang, ini adalah urusan rumah tangga mereka. Mau bagaimanapun dia tak berhak ikut campur.


"Terserah Kakak aja kalo begitu, kabar-kabar kalo udah sampai ya, Kak. Nanti kalo abang tanya gimana?" ucap Vita.


"Dia nggak akan nanya, kan sekarang udah ada yang lain," jawab Stella yakin.


"Ya nggak segampang itu, Kak!" Vita sangsi jika Juan ada rasa dengan Fira.


"Seriusan, Kak. Kalo Fira itu mantan abang?" tanya Vita lagi, bermaksud mematikan.


"Iya," jawab Stella singkat.


"Sungguh Vita nggak tahu, Kak. Fira hanya cerita sekelebat saja. Dia nggak pernah sebut nama kekasihnya." Vita menatap sang kakak.


"Iya, sudah nggak usah dibahas. Semua pasti ada jalan keluarnya. Oiya, apakah kamu sudah dengar kabar tentang ayah?" tanya Stella tiba-tiba.

__ADS_1


"Ayah Kak? Vita malas!" Vita memayunkan bibirnya.


"Entahlah, aku tahu ayah sangat jahat pada kita. Namun, mau bagaimanapun beliau tetap ayah kita. Tidakkah sebaiknya kita jenguk beliau!"


"Coba Vita cari info dulu, Kak. Bisakah ayah dijenguk. Sebab kasus ayah termasuk berat," jawab Vita. Sebenarnya ia juga sedih. Tapi mau bagaimanapun ayahnya sangat keterlaluan kepadanya, kepada kakaknya, terlebih kepada ibunya.


"Nanti kabarin ya. Oke Kakak jalan dulu. Kamu jaga diri baik-baik ya. Assalamu'alaikum!" ucap Stella sembari menggendong Berliana dan bersiap meninggalkan negara ini.


"Waalaikumsalam," Tak lupa Vita juga membantu sang kakak membawa barang-barang milik mereka dan memasukkannya ke dalam taksi yang sudah mereka pesan.


***


Di sisi lain, Rehan tak bisa menahan hatinya. Ia tahu jika Stella sudah terbang ke tempat tujuannya. Sekarang tak ada lagi yang akan melarangnya menghajar pria bodoh itu.


Rehan dengan keyakinan yang kuat, ia pun segera berkendara ke tempat di mana Juan berada. Ia ingin tahu bagaimana reaksi pria itu jika tahu anak dan istrinya telah pergi meninggalkan negara ini.


"Di mana Juan?" tanya Rehan pada Salsa.


"Dia itu sudah jadi bapak masih aja tingkahnya kayak anak kecil. Maunya apa sih," gerutu Rehan kesal.


Salsa tak menjawab, sebab pada kenyataannya begitulah Juan. Sangat sensitif dengan hati.


Rehan mengetuk tak sabar pintu kamar itu. Lalu, dari dalam terdengar suara langkah kaki. Rehan yakin jika itu adalah Juan, yang mau membukakan pintu untuknya tentunya.


"Apaan sih, Sa. Brisik banget!" ucap Juan ketika membuka pintu kamarnya.


Sayangnya, orang yang ada di depan pintunya bukanlah Salsa. Melainkan Rehan dengan pandangan siap mengintimidasi dan menghajarnya.


Juan terlihat malas, enggan saja meladeni Rehan yang tampak marah padanya.


"Ngapain sih!" ucap Juan kesal.

__ADS_1


"Ngapain sih ngapain sih! Maksud lu apa suruh Stella pergi. Kalo dia pergi beneran gimana?" cecar Rehan kesal.


Juan diam.


"Lu jangan kek ABG, Jun. Ini masalah serius. Masalah hati. Demi elu, Stella rela nggak tidur. Nyariin elu. Dia begitu khawatir. Gila aja lu, setelah ketemu lu suruh dia pergi! Hati lu di mana Jun, di mana? " Rehan mulai tak bisa sabar menghadapi sahabat bodohnya ini.


Juan masih diam. Karena dia tahu dia salah.


"Sekarang dia udah pergi! Mau apa lu?" pancing Rehan geram.


"Stella nggak akan ke mana-mana. Dia punya janji padaku. Aku pun punya janji dengannya. Tak akan terjadi apapun pada hubungan kami," jawab Juan lirih.


"Heh, punya janji konon. Elu dah suruh dia pergi! Nggak akan lagi dia kembali sama elu!" Rehan mulai tak bisa menahan emosinya.


"Dasar gila!" Rehan kembali mengumpat kesal.


"Please, Re. Biarkan aku sendiri dulu. Izinkan aku mengerti keinginan hatiku. Aku tidak membenci Stella, demi Tuhan aku mencintainya, hanya saja hatiku masih belum bisa terima ketidakjujurannya," ucap Juan memohon.


"Kalo kamu cinta sama dia, nggak gini caranya Jun. Bicarakan baik-baik. Tanyakan baik-baik. Sejak kapan dia tahu kalo Fira masih hidup. Kan gitu! Sungguh, andai kemarin Stella nggak memohon, udah aku hajar kamu!" Rehan terlihat ngos-ngosan menahan amarah.


"Aku hanya ingin mengerti hatiku, Re. Nggak ada maksud lain," jawab Juan, seolah apa yang dia lakukan pada Stella sama sekali tak berpengaruh buat wanita itu.


"Apa yang ingin kamu buktikan ha? Cintamu pada wanita yang telah kamu anggap mati. Astaga Jun! Kamu ini bodoh apa bagaimana?" Rehan menatap tajam ke arah sang sahabat.


"Aku....!" Juan tak kuasa melanjutkan ucapannya karena saat ini juga pria ini menyadari bahwa apa yang ia lakukan pada sang istri sangat keterlaluan. Harusnya dia tak lari. Harusnya dia tak marah.


"Maaf, Re. Aku harus pulang!" ucap Juan seketika beranjak dari


Rehan tahu jika saat ini Juan pasti menyesal. Pria itu pasti menyesal telah membuat istrinya terluka. Namun, terlambat, Stella telah pergi. Membawa serta Berliana. Membawa serta kenangan mereka. Stella, wanita rapuh itu tak ingin terlalu masuk ke dalam ruang di mana ia tidak diinginkan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2