
Luis mengandeng tangan sang kekasih dan mengajaknya masuk ke dalam ruangan tempatnya bekerja. Lalu, ia pun meminta sang pemilik hatinya ini untuk duduk di kursi tempat biasa ia bekerja.
"Duduk, Honey. Mau minum apa?" tanya Luis, mesra seperti biasa.
"Nggak usah deh, aku kan nggak lama," jawab Vita sopan. Masih berusaha menjaga sopan santun dan batasan. Vita tidak mau terlalu dianggap berani dengan Luis. Sebab Luis memiliki sifat yang tidak dia duga.
Luis tersenyum. Kemudian Ia pun duduk di sofa dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Tenang, menatap beberapa berkas yang kini terkumpul di meja sofa tempatnya bekerja.
Di sini, barulah Vita merasakan kejanggalan. Sikap Luis berubah cuek padanya. Membuat Vita merasa aneh.
"Kok diem, kenapa? Nggak suka ya aku datang?" tanya Vita sembari berjalan mendekati sang calon suami.
"Ya nggak lah, masak begitu. Aku suka kamu datang. Cuma aku lagi males aja, lagi banyak masalah di kantor!" jawab Luis santai.
Sayangnya Vita yang terlanjur curiga tentu saja langsung kembali mengutarakan tujuannya datang ke sini.
__ADS_1
"Kita kan mau jadi suami istri, Uis. Coba kamu jujur sama aku sebenarnya kamu kenapa?" tanya Vita lembut. Bermaksud supaya Luis tidak tersinggung.
Luis meletakkan map yang ada di tangannya. Melepaskan kaca mata kerjanya. Menghela napas berat. Seperti sedang merisaukan banyak masalah.
"Apakah kamu akan marah jika aku berterus terang?" tanya Luis sembari menatap sendu pada sang calon istri.
"Tidak, Bicaralah! Aku akan coba jadi pendengar yang baik untuk kali ini." Vita meraih bantal sofa dan memangkunya. Menyenderkan tubuhnya. Menyamankan posisinya.
"Sebenarnya!" Luis menghentikan ucapanya. Lalu kembali menarik napas dalam-dalam. Lalu mengembuskannya perlahan. Pria yang selalu terlihat gagah di mata Vita itu, ternyata memiliki sisi rapuh yang tersembunyi. Entah Luis sedang menyembunyikan apa darinya. Tapi, Vita yakin jika Luis pasti menyembunyikan sesuatu darinya.
Luis masih menundukkan kepalanya. Sungguh, ia ragu. Ia takut kenyataan yang saat ini sedang membelenggu hatinya, akan menyakiti Vita. Sebenarnya Luis sendiri saat ini berada di dalam lubang kebimbangan.
"Apa kamu yakin ingin mendengarnya, Vit?" tanya Luis memastikan.
"Ya, kenapa tidak! Bukankah sepahit apapun kenyataan harus kita hadapi. Pernikahan yang akan kita jalani bukan permainan Uis. Aku ingin menikah sekali seumur hidupku. Itu sebabnya, semua rencana harus matang. Aku tidak ingin gagal di tengah jalan," jawab Vita tak kalah serius.
__ADS_1
Padahal, keinginan Vita yang inilah yang membuat Luis takut. Takut tak bisa mempertahankan pernikahan ini. Karena diam-diam, Luis telah menandatangani surat perjanjian dengan neneknya.
"Kamu benar, Honey. Aku memang harus jujur sama kamu. Karena ini menyangkut masa depan kita. Sepahit apapun kenyataan yang ada, aku harus cerita ke kamu. Sebab, ini juga menyangkut dirimu." Luis menoleh, menatap wajah ayu wanita yang kini menjadi pemilik utuh hatinya.
"Bicaralah, Uis. Katakan yang sesungguhnya. Apa yang membuatmu sekhawatir ini? Apa yang membuatmu berubah padaku? Apakah aku melakukan kesalahan yang tak kubsengaja? atau?" cecar Vita penasaran.
"Sebenarnya ... tanpa kamu ketahui, aku sudah menandatangani surat perjanjian dengan oma. Yang isinya mungkin sangat memberatkanmu. Aku bingung harus bagaimana, Vit. Kerena sesungguhnya beliau tidak merestui pernikahan kita," jawab Luis jujur.
Vita tercengang, kaget. Bagaimana tidak? Ketika lamaran wanita itu terlihat begitu antusias. Dia begitu bahagia, karena yang menikah dengan Luis adalah dirinya. Lalu, apa yang menyebabkan wanita itu berubah. Adakah alasan dibalik semua ini.
"Tapi kenapa, Uis? Apa masalahnya?" tanya Vita gemeter. Sungguh, Vita gemetar. Baginya, restu dalam sebuah hubungan adalah suatu hal yang sangat penting. Tanpa hal tersebut, Vita tidak yakin suatu hubungan akan langgeng.
"Karena ... karena dia tahu bagaiaman silsilah keluargamu, Vit. Perceraian kedua orang tuamu. Ibumu yang kurang sehat, ayahmu yang meninggal di penjara. Itu adalah alasan utama kenapa dia tidak menyetujui pernikahan kita. Dia ingin aku menikahi gadis dari keluarga baik-baik. Agar keturunan keluarga kami baik. Maaf, Vit jika kenyataan ini menyakitimu," ucap Luis. Kali ini, tak ada alasan baginya untuk menutupi semuanya. Bukankah Vita yang meminta dirinya untuk terbuka.
Vita menentukan kasar salivanya. Ketakutannya bertambah ketika Luis mengutarakan apa yang sebenarnya terjadi di dalam hubungan mereka. Masalah keluarganya memang bisa kompleks. Semua orang yang tahu, pasti akan memandang rendah itu. Namun, Vita sendiri juga tak bisa berbuat apa-apa. Karena itu adalah realita yang terjadi di dalam keluarganya.
__ADS_1
Bersambung....