PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
HARAPAN BARU


__ADS_3

Rahasia antara Laskar dan juga Zein mulai terkuak. Zean telah mengetahui siapa sebenarnya Laskar. Serta, bagaimana dia dan Safira tercipta. Namun Zein tidak mau menyalahkan siapapun. Baik Widya sebagai ibu kandung, Laskar, maupun Agus sendiri. Karena mereka memang memiliki kisah tersendiri.


"Bolehkah saya menentukan jalan hidup saya sendiri, Om?" tanya Zein pada pria yang menolongnya beberapa minggu yang lalu itu.


Mendengar permintaan sang putra tentu saja membuat Laskar sedikit bingung. Atau lebih tepatnya ia kurang nyaman.


"Saya hanya ingin mandiri dan tidak bergantung pada siapapun, Om," tambah Zein lagi.


Laskar menatap sekilas pada mata yang mirip dengannya itu. Lalu pria ini pun kembali menjawab permintaan sang putra.


"Papa nggak akan nglarang kamu untuk melakukan apapun yang kamu mau. Asalkan kamu ingat pulang. Rumahmu sekarang di Batam, bukan di Jakarta lagi. Mengerti! Orang tuamu sekarang adalah aku. Aku berharap kamu tak lupa itu," jawab Laskar tegas.


Zein diam, tetapi ia juga tak menolak kenyataan yang kini ada di depannya. Zein sungguh mampu bersikap dewasa.


"Soal hukum yang menjerat mamamu biar Papa nanti yang urus. Kamu nggak perlu khawatir," ucap Laskar.


Zein tersenyum kecut. Sebab, sejatinya ia tidak peduli dengan itu. Terlebih ketika ia tahu, bahwa orang-orang yang membuatnya hampir mati adalah sekelompok orang yang menangih utang padanya. Atas nama Widya.


"Jangan diam saja, Zein! Papa tahu kamu marah pada mamamu. Papa kenal dia dengan baik, ini semua bukan sepenuhnya salah mamamu. Berusahalah memahaminya. Dia menyayangimu, Zein!" Laskar tidak

__ADS_1


berniat membela Widya, namun itulah kenyatannya.


"Maaf, Om. Untuk sementara ini bisa nggak jangan bahas beliau. Saya hanya ingin melupakan sejenak masalah yang membelitku selama ini." Zein menghela napas dalam-dalam. Sedangkan Laskar juga tak bisa memaksa.


Mendapatkan hati Zein tidak semudah itu. Laskar harus berjuang untuk mendapatkan kepercayaan putra tampannya ini. Setelah mendapatkannya, bukankah ia harus pandai-pandai menjaga.


"Oke, Papa nggak akan bahas mamamu untuk sekarang-sekarang. Tetapi Papa minta, kamu tetap pamit dengannya sebelum kamu benar-benar ke Paris!" pinta Laskar serius.


Sayangnya, empati Zein untuk Widya belum tumbuh sepenuhnya. Baginya wanita yang melahirkannya itu hanya berniat memanfaatkan untuk setiap masalah yang menjeratnya.


Zein sudah berjanji pada dirinya sendiri, tak akan membiarkan siapapun memanfaatkannya lagi. Sudah cukup, selama ini Agus dan Widya memeras otak dan tenaganya untuk kepuasan mereka. Oleh sebab itu, Zein tak akan pernah mengulangnya kembali.


Pria tampan ini berniat memperbaiki hidupnya. Ia tak ingin terlalu pusing dengan urusan masa lalu. Zein berniat menyusun masa depannya. Agar lebih baik dan yang terpenting adalah tidak menyakiti orang lain lagi.


Seminggu berlalu sejak perbincangan yang dengan sang ayah, Zein pun memantapkan hatinya untuk pergi ke tempat tujuannya. Di samping itu ia juga sudah dinyatakan sembuh oleh tim dokter yang merawatnya selama ini. Baik secara fisik maupun mental. Zein merasa jiwanya lebih tenang. Dan kini ia berniat untuk mencari pekerjaan. Ia tak ingin terlihat dengan usaha keluarga, yang nantinya dia malah di manfaatkan.


Setelah diskusi dan meminta izin pada Laskar, akhirnya Zein pun memutuskan untuk merantau ke Paris. Zein benar-benar ingin melupakan kemelut yang terjadi dalam hidupnya ini. Zein ingin mencari ketenangan. Hanya itu.


***

__ADS_1


Berbeda dengan Zein yang mulai bisa melepaskan dan mengikhlaskan apa yang telah terjadi padanya. Kini ada Juan yang terus berusaha mencari keberadaan dia wanita yang membuatnya hampir gila.


Dia sudah sangat berusaha, namun tetap saja gagal. Akhirnya Juan pun memutuskan untuk kembali ke Batam. Siapa tahu Ste ada di sana, hanya saja dia tidak tahu. Juan berharap, jika istrinya itu bermurah hati memaafkannya dan kembali pulang. Meskipun jujur harapan itu sangatlah tipis.


Jalan buntu yang kini Juan lalui, membuat pria ini sering uring-uringan. Tidak semangat bekerjabekerja. Membuat Gani, sang asisten pusing dibuatnya.


"Apakah kamu sudah melacak nomer HP istriku? Di mana terakhir dia bertransaksi dengan kartu debitnya atau kartu kreditnya mungkin?" tanya Juan pada Gani.


"Maaf, Bos. Sepertinya nyonya belum memakai satupun kartu-kartu itu," jawab Gani. Sebenarnya sedikit takut dengan jawaban yang ia berikan. Namun, itu adalah kenyataan yang ada.


Juan diam sesaat. Stella benar-benar sangat paham tentang dirinya. Bahkan kartu-kartu yang bisa Juan lacak pun tan ia pergunakan.


"Stella tidak lagi lugu, dia benar-benar sukses membuatku pusing," gumam Juan sedikit kesal.


"Baiklah kamu boleh pergi, aku pun mau pulang. Kalo ada apa-apa kabari!" pinta Juan seraya beranjak dari tempat duduknya dan mengambil barang-barang yang ia butuhkan. Termasuk handphone dan juga kunci mobil.


Gani menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang. Tetapi Juan menolak. Juan hanya tak ingin diganggu oleh siapapun. Ia ingin berkeliling kota Batam. Siapa tahu ia bisa bertemu dengan pujaan hatinya di jalan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2