
Setelah mendapatkan kalender itu, Stella tertegun tanpa kata. Terkejut, namun juga senang. Sangat-sangat senang. Pikirannya langsung tertuju pada adik untuk Berliana. Seorang bayi. Bayi miliknya dan Juan. Stella tersenyum bahagia membayangkan itu. Sangat-sangat bahagia. Apa lagi jika seandainya apa yang ia pikirkan adalah kenyataan.
"Ada apa kak? Kenapa Kakak senyum-senyum sendiri begitu?" tanya Vita heran.
Stella masih mempertahankan senyumannya, sembari mengelus perut ratanya. Tentu saja, apa yang ia lakukan memancing rasa penasaran di hati sang adik.
"Kakak kenapa sih? Senyum-senyum nggak jelas gitu?" tanya Vita heran. Sedangkan Stella malah menatap dengan tatapan bahagia. Matanya berbinar sempurna. Lalu, dengan kebahagiaan itu, ia pun memeluk sang adik dengan tawa bercambur tangis bahagia.
"Kenapa sih, Kakak? tadi ketawa, sekarang malah nangis. Kenapa hemmm, kenapa?" tanya Vita bingung.
"Selama di Belanda ini, Kakak belum sekalipun dapet, Vit. Mungkinkah?" jawab Stella antusias.
Vita yang paham maksud sang kakak, tentu saja langsung ikutan tersenyum bahagia. Ia pun tak menundanya lagi, diperluknya sang kakak dengan penuh suka cita.
Kakak beradik bersorak gembira sembari berpelukan. Seakan mereka habis mendapatkan hadiah yang luar biasa.
"Ya Tuhan, Kak! Kakak serius?" tanya Vita antara percaya dan tidak.
"Iya, Kakak serius. Ya Tuhan, jika seandainya ini benar. Kakak pasti sangat bahagia, Vit. Apalagi abangmu, dia pasti juga bahagia," jawab Stella, seakan lupa, bahwa hubungannya dengan sang suami saat ini masih dalam tanda tanya.
"Iya, Kak. Sebaiknya Kakak cek dulu. Kita pastikan dulu, baru deh nanti kita kasih tahu abang," ucap Vita memberikan ide.
"Kamu benar, Vit. Sebaiknya begitu. Kakak nggak peduli sekarang, mau dia suka lagi sama Fira, atau mau balikan lagi sama wanita itu. Yang penting dia harus tahu, bahwa kami akan memiliki bayi. Seorang bayi, wujud dari cinta kami, Vita. Kakak bahagia!" ucap Stella.
"Kakak benar, sebaiknya kakak kasih tahu abang. Mau bagaimanapun, dia adalah ayahnya Kak. Siapa tahu rumah tangga kalian terselamatkan dengan hadirnya buah hati kalian. Siapa tahu abang berubah pikiran dan mau meminta maaf atas kekhalifahannya, ya kan?" ucap Vita berusaha membangkitkan semangat sang kakak untuk mempertahankan dan memperbaiki hubungannya dengan sang suami.
__ADS_1
"Iya, Vit. Kakak akan coba!" jawab Stella, kembali wanita ayu ini tersenyum bahagia. Membayangkan hadirnya seorang bayi di tengah-tengah hubungan antara dirinya dengan Juan.
***
Di sisi lain, Juan kembali mengeluarkan amarahnya. Kali ini yang menjadi sasarannya adalah seorang cleaning servis. Juan marah pada pemuda yang telah bekerja padanya hampir empat tahun itu.
Juan marah karena sang cleaning servis membuatkan kopi berwana hitam untuknya. Padahal dia meminta kopi dicampur susu.
"Maaf, Pak. Mungkin saya salah dengar," ucap si cleaning servis itu.
"Kamu ini.... kerja jangan ngelamun. Bawa balik, kopi apa itu warnanya hitam pekat begitu, menjijikan sekali." Juan menatap tajam ke arah pemuda itu. Tentu saja tatapan Juan membuat pria yang berprofesi sebagai pelayan itu gugup.
"Maaf, Pak! Akan saya ganti!" ucapnya lagi.
Bersamaan dengan itu, Gani masuk. Tentu saja, pria ini heran dengan perangai sang big bos yang menurutnya nyleneh.
"Ada apa sih, Bos? Marah mulu deh!" tanya Gani sembari meminta sang cleaning servis yang biasa membuatkan kopi untuk mereka itu keluar ruangan.
"Aku kesal, masak kasih minuman untukku warnanya hitam pekat gitu. Di kira aku apaan?" gerutu Juan kesal.
"Astaga, Bos! Namanya juga kopi. Kopi itu memang hitam pekat. Bos ini ada-ada saja. Biasanya juga Bos minum itu," sanggah Gani tak kalah gemas.
"Iya itu dulu, sebelum aku geli. Entah mengapa sekarang aku tak suka begituan. Lihat nasi saja aku mual." Juan beranjak dari duduknya dan menjauhi Gani. Karena menurutnya Gani sangat bau.
Gani yang tidak tahu apa yang di lrasakan sang atasan tentu saja mendekatinya.
__ADS_1
"Stop di situ!" pinta Juan sembari menunjuk ke arah Gani.
"Astaga, Bos! Kenapa lagi? Salah saya apa lagi?" tanya Gani heran.
"Kamu bau sekali! Apa kamu tak mandi?" ceplos Juan, tanpa berpikir apakah nantinya Gani tersinggung apa tidak. Yang jelas baginya Gani memang bau.
"Ya Allah, Bos. Ya mandi lah, aku memang ganti parfum. Tapi yang ini wangi juga kok," jawab Gani membela diri.
"Nggak, nggak, nggak, kamu bau sekali. Jangan mendekatiku. Bicara jauh-jauh saja. Astaga! Jangan pakek parfum murahan ini lagi!" larang Juan dengan nada sedikit tinggi.
Tentu saja keanehan sang big bos menghadirkan tanda tanya di hati Gani. Tanpa berpikir panjang, pria lajang inipun menyuarakan pemikirannya.
"Bos ini seperti orang ngidam! Sensitif sekali," celetuk Gani.
"Ngidam! Ngawur kamu. Mana ada begitu?" timpal Juan tak percaya.
"Ye, bisa aja, Bos. Ibu Ste yang hamil, Bos yang ngidam. Itu namanya Bos kena syndrom kehamilan simpatik. Itu biasa lagi, Bos," ucap Gani memberitahu.
Juan diam, berusaha mencerna setiap kata yang disampaikan oleh sang asisten.
Jujur perkataan Gani menghadirkan ketakutan sekaligus kebahagiaan untuk Juan. Bagaimana tidak? Jika seandainya benar Stella hamil, lalu siapa yang menjaganya saat ini. Juan tahu benar bagaimana wanita itu saat mengandung.
Seandainya Tuhan memberinyaa kesempatan untuk bertemu kembali dengan sang kekasih hati, saat itu juga dia tak akan pernah melepaskannya.
Bersambung...
__ADS_1