PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Berharap Ini Takdir


__ADS_3

"Ada apa ini?" tanya Zein ketika melihat Safira berlari karena dikejar oleh Lutfi.


Mendengar suara seseorang menegurnya, Safira pun berhenti dan menjawab, "Pria ini bikin masalah, Bang. Aku nggak boleh ikut dia pulang! Secara aku ini kan istrinya kan! Mana boleh dia main tinggalin aja." Safira menatap kesal. Sengaja memojokkan Lutfi agar Zein membelanya.


"Bukan begitu, Bang. Ini udah malem. Saya harus pulang untuk jagain Naya. Kan pengasuhnya juga mesti pulang. Masak bocah itu sendirian, kasihan kan, Bang?" jawab Lutfi tak mau kalah.


"Aku sekarang ibunya kan, Bang. Kenapa pria pelit ini terus menghalang-halangiku untuk ketemu putriku? Kenapa dia selalu banyak alasan? Mulai hari ini aku kan juga punya hak untuk ketemu putriku? Coba Abang pikir, yang punya masalah di sini, Fira atau pria aneh ini. Dia menyebalkan sekal!" jawab Safira semakin emosi.


Zein melipat kedua tangannya, menatap serius. Menjadi penonton setia. Walau pada kenyataannya dia ingin tertawa.


"Bukan gitu, Ra. Kan tadi udah tak jelasin. Lagian ini udah malem. Kamu istirahat aja, nanti kalo kamu sakit, om sama tante pastinya marahin aku. Serius, Bang, saya cuma khawatir!" Lutfi mulai menurunkan nada bicaranya. Agar Safira mau memahami maksudnya.


"Ra ayolah, aku nggak mau kamu sakit. Kan tadi udah bilang iya!" ucap Lutfi sembari mengejar Safira.


"Bohong, Bang. Dia nggak ngomong begitu tadi. Dia bilang kamu jangan deket-deket putriku. Nanti putriku jadi cengeng, tukang marah kek kamu!" balas Safira berbohong.


"Bohong, Bang. Dih, aku nggak ngomong begitu ya!" Lutfi terlihat kebingungan. Sebab ia takut, Zein lebih percaya pada adiknya.


Sayangnya Safira tak mau mendengarkannya. Tanpa kata wanita cantik ini pun kembali melangkah meninggalkan dua pria yang tak mengerti inginnya itu. Tetapi Lutfi tak mau kalah, ia pun segera menyusul wanita tukang marah itu.


Sedangkan Zein hanya diam sambil tersenyum menahan tawa. Bagaimana tidak? Sekarang bukan hanya dirinya yang kerepotkan dengan rengekan Safira. Ada Lutfi yang juga bernasib sama dengannya.


"Sabar, Bro, sabar. Tarik napas dalam-dalam lalu embuskan. Setelah itu turuti saja inginnya. Dari pada kamu pusing," ucap Zein. Sebenarnya dia meledek, senang, karena dia punya kawan senasib.


"Ah, Abang. Tahu ah!" jawab Lutfi kesal. Tak ingin sang Tuan Putri kembali marah, akhirnya Lutfi pun segera berlari untuk menyusul wanita pemarah itu tersebut. Sedangkan Zein hanya tertawa menyaksikan pertengkaran konyol kedua sejoli itu.


"Ra, tunggu!" panggil Lutfi.


"Apa sih!" Safira terlihat marah.

__ADS_1


"Jangan marah begitu! Dengerin dulu!" pinta Lutfi.


"Nggak mau, kamu pasti mau nglarang aku buat ikut kan. Iya kan?"


"Nggak, bukan begitu. Ini udah malem, aku pulangnya naik motor pula. Nanti kamu ngantuk. Udah gitu dingin," ucap Lutfi.


"Tu kan bener! Kamu bakalan nyuruh aku di rumah. Sengaja nglarang aku buat ketemu Naya kan. Kamu tu jahat, tahu nggak!" mata Safira terlihat berkaca-kaca.


Lutfi hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Tak ingin terus berdebat, akhirnya dia pun terpaksa mengajak wanita cengeng itu.


"Baiklah, baiklah, nggak usah nangis. Marilah!" ajak Lutfi. Kemudian ia pun melepas jaketnya dan meminta wanita cengeng itu memakainya.


"Nah, pakai!" suruh Lutfi.


"Kan udah pakai, buat kamu aja. Kan kamu yang nyetir," jawab Safira.


"Nggak mau, nanti kamu juga dingin. Kan kamu yang nyetir," balas Safira tak mau kalah.


Mendengar balasan sang istri tentu saja menghadirkan sebuah harapan di hati dan pikiran Lutfi. Dalam hati dan pikirannya, Pria tampan ini berharap pertemuannya dengan Safira bukan hanya hadir tetapi Lutfi ingin ini juga sebuah takdir. Takdir yang menemani langkahnya sampai nanti. Sampai maut memisahkan.


Entahlah, kenapa Lutfi tiba-tiba menginginkan itu. Padahal pada kenyataannya Safira selalu marah-matah tak jelas padanya. Barbar dan selalu menang sendiri. Tetapi, tak jarang pulang Safira juga baik dan perhatian padanya.


Contohnya seperti saat ini. Mereka sedang dalam mode marah. Tapi, tanpa mereka sadari, rasa sayang juga tiba-tiba hadir. Dan tak dipungkiri bahwa rasa sayang itu juga memberikan ketenangan untuk mereka berdua.


"Nanti kalo ngantuk, bilang ya!" ucap Lutfi ketika Safira naik ke atas motornya.


"Iya, bawel. Cepetan dah nggak sabar ni pengen cepetan ketemu kesayanganku!" ucap Safira dengan senyum cantiknya.


"Pegangan!" pinta Lutfi ketika ia mulai melakukan kendaraannya.

__ADS_1


Safira tak menolak, ia pun segera memegan kedua sisi jaket Lutfi. Sebenarnya ragu, tapi tak mungkin juga menolak.


***


Malam ini, bukan hanya Lutfi yang memiliki harapan. Kedua orang tua Zein juga memiliki harapan yang tak kalah menyenangkan.


Mereka sangat berharap pernikahan Safira bisa langgeng. Menghasilkan banyak keketurunan untuk mereka. Terlebih untuk Laila. Wanita yang merasa dirinya tak sempurna karena tak bisa mengandung itu, tentu saja memiliki banyak cucu adalah cita-citanya.


"Udah tidur. Orang anaknya udah nikah. Udah punya suami. Mau apa lagi?" tanya Laskar pada sang istri yang sedari tadi tidak mau memejamkan matanya.


"Menurut Papa, keputusan kita jodohin Lutfi smaa putri kita itu, tepat nggak Pa?" tanya Laila ragu.


"Loh, piye to, bukankah Mama yang nyaranin waktu itu!" Laskar menarik sang istri dan membawa wanita yang dicintainya itu ke dalam pelukannya.


"Bukan begitu, Pa. Lutfi kan belum tahu gimana masa lalu putri kita, Pa. Bagaimana kalo Lutfi nggak bisa terima," ucap Laila.


Laskar diam sesaat. Memikirkan apa yang istrinya sampaikan. Ada benarnya. Tetapi, entah mengapa Laskar yakin kalo Lutfi tidak akan mempermasalahkan itu.


"Kita do'ain aja yang terbaik untuk mereka, Ma. Kita sebagai orang tua hanya bisa melakukan itu sekarang. Dan satu lagi yang perlu kita ingat, Ma. Putri kita udah bukan tanggung jawab kita lagi. Jadi kita nggak boleh ikut campur urusan mereka. Kecuali kalau mereka datang ke kita minta pendapat. Minta bantuan. Barulah kita boleh masuk ke tanah mereka. Mama ngerti kan maksud Papa!" ucap Laskar, sembari melainkan rambut panjang sang istri.


"Kalo soal itu, Mama paham Pa. Cuma Mama takut aja. Eh, Pa, bagaimana dengan cucu kita yang satunya?" tanya Laila tiba-tiba mengingat Berliana.


"Papa sebenarnya mau tanyain itu tadi, eh ngelihat dia lagi ngobrol ama adeknya istri Juan, Papa pikir besok aja deh. Masih ada waktu. Lagian Zein kan masih di sini," jawab Laskar tenang.


"Iya, Pa. Nggak pa-pa. Perihal ini, Mama juga berharap Zein jujur pada kita. Dan seandainya ia, Mama berharap dari pihak Juan mau legowo mengizinkan kita untuk menjalin silaturahmi dengan mereka," balas Laila.


Laskar tak menjawab. Pria paruh baya ini hanya mengamini doa sekaligus harapan sang istri. Berharap apa yang mereka inginkan diijabah oleh Tuhan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2