
Safira menatap pria yang hendak dijodohkan dengannya dengan tatapan ingin menghujat tentunya. Bagaimana tidak? Safira ingat betul, bahwa pria itu adalah salah satu pria yang mengejarnya. Bahkan, Safira juga tahu, bahwa pria itulah yang memberikan perintah pada teman-teman segengnya untuk mengejar Safira.
Andai saat ini tidak ada kedua orang tuanya dan juga rekan mereka. Mungkin Safira sudah memaki pria itu. Atau mungkin mencekiknya, agar pria itu jera. Agar tidak semena-mena terhadap wanita yang baru ditemuinya.
Sebelum acara inti dari maksud pertemuan mereka diutarakan, terlebih dahulu kedua orang tua Laksa menjamu mereka. Tentu dengan hidangan yang tidak murah. Namun, Safira sama sekali tidak mau menyentuh makanan itu dengan alasan dia sedang diet.
"Loh, Fira kenapa nggak makan?" tanya Kinan.
"Maaf, Tan. Bukan tidak menghormati, tapi Fira lagi menghindari makanan malam," jawab Safira, padahal jika boleh jujur, ia sangat lapar. Namun, mual ketika melihat wajah pria yang terus tersenyum. sebari menatapnya mesum.
Safira bukan gadis bodoh yang mau menyerah begitu saja. Ia pun mencari cara untuk melarikan diri dari pertemuan ini dengan pura-pura sakit perut.
"Fira, kamu kenapa, Nak?" tanya Laila, karena curiga melihat sang putri meringis sambil memegangi perutnya.
"Sepertinya Fira dapet, Ma," jawab Safira berbohong. Berharap sang ibu akan menyuruhnya untuk pulang.
"Yuk aku antar pulang!" tawar Laska.
"Oh terima kasih, anda baik sekali. Tapi nggak usah, di depan ada sopir papa kok. Kalo mau antar mama sama papaku aja nanti, ya. Ma, Fira balik dulu ya. Soalnya sakit banget ni," ucap Safira sembari meremas perutnya.
Semua orang memaklumi itu. Sebab itu adalah masalah yang biasa terjadi pada setiap wanita di masa subur. Mereka tak bisa menolak permohonan itu. Dengan hati lapang, mereka semua mengizinkan Safira untuk meninggalkan restoran itu dan pulang.
Sayangnya Laksa tak kurang akal. Dia pun meminta anak buahnya untuk membuntuti Safira. Apakah gadis itu benar-benar pulang atau hanya menghindarinya.
Mengetahui akal busuk Laksa, Safira pun langsung masuk ke mobil dan meminta sang sopir untuk membawanya pulang.
__ADS_1
"Pertemuannya sudah, Bu?" tanya Lutfi bingung.
"Bu bu, aku bukan ibumu. Dasar!" jawab Safira ketus.
"Maaf," ucap Lutfi.
"Cepat kita pergi dari sini. Pria brengsek itu ternyata ada di sini. Aku yakin dia pasti menyuruh seseorang untuk membuntuti kita," ucap Safira yakin.
"Baik, Bu," jawab Lutfi menurut.
Safira menatap ingin marah. Lutfi kembali memanggilnya ibu. Apakah wajahnya sudah seperti ibu-ibu?
Dasar! umpat Safira dalam hati. Enggan berdebat, wanita cantik ini pun memfokuskan penglihatannya. Siapa tahu apa yang ia curigai menjadi kenyataan.
"Ada yang buntutin kita nggak?" tanya Safira pada sang sopir.
"Benarkah? Aku tidak percaya dengan pria macam dia. Dasar penjahat!" umpat Safira.
Lutfi diam, Pria ini memilih diam. Sebab percuma. Apa yang menjadi pemikiran dan pendapat sang majikan biasanya adalah kebenaran mutlak. Sedangkan dirinya apa? Hanya seorang pekerja. Bukankah pekerja adalah tempatnya salah dan lupa bagi mereka yang memiliki kuasa.
Safira diam sesaat, lalu ia kembali melirik sopir yang bisa dikatakan keren untuk ukuran sopir.
"Eh, nama kamu siapa?" tanya Safira. Terdengar sedikit tidak sopan. Tetapi Lutfi memaklumi itu. Bukankah wanita yang ada di sampingnya ini adalah majikan. Majikan ma bebas.
"Saya, Lutfi, Bu," jawab pria ini ringan.
__ADS_1
"Oh, Lutfi. Jadi kamu sopir papa. Sopir saja belagu," umpat Safira kesal. Sedangkan Lutfi hanya diam. Percuma meladeni seseorang yang pada dasarnya tidak menyukainya. Lagian, pekerjaannya tidak ada hubungannya dengan nona muda ini. Dia bekerja pada papanya. Yang menggajinya adalah pria paruh baya itu. Bukan nona muda ini. Pikir Lutfi.
Melihat kediaman Lutfi, menghadirkan keisengan tersendiri bagi wanita ayu itu.
"Ngomong-ngomong, baju yang kamu kasih ke aku itu, baju siapa? Istrimu ya?" Safira melongok penasaran.
Lutfi tak mau menjawab pertanyaan itu. Dia tetap diam dan berkonsentrasi pada jalanan yang ada di depannya.
"Kamu sombong sekali sih, ditanyain jarang banget mau jawab. Awas kamu! Sekali lagi aku tanya, terus kamu nggak mau jawab. Aku bakalan bilang ke papa biar kamu dipecat aja!" ancam Safira kesal.
Lutfi terlihat menghela napas dalam-dalam. Sepertinya ia harus meningkatkan kesabarannya menghadapi wanita tempramen ini.
"Saya tidak sombong, Bu. Hanya sajaa, saya merasa berhak menjawab apa yang perlu saya jawab dan diam, pada sesuatu yang tidak perlu saya jawab." Lutfi kembali fokus pada kemudinya.
"Iya, itu namanya sombong. Harusnya kamu jawab semua pertanyaanku. Kan aku bertanya, gimana sih?" gerutu Safira.
Lutfi tak mau terlalu ambil pusing dengan ancaman Safira. Baginya, jika rezekinya ada di rumah ini. Maka semua akan berjalan baik-baik saja. Pun sebaliknya, jika seandainya rezekinya tidak ada di rumah Safira. Maka tanpa Safira mengadu dan berucap macam-macam pun dia pasti akan pergi dari rumah itu.
Pria ini tetap berusaha menjaga batasan. Ia tak ingin terpancing dengan ancaman-ancaman putri sang majikan. Yang menurutnya tak terlalu penting.
***
Di sudut ruang yang lain, Stella dan Vita sepakat untuk membawa ibu mereka pulang ke Indonesia atas saran Sera dan juga Juan.
Juan bersedia membawa ibu sambung sang istri itu ke psikiater yang pernah menangani Stella kala itu.
__ADS_1
Vita sendiri juga tak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa menurut kepada kakak iparnya. Karena keputusan yang diambil bersama ini adalah keputusan terbaik untuk mereka semua.
Bersambung ..