PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 54


__ADS_3

Hidup tidak melulu tentang Cinta. Zi berusaha berpikir se realistis mungkin. Karena, saat ini, dia tidak boleh hanya memikirkan dirinya sendiri. Karena ada calon janin di dalam rahimnya yang membutuhkan kasih sayang, cinta dan juga kehidupan darinya.


Perjalanan cintanya memang getir. Namun, Zi berjanji pada dirinya sendiri agar kehidupan anaknya kelak tidak akan terpengaruh oleh kesedihan yang sekarang menderanya.


"Jangan takut, Sayang. Percayalah mama akan menjagamu dengan baik. Mama yakin kalo kita pasti bisa hidup bahagia, meskipun tanpa papamu, heemm!" ucap Zi sembari mengelus perutnya yang masih rata.


Zi tersenyum bahagia, karena calon bayinya lah ternyata yang bisa memberinya kebahagiaan yang luar biasa. Calon bayi itu ternyata bisa memberinya kekuatan dan ketegaran untuk tetap melangkah menjalani hidup.


Zi berusaha bangkit. Selalu berpositif thinking bahwa ia pasti bisa melewati ini. Bahwa ia pasti bisa membesarkan bayinya meskipun tanpa seorang suami.


Zi akan berusaha keras untuk membuat bayi di dalam kandungannya ini tetap sehat dan tidak kekurangan apapun.


Oleh sebab itu, sejak memutuskan keluar dari rumah Zein, Zi pun mulai belajar berbisnis. Beruntung, Zi memiliki beberapa teman yang berkecimpung di dunia bisnis.


Lalu ia pun mencoba menghubungi mereka satu persatu. Siapa tahu ada yang mau mengajarinya dunia yang terhitung baru baginya.


Sekali lagi, Zi tetap bersyukur sebab ia bertemu dengan orang-orang baik. Mereka dengan suka rela mengajari Zi bagaimana cara berdagang. Bagaimana cara mempromosikan dagangannya. Dan Zi sangat bersemangat ketika mempelajari itu. Jadi sekarang, bukan hanya jarum suntik dan beberapa alat kesehatan yang ia tahu. Zi juga siap menjadi super mom dan pembisnis muda.


Zi tersenyum senang, sebab salah satu sahabatnya mengizinkannya untuk menjadi salah satu reseler produk yang saat ini sedang menjamur di masyarakat yaitu skincare. Ya Zi memulai awal bisnisnya dengan menawarkan skincare yang aman dan bersertifikat aman dan halal kepada para teman-teman dan rekan kerjanya di rumah sakit. Dan Zi sangat menyukai itu.


Zi tidak peduli apapun yang akan orang katakan tentangnya, yang jelas saat ini yang harus ia lakukan adalah mengumpulkan banyak uang untuk menghidupi buah hatinya. Sudah itu saja, Zi hanya ingin hidup tenang dan anaknya tidak kekurangan.


Zi yang tak ingin membuat masalah baru dengan Zein. Ia pun memutuskan untuk mengajukan surat pidah. Kemana saja, yang penting jauh dari tempat ini. Jauh dari Zein.


"Mama harap suatu hari nanti kamu akan paham, mengapa Mama melakukan ini. Mama hanya nggak mau membuat masalah baru dengan papamu, sayang. Mama nggak mau bikin papamu dilema sayang," ucap Zi lagi. Lalu ia pun kembali tersenyum. Meskipun senyum itu sangat ia paksakan.


Zi rasa ini adalah keputusan terbaik, ia hanya takut, jika sampai Zein tahu bahwa saat ini dia sedang hamil maka Zein tak akan melepaskannya. Zi pasti akan bingung memilih. Zein pasti akan dilema dan Zi tidak mau menjadi penghalang kebahagiaan seseorang. Toh, perpisahan ini memang menyakitkan baginya, tetapi setidaknya ia tidak menyusahkan dia hati yang saling mencintai. Zi sangat tahu bagaimana Zein. Zi sangat paham kelabilan Zein.


***


Di sisi lain, Zein telah memilih memantapkan hatinya untuk melepaskan Zi. Sebab ia merasa, hubungannya dengan wanita itu memang tidak bisa dipertahankan. Zein juga tak ingin mengantung dan terus menyakiti Zi.


Untuk meluruskan niatnya, ia pun segera menyewa pengacara untuk mengurus perceraiannya tersebut.


Sebenarnya hatinya terluka. Namun, Zein berusaha keras untuk menyamarkan luka itu dengan mencari kesibukan dengan bekerja. Lalu ketika malam, ketika dia tidak bisa tidur maka ia akan mengajak menelpon kekasihnya atau mengajak Rehan hangout.


Zein telah kembali menjadi Zein yang dulu. Yang egois dan memikirkan dirinya sendiri. Yang melakukan apapun sesuai keinginannya. Sesuai kehendaknya.

__ADS_1


Ia juga berpikir, bahwa apa yang ia lakukan saat ini adalah benar. Itu sebabnya ia tak meminta pendapat kedua orang tuanya untuk berpisah dari Zi. Sepertinya dia lupa, bahwa Zi adalah mantu kesayangan mereka.


Zein menganggap bahwa, orang tuanya tidak akan marah. Justru ia sengaja menyembunyikan perceraian ini. Nanti ketika ia meminta izin untuk menikah dengan Vita, barulah ia berencana mengungkap semuanya. Agar mereka tidak bisa mencegahnya untuk tidak menceraikan Zi dan menikahi Vita.


Zein memang sengaja menyembunyikan fakta bahwa dia telah memiliki istri dan saat ini sedang dalam proses perceraian. Karena ia tidak mau orang-orang di sekitarnya menasehati nya yang menurutnya nasehat itu tidak penting. Hanya membuatnya galau dan menuduh mereka tidak mau peduli dengan perasaannya.


***


Di lain pihak, sejak sang adik meminta pendapatnya untuk kembali pas Zein, Stella sering tidak bisa tidur.


Entah mengapa Stella tidak rela jika adik kandungnya menikah dengan sang mantan suami. Stella gelisah, sehingga membuat sang suami curiga.


"Ada apa, Mam?" tanya Juan ketika melihat sang istri hanya melamun sembari menatap jendela.


"Eh, Papi... udah selesai kerjanya?" Stella menyambut sang suami yang saat itu baru datang dari ruang kerjanya.


"Belum, tapi Papi lelah, Mam. Badan Papi rasa pegal semua," jawab Juan sembari mengelus tengkuknya.


"Apa kolesterol Papi naik lagi?" tanya Ste khawatir.


"Anak-anak gimana, Mam?" tanya Juan, sedikit merasa bersalah. Sebab beberapa bulan ini dia sering bolak-balik Jakarta. Sehingga waktu untuk keluarga nya jadi berkurang.


"Liana sering ngambek, nanyain, kenapa Papi nggak pulang-pulang. Si adek sehat, Pi. Tadi pas imunisasi naik lima ons," jawab Stella.


"Hahahaha, kesayangan Papi itu memang udah kayak pacar aja. Posesif bener. Besok deh Papi libur, biar bisa main sama mereka," jawab Juan sembari tersenyum senang. Senang karena putra putrinya sangat menggemaskan dan dalam keadaan baik.


"Gitu dong, Pi. Biar mereka merasa punya bapak. Kasihan amat, Papi berangkat mereka masih bobo, papi datang mereka tidur. Kalo boleh jujur, Mami juga mau Pi di manja kek dulu," jawab Stella, berniat bercanda tapi dia serius.


"Heemmm, Mami. Emang Mami kurang Papi manja apa? Tiap hari juga dikelonin, diketekin," jawab Juan sembari menarik kepala sang istri dan memberikan kecupan di bibir wanita yang memberinya dua buah hati nan menggemaskan itu.


"Apaan, Papi aja suka kerja sampai malam. Mama merem baru Papi masuk kamar," balas Stella tak Terima.


"Habis gimana, Mam. Perusahaan Vita juga butuh Papi, tapi sekarang udah mending ada Rehan. Bisa legaan, Papi," jawab Juan senang.


"Serius Papi besok mau libur, nanti Mami masak banyak, Pi."


"Iyalah, Papi pengen berenang sama kakak, sama adek. Sama Mami juga, kapan kita bikin adeknya Juna, Mi?" canda Juan.

__ADS_1


"Dih, Papi... " Stella gemas, lalu ia pun menyerang Juan dengan dengan ciuman penuh cinta.


"Ya kan lama Papi nggak dapat jatah, mungkin sakit kepala, Papi gara-gara lama nggak ngecharge kali ya, Mam?" Juan mulai ngelantur ke mana-mana.


"Mana Mami tahu, dih. Kan itu salah Papi sendiri. Mami ada, setiap saat boleh minta. Papinya aja yang sok sibuk." Stella enggan disalahkan, sebab ia memang selalu siap kapanpun sang suami menginginkannya.


Juan ketawa senang. Karena Stella makin pandai membalas setiap candaannya.


"Ibu gimana? Kata Minah sudah mau ngomong. Apa benar?" Juan menatap sang istri.


"Iya, kemarin minta makan. Padahal udah makan, orang Ste sendiri yang nyuapin. Katanya laper lagi," jawab Stella dengan senyum bahagianya. Sebab sang ibu sudah mulai mau berbicara.


"Ohhh, syukurlah. Semoga ibu bisa segera sembuh ya, Mam. Kasihan minum obat terus," jawab Juan, sembari memejamkan mata. Menikmati betapa nyamannya posisinya saat ini.


"Oiya, Mam. Mami kenapa dari tadi kok diam. Ada yang salah? atau Mami lagi ada masalah?" Juan menatap sang istri. Menunggu jawaban sang istri.


"Mami bingung, Pi. Vita mau balikan sama Zein," jawab Stella jujur.


Juan diam sesaat, mencoba mencari kata terbaik untuk menyampaikan apa yang ia pikirkan.


"Masalahnya di mana, Mam?" tanya Juan. Pertanyaan yang umum, yang mungkin akan ditanyakan setiap orang. Sebab yang mereka tahu, Zein masih single, dan Vita pun sekarang sendiri.


"Papi tahu bagaimana keluarga pria itu ke kita, Pi. Mami takut, jika Vita masuk ke dalam sana, takutnya Vita tidak diterima dengan baik, Pi. Papi paham kan maksud Mami?" Stella tak mau menutupi apapun dari sang suami. Sebab selama ini, Juan lah yang selalu bisa mengerti dan selalu bisa membantunya mencari jalan keluar.


"Mami tahu dari mana kalo Zein dan Vita CLBK?" tanya Juan.


"Vita sendiri yang cerita, Pi. Dia minta pendapat, Mami. Cuma Mami suruh dia mikir lagi. Di saring baik buruknya. Kan kita sama-sama tahu bagaimana kerasnya keluarga mereka," jawab Stella, terlihat jelas bahwa wanita ini memang tidak rela jika sang adik kembali pada pria yang pernah memberinya luka itu.


"Terkadang cinta memang bisa mengalahkan logika, Mam. Tapi Papi juga berharap, Vita mau berpikir sekali lagi. Sekarang masalahnya bukan hanya pada Zein semata. Tapi juga dengan keluarganya. Berurusan dengan mereka itu, serius bikin sakit kepala, Mam," jawab Juan, serius.


"Itu dia, Pi. Mami bingung bagaimana caranya melarang Vita supaya menghentikan hubungannya dengan pria itu." Stella tak mau meneruskan ucapannya. Ia takut teringat kembali masa lalu ketika keluarga Zein dengan tampa perasaan menghujat mereka perihal Berliana. Putri kesayangannya.


"Kalo cinta sudah melekat, empedu juga berasa manis, Mam. Kalo bisa, Mami jangan melarang tapi lebih ke mengarahkan. Supaya Vita bisa berpikir lebih jernih. Menimbang baik buruknya sebuah hubungan. Sebab kasihan juga kalo dia sampai dikucilkan di keluarga itu, Mam," jawab Juan lagi.


"Papi benar, Mami akan coba bicara lagi sama Vita, Pi. Mami berharap anak itu berpikir lebih dewasa. Jangan terlalu memaksakan sesuatu. Mami hanya kasihan saja kedepannya. Ngeri, Pi!" jawab Stella lagi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2