
"Sabar, Ra. Percayalah, Lutfi pasti baik-baik saja." Vita mengelus lengan sang sahabat. Mencoba menenangkan wanita itu tentunya.
"Aku memang jahat, Vit. Abang benar, aku memang nggak tahu aturan." Safira menangis, mengingat betapa kejamnya dia pada sang suami.
"Sudah, yang penting sekarang kamu niat buat memperbaiki kesalahan. Insya Allah, Lutfi bakalan maafin kamu kok," ucap Vita memberikan semangat.
"Iya, Vit. Aku pun berharap demikian!" Safira menghapus air matanya, karena pengeras suara telah memanggil para penumpang dengan tujuan Makassar untuk segera masuk ke dalam pesawat.
***
Di sebuah rumah sakit, berbaring seorang pria dengan wajah pucat. Suhu tubuhnya sangat tinggi hingga dia hampir kehilangan kesadaran. Kulitnya keluar bintik kemerahan. Pria tampan ini terlihat lemas tak berdaya.
Namun, di sampingnya kini berdiri seorang wanita muda yang sangat cantik. Usut punya usut, wanita itu ternyata adalah teman sekolah Lutfi. Dan saat ini, wanita itu menjelma menjadi dokter yang merawat pria tampan ini.
"Kalo kamu yakin sembuh, pasti sembuh Fi. Percayalah, jangan takut!" ucap Wanita berpakaian dokter tersebut.
"Gimana mau yakin, kepalaku serasa mau meledak, Na," jawab Lutfi sembari meringis kesakitan.
"Ya rasanya memang seperti itu, tapi trombositmu udah naik. Yakin, kamu pasti membaik!" ucap dokter cantik itu.
"Ah, entahlah, Na. Rasanya dunia ini berputar," jawab Lutfi ketika membuka matanya pelan. Yang Lutfi lihat di sekeliling hanyalah plafon yang berputar. Tembok seakan mendekat padanya. Seolah mau menabraknya. Sehingga membuatnya lebih pusing dan memilih memejamkan mata.
Dokter yang bernama Kirana itu pun tersenyum. Namun juga sedih, sebab Lutfi sudah berada di ruangan ini hampir 12 jam. Tetapi belum ada satupun keluarga yang menjenguknya.
__ADS_1
Karena rasa kasih itu, Kirana pun berbaik hati menemani mantan teman sekolahnya itu.
"Ya udah, kamu istirahat aja. Aku tinggal sebentar, selepas fingerprint aku balik lagi. Kamu mau dibawain makan apa?" tanya dr. Kirana.
"Mana aku bisa makan, Na. Buka mata aja rasanya berat! Plafon nya muter" jawab Lutfi, masih dengan mata terpejam. Sedangkan Kirana tersenyum. Drama plafon muter kembali terjadi di sini.
"Tekanan darahmu agak tinggi, coba kamu jangan berpikir macam-macam dulu. Rileks sebentar, tenangkan pikiran. Biar tekanan darahmu kembali normal. Setelah itu pasti kamu nggak bakalan lihat plafon muter lagi. Oke!" ucap dr. Kirana sembari tersenyum menahan tawa.
Lutfi masih seperti yang dulu. Tidak bisa merasakan sakit. Apa lagi sakit kepala. Pria ini paling heboh jika suhu tubuhnya naik, dia pasti akan langsung izin ke UKS dan tidur di sana. Karena jika suhu tubuhnya sudah naik, tak lama kemudian kepalanya akan sakit dan drama plafon muter pun jadi kebiasaan pria ini.
"Jangan tertawakan aku, Na. Aku membencimu jika begitu!" ucap Lutfi, karena dia tahu bahwa dokter yang merawatnya itu pasti sedang menertawakannya.
"Nggak, Fi. Mana mungkin aku ngetawain kamu. Aku hanya heran saja dengan kebiasaan anehmu itu. Nggak berubah. Masih aja plafon muter." Kali ini Kirana tidak mau diam. Ia pun langsung tertawa melihat tingkah konyol sang sahabat.
"Iya, iya... ya udah aku keluar dukun Absen dulu. Nanti aku balik lagi. Aku bawain nanti jus jambu. Biar enak, nggak muter lagi plafon." Kirana tertawa sembari keluar dari ruang rawat inap.
Sedangkan Lutfi enggan memusingkan sahabatnya itu. Pria tampan ini memilih memejamkan matanya. Siapa tahu dia bisa tertidur.
Tiga puluh menit kemudian...
Lutfi dan Kirana sedang bercanda gurau. Mereka begitu asik sambil menceritakan masa muda mereka tentunya.
Tak lupa, mereka juga menceritakan kehidupan pribadi mereka. Lutfi juga bercerita bahwa dia sudah menikah dia kali.
__ADS_1
Istri pertamanya telah meninggal dunia setelah terkena serangan jantung.
"Tapi istri lu masih muda kan, Fi, pas meninggal. Kok bisa sih?" tanya Kirana.
"Sebenarnya dia sudah terdeteksi punya penyakit jantung sejak remaja, Na. Cuma, setiap kali aku aja ke dokter, dia selalu bilang nanti, nanti. Dia takut sama dokter, jarum suntik, dan juga aroma rumah sakit. Dia tidak suka itu?" ucap Lutfi, terdengar sedih, karena menurut Lutfi kehilangan istri pertamanya juga merupakan pukulan terberat baginya. Terlebih kepergian sang istri juga meninggalkan kenang-kenangan yang harus ia jaga dengan segenap jiwa dan raganya. Yaitu Naya.
"Sabar, Fi. Jodoh, rezeki dan mau tidak ada yang tahu. Aku malah gagal nikah, gara-gara si doi ternyata punya istri. Memuakkan sekali!" balas Kirana sembari tersenyum kecut.
"Emang kamu nggak tahu silsilah keluarganya?" tanya Lutfi.
"Gimana mau tahu, Geng. Bini ama anak dia di Jawa. Pas mau lamaran, datang lah tu bini sama anaknya ke rumah. Untung aku belum menyerahkan jiwa dan raga ini ke dia. Kalo nggak, matilah aku. Bisa di dendeng sama ibu bapak, Fi," ucap Kirana, sedikit meneteskan air mata. Sebab menurutnya itu juga merupakan kejadian paling menyedihkan dalam hidupnya.
"Kamu bener, Na. Jodoh, maut dan rezeki memang rahasia Illahi. Semoga setelah ini, kamu bisa dapetin pria yang baik. Bertanggung jawab dan sigle tentunya." Lutfi tersenyum, meskipun jujur saat ini ia merasakan kegetiran dalam hatinya. Dadanya terasa sesak jika memikirkan hubungannya dengan Safira. Lutfi tidak tahu, hubungan ini akan berlanjut atau tidak.
"Ahhhh, ngapain sih kita sedih, sedih. Aku bawain kamu makanan kesukaan kamu, Fi. Di makan ya. Tadi Mama telpon, aku bilang kamu ada di kota ini dan lagi sakit. Katanya dia mau ke sini. Kamu mau dibawain apa?" tanya Kirana sambil membukakan kotak yang berisi makanan kesukaan Lutfi. Sekotak nasi gudeg lengkap dengan telur dan tahu bacem nya.
"Wah.... kamu masih ingat makanan kesukaan aku. Dapet di mana makanan ini. Aku nyari susah setengah mati. Thankyou thankyou... tapi sayang aku lagi nggak nafsu, Na!" ucap Lutfi sambil mendorong kembali makanan yang telah Kirana siapkan untuknya.
"Nggak ada alasan Lutfi. Kamu harus berhasil menaikkan imun yang ada di tubuhmu. Salah satunya dengan makan. Sini aku suapin!" Kirana pun memaksa, tanpa rasa sungkan ia pun menyuapi sahabatnya itu. Tetapi, hal yang tidak terduga terjadi di sini.
Ketika Kirana sedang asik menyuapi Lutfi, dua pasang mata memergokinya. Sepasang mata yang satu terlihat menatap nanar ke arah dua orang yang asik bercanda itu. Sedangkan Vita tak tahu harus berbuat apa.
Bersambung....
__ADS_1