PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
KECEPLOSAN


__ADS_3

Stella menatap intens mata sang suami. Wanita ini berusaha percaya pada pemilik hatinya. Meskipun masih ada ganjalan, yaitu pasal wanita yang Juan bawa pulang semalam.


"Papi belum jawab pertanyaan, Mami," ucap Stella.


"Soal wanita semalam?" balas Juan. Stella mengangguk pelan.


"Dia itu teman SMA, Papi, Mam! Sebenarnya dia itu mau bantu Papi. Dia mau menggantikan Zein berinvestasi pada proyek kita. Namun syaratnya sedikit bikin Papi stress," jawab Juan jujur.


"Bikin Papi stress. Emang dia kasih syarat apa, Pi?" tanya Stella.


"Dia minta jadi istri, Papi," jawab Juan lirih.


"Apa?" pekik Stella. Langsung menatap tajam pada mata sang suami.


Seketika Juan terkejut. Bukan hanya Juan, Berliana pun ikut terkejut sampai gadis cilik ini menangis.


Dengan cepat, Stella mendiamkan sang putri, sebelum ia kembali menghakimi Juan.


"Tunggu sebentar, jangan kemana-mana. Biar putri kita bobo dulu. Papi tunggu di sini, jangan kemana-mana!" ucap Stella memperingatkan.


Juan hanya diam, sebab ia memang salah atau lebih tepatnya serba salah. Pria ini duduk termenung di meja makan. Sedangkan Stella sibuk mendiamkan sang putri. Setelah diam dia pun memberikan sang putri pada pengasuhnya dan kembali mendatangi Juan dengan hati ingin meremas pria itu.


Sebelum sampai di hadapan Juan. Stella menghela napas terlebih dahulu. Berusaha meredam amarah. Wanita cantik ini berpikir kembali, ia tak ingin menambah beban Juan. Sebab Juan tadi juga bilang bahwa beberapa hari ini masalah sangat senang menghampirinya.


"Papi," ucap Stella sembari mengelus punggung Juan.


Juan mengangkat wajahnya dan menatap Stella.


"Sebaiknya kita jangan ngobrol di sini, kita ke ruang kerja Papi aja," ajak Stella. Juan mengangguk menuruti.


"Adek udah tenang, Mam?" tanya Juan. Stella mengangguk dan tersenyum, pertanda Berliana baik-baik saja.


Kini mereka telah berada di ruang kerja milik Juan. Stella mengajak sang suami duduk di sofa ruangan itu. Lalu ia pun mulai membuka obrolan mereka.


"Coba Papi cerita dari awal, bagaimana bisa Zein tidak seprofesional itu?" tanya Stella sembari menatap Juan dan menopang dagunya sendiri. Setia menunggu jawaban akan pertanyaan yang ia ajukan pada sang suami. Stella terlihat sangat manis. Juan mengakui itu dari hati.


"Awalnya, setelah pertemuan terakhir kita bersama investor, Zein mengatakan bahwa proyek ini terlalu boros dan kemungkinan besar hanya akan menimbulkan kerugian," jawab Juan jujur.


"Lalu dari pihak Papi sendiri, gimana pembelaaannya?" tanya Stella.


"Tentu saja dari pihak Papi sudah menjabarkan plus minus proyek ini dan awalnya mereka semua setuju. Bukan hanya itu, perhitungan untung dan ruginya juga telah Papi jelaskan. Namun namanya hati manusia, Mam siapa tahu. Ternyata Zein main di belakang Papi, dia mencampur adukkan masalah pribadi dengan bisnis," jawab Juan, raut wajahnya terlihat sedih. Sebab ia tak menyangka bakal menghadapi masalah sepelik ini.

__ADS_1


"Seandainya tidak ada Zein apakah proyek Papi akan tetap berjalan?" tanya Stella.


"Seharusnya kalaupun tanpa Zein masih bisa, Mam. Tapi investor yang lain gimana? Uang mereka miliyaran Mam. Pusing Papi." Juan menatap Stella seperti meminta pertimbangan.


"Oke, Mami ngerti. Sebentar Mami mikir dulu," ucap Stella serius. Sedangkan Juan juga tidak main-main.


"Teman Papi yang semalam itu siapa namanya?" tanya Stella.


"Oh, dia. Namanya Patricia. Dia sahabat Papi di SMA sebenarnya. Kemarin tiba-tiba dia datang ke kantor, entah dapat kabar dari mana. Yang jelas dia tahu jika perusahaan kita sedang ada masalah. Terus dia bersedia membantu, tapi syaratnya ya itu tadi," jawab Juan jujur.


Stella melirik Juan, menciutkan matanya. Diam namun mengintimidasi. Sebab Stella tak bisa menerima jika sebuah pernikahan dijadikan bahan taruhan, apa lagi permainan bisnis.


"Bagaimana jika Mami nggak ngijinin Papi kawin lagi?" tanya Stella. Juan diam.


"Mami ngga bisa berbagi hati, Pi. Apa lagi suami." Mata Stella mulai beekaca-kaca.


"Papi juga nggak ada niat kawin lagi, Mam. Tetapi mau bagaimana lagi, di pundak Papi ada tanggung jawab yang sangat besar. Ribuan karyawan mengantungkan nasibnya pada proyek ini. Kalau Papi nggak sanggup bayar mereka, gimana? Gimana nasib anak dan istri mereka," jawab Juan. Terlihat jelas kebingungan yang Juan rasakan. Dilema dalam hati pria ini tak semudah bayangan.


"Sebentar, boleh Mami lihat surat perjanjian para investor itu dan punya pria brengsek itu sekali. Mami mau pelajari dulu. Mami hanya merasa aneh saja." Stella menatap sang suami. Juan pun sama.


"Oke!" balas Juan. Kemudian ia pun mengambilkan laptop dan beberapa berkas yang Stella mau.


Wanita ini terlihat serius, membaca dan mempelajari setiap kata yang tertera di dalam surat perjanjian tersebut.


"Sedikit," jawab Stella ringan.


Mereka kembali terdiam, Stella terus saja mempelajari dan berharap poin yang ia cari bisa ketemu.


Beberapa menit kemudian, Stella menemukan poin itu. Dia pun tersenyum.


"Pi!" Stella melirik Juan sekilas.


"Heeem!" jawab Juan.


"Coba Papi perhatikan poin ini!" ucap Stella menunjukkan beberapa baris kalimat yang janggal. Juan ikut membaca, kenapa masalah sepenting ini luput dari perhatiannya.


"Mami bener juga ya! Napa Papi lupa poin yang ini ya Mam, astaga!" ucap Juan. Stella hanya melirik sambil menggeleng-gelengkan kepala. Seseorang yang ia kenal jeli ternyata bisa kepleset juga.


"Sebentar, Mam. Papi tanya Gani dulu, Dia pasti simpan file aslinya atau sudah di kasih ke Papi, ya Papi lupa," ucap Juan. Stella hanya mengangguk dan menunggu. Berharap bisnis sang suami akan tetap baik-baik saja. Meskipun ada masalah, Stella berjanji akan tetap mendampingi pria ini apapun yang terjadi.


Beberapa saat kemudian, Juan datang dengan wajah yang sedikit muram.

__ADS_1


"Gimana, Pi?" tanya Stella.


"Gani bilang udah dikasih ke Papi, tapi kok nggak ada ya, Mam. Apakah Zein udah ambil dan memanipulasi ini?" ucap Juan curiga.


"Astaga!" ucap Stella sedikit kesal.


Mereka diam sesaat, lalu mulai memikirkan cara melawan Zein.


"Pi!" ucap Stella.


"Apa Mam?"


"Coba Papi minta Rehan ke sini, mungkin bisa bantu kita," ucap Stella.


"Dia udah nggak kerja lagi sama Zein, Mam," jawab Juan pasrah.


"Ye.... jangan salah. Udah cepetan telpon. Biar Mami ya ngomong. Napa Papi jadi lembek gini. Mana Juan yang Mami kenal, ngeselin sumpah Papi ih, " gerutu Stella sedikit geram.


"Iya Mam iya, galak bener sih," jawab Juan mengalah. Ia pun segera melaksanakan permintaan sang istri dan menghubungi sahabatnya tersebut.


"Kalau Rehan nggak bisa gimana, Mam?" tanya Rehan.


"Ya terpaksa kita manfaatin temen Papi yang ganjen itulah, mau gimana lagi," jawab Stella sedikit ketus.


Juan mematikan ponselnya, belum tersambung juga. Lalu ia menjawab ide Stella.


"Maksud Papi juga gitu Mam, tapi Mami udah ngamuk duluan," jawab Juan lugu


"Habis, Papi ngeselin." Emosi mulai merasuki wanita ayu ini. Tampak jelas dari lirikannya.


"Ya bukan gitu, Mam. Patricia tu wanita kesepian. Udah gitu kaya raya. Nggak ada salahnya dimanja dikit, yang penting mau berinvestasi. Lagian paling nemenin dia minum, nunduk sedikit Mam, bikin dia happy. Ngerti nggak Mami maksud Papi," ucap Juan semangat. Sepertinya Juan tidak menyadari jika Stella mulai memanas.


"Terus, maksud Papi, sambil berenang minum air begitu. Lihat wanita semohay, bohay dimanfaatin, kapan lagi bisa begitu, iye kan. He em gitu maksud Papi, bagus-bagus. Papi emang pandai ya memanfaatkan situasi heemmm," balas Stella memuja lalu bersiap membanting Juan dengan balasan-balasan yang telah ia siapkan.


"Nggak gitu maksud, Papi. Jadi gini Mam?" Juan melirik Stella yang menatapnya, bersiap menerkamnya.


"Iya, jadi apa? Ayo ngomong?" tantang Stella.


"Ampun Mam! Bukan itu maksud Papi. Kan Papi cuma pura-pura aja sama dia. Cuma main-main Mam, biar dia mau itu, mau anu. Aduh gimana ngomongnya ya," tambah Juan gugup Sebab Stella menatapnya dengan senyum mengandung air keras. Bersiap menyerangnya. Juan bisa merasakan aura penyerangan di sini.


"Oh, jadi Papi cuma pura-pura. Main-main. Manfaatin. Jangan bilang semalam mabuknya juga main-main, pura-pura. Cuma mau ngetes Mami doang. Heeemmm!" pancing Stella sembari melirik menggoda pada Juan.

__ADS_1


"Iya Mam, Eh... ups!" Juan keceplosan. Seketika pria ini beringsut menghindar. Ia takut jika emosi Stella meledak. Juan yakin, bukan hanya makian yang akan keluar, tapi juga sapu ajaib milik Stella tak akan mengampuninya.


Bersambung....


__ADS_2