
Hari yang Vita nanti pun tiba. Gadis cantik tapi tomboy ini pun segera bersiap masuk ke dalam pesawat yang akan membawanya terbang menemui sang ibunda beserta dia wanita lain yang sangat ia rindukan. Yaitu Berliana dan juga kakak kesayangannya, siapa lagi kalau bukan Stella.
Kali ini Vita tidak terbang sendiri. Ia dan juga sang sahabat yang mendapat rekomendasi tempat ia bekerja pun ikut terbang bersamanya. Sebab, Safira memang dimutasi ke kota itu dan wanita ini sama sekali tidak keberatan. Ia malah terlihat sangat bahagia.
"Gimana, Ra! Siap?" tanya Vita, sedikit bercanda.
"Siap, Insya Allah. Do'ain aku betah ya Vit!" jawab Safira dengan senyum cantiknya.
"Doaku selalu bersamamu, Honey. Aku mau yang terbaik untukmu. Semoga di sana kamu dapet jodoh juga. Yang mencintai dan mau menerimamu apa adanya," ucap Vita lagi. Terlihat gadis ini juga serius dalam ucapannya.
"Kalau soal itu aku nggak berani ngaminin, Vit," balas Safira. Senyum memang menghiasi bibirnya, namun hatinya tetap saja merasakan perih jika berbicara perihal perasaan.
"Jangan sedih, percayalah. Semua sudah ada yang ngatur. Kita jalani aja, kali aja pilot yang lagi bawa kita sekarang adalah jodoh kamu." Vita terkekeh. Sedangkan Safira hanya tersenyum simpul.
Vita memang selalu blak-blakan dan apa adanya. Tapi hebatnya, gadis ini selalu bisa menempatkan diri. Serius jika momennya dia harus serius. Bercanda jika saatnya dia bercanda dan Vita memang selalu seperti itu.
"Sama kamu aja pilotnya, ngapain sama aku. Kamu kan jomblo, akut lagi," balas Safira tak mau kalah. Wanita ayu ini kutang terkekeh sembari memasang sabuk pengamannya.
"Ogah kalo pilotnya jelek, item udah gitu gendut plus botak lagi," celetuk Vita, kali ini dia tidak tersenyum, malah mengkidik ngeri. Sedangkan Safira hanya tersenyum.
"Dah ah, apaan sih. Kita jalani aja, tapi aku tetap mau fokus sama karirku. Sebagai kasir profesional." Safira mempraktikkan pekerjaan kasir, dengan mengetik meja kecil yang ada di depan sandaran kursi penumpang yang ada di depannya. Wanita ayu ini juga dengan bangganya menyebutkan profesi yang beberapa bulan terakhir ini ia jalani.
"Kasir aja bangga, kek aku dong tukang buntutin bos," balas Vita.
__ADS_1
"Hilih, buntutin bos ama tiap hari ngitung duit, asikkan mana?" ledek Safira.
"Eh iya juga ya, asikan ngitung duit lah. Gimana kalo aku nglamar jadi kasir di tempat kerjamu aja, ha? Pasti seru!" Vita mulai mengeluarkan seluruh kekonyolan, membuat obrolan tak bermutu mereka jadi terasa hidup.
"Apaan! Nanti kangen ama bos gantengnya. Terus ngrengek gini, Ra, anterin aku ke dia dong! kangen nih. Dih ogah!" balas Safira dengan gaya kecentilan khasnya.
"Iya kali aku kengen ama pria menyebalkan itu, tidak akan pernah. You know, amit amit amit amit," jawab Vita mengidik ngeri.
"Alasan, nggak percaya aku. Buktinya aja di antar jemput. Kek bukan sekertaris aja kamu, tapi kek pacal, tahu kan pacal. Yang lope lope," timpal Safira kembali wanita ini terkekeh.
Vita menatap Safira, dalam hati, ia membenarkan apa yang diucapkan sang sahabat. Ia baru menyadari jika Zein memperlakukannya tidak seperti sekertaris, tetapi lebih seperti pacar.
"Ah ngaco kamu, nggak mungkinlah. Dia kan orang kaya, sedangkan aku apa? Tempat tinggal aja ngontrak," jawab Vita mencoba menepis prasangka aneh yang kini menderanya.
"Apaan sih, nggak mungkin aku sama dia. Kan kamu tahu dia mantan iparku. Astaga! Iya kali aku ama dia, bisa dikuliti aku ma keluargaku," jawab Vita. Kali ini gadis manis ini benar-benar tak ingin jika itu sampai terjadi.
"Yang namanya jodoh! Mau mantan ipar, mau mantan suami, mantan kekasih, kalau jodoh pasti yang jadi. Kalau nggak, biar kita nangis darah! Nggak akan pernah bertemu, paham!" tambah Safira lagi.
Vita diam, tapi merinding. Namun tak dipungkiri jika apa yang sahabatnya katakan bisa jadi benar.
Pemikiran Safira memang benar bahwa jodoh maut dan rezeki itu sudah ada takarannya. Untuk apa gusar, semua pasti baik-baik saja. Namun, jika boleh Vita meminta, ia hanya tidak ingin terlibat urusan hati dengan pria itu.
***
__ADS_1
Di bandara, Stella sudah siap menunggu. Kini ia telah berdiri cantik di depan pintu kedatangan penumpang domestik. Senyum merekah indah di bibirnya sebab tak lama lagi ia akan bertemu dengan adik kesayangannya.
Demi mempercepat pertemuan mereka, Ibu satu anak ini rela menjemput sendiri adiknya tersebut. Beberapa kali wanita ayu ini melihat ponselnya. Barang kali sang adik menghubunginya. Sebab, sudah satu jam pesawat sang adik landing. Namun, gadis yang ia tunggu sama sekali belum menampakkan batang hidungnya. Mungkin masih menunggu bagasi, pikir Stell.
Stella masih setia menunggu dengan sabar. Sampai pada akhirnya dia dikejutkan dengan gadis cantik yang ia tunggu-tunggu, tiba-tiba muncul begitu saja di belakangnya. .
"Hay kakak!" sapa Vita tiba-tiba mengejutkan Stella. Wanita cantik ini hanya tersenyum. Sedangkan Vita begitu antusis.
"Hay juga, kok lama. Nunggu bagasi ya. Emang bawa apaan aja sih?" tanya Stella, dengan senyum manisnya.
"Ini bukan barang-barang aku, Kak. Ini punya tuan putri," jawab Vita sembari memanyunkan bibirnya.
"Tuan putri? Siapa tu?" tanya Stella penasaran.
"Sebentar, orangnya lagi ke toilet. Sabar ya, dia itu sahabat terbaik Vita." Vita memberikan kecupan penuh kasih saya g di pipi sang kakak.
"Sahabat? Tumben punya sahabat!" canda Stella.
"Dih punya lah. Pas di Sydney dia sering bantuin aku. Bikin skripsi, bayarin makan kalau Vita belum gajian, dan lain-lain dan lain-lain. Pokoknya dia itu udah kek Kak Stella deh, top pokoknya," jawab Vita bersemangat. Stella kembali tersenyum.
"Ya udah mumpung di sini, mari kita kamu dia dengan baik!" ajak Stella, sedangkan Vita pun mengikuti.
Tak lama kemudian, wanita yang di maksud Vita pun datang. Dengan senyum tercantiknya tentunya. Datang menyapa dengan langkah bahagia. Bukan hanya Safira yang bahagia, Vita pun juga. Tetapi tidak dengan Stella. Sebab ia merasa wanita yang adiknya maksud sebagai sahabat itu, ternyata sangat mirip dengan seseorang. Seseorang, Entahlah. Stella sedang mengingat sekarang.
__ADS_1
Bersambung....