
"Papi bahagia, Mam," ucap Juan malu-malu, masih setia melingkarkan tangannya di pinggang dan perut Stella. Menempelkan dagunya di pundak wanita ayu ini. Sesekali ia juga mengigit baju Stella, seperti gemas, tapi manja.
"Mami, pun. Mami akan berusaha jadi istri yang baik untukmu, Pi," tambah Stella. Melirik Juan dengan lirikan menahan tawa. Sebab, Juan terlihat manja dan menggemaskan jika begitu.
"Papi napa jadi kek anak-anaknya kecil gini, hemm. Manja!" tambah Stella gemas. Wanita ayu ini tampak mengelus pipi sang suami dan menyandarkan kepalanya di pundak Juan, serta menyembunyikan wajahnya di leher pria tampan ini.
"Mami juga suka manja ama Papi, masak giliran Papi yang manja, diledek." Juan terlihat mencolek hidung mancung Stella dan wanita ini hanya tersenyum.
"Lihat muka Mami, napa Papi selalu lapar ya?" pancing Juan.
"Lapar? Baiklah, mari makan," ajak Stella sambil mengangkat wajahnya dan hendak beranjak dari ranjang.
"Ehhh, mau ke mana?" Juan menahan pinggang sang istri agar tak menghindar darinya.
"Katanya laper, mari ke dapur!" ajak Stella lagi.
"Bukan laper itu, Mami. Papi laper yang lain," jawab Juan malu-malu. Stella paham, dan bisa menangkap keinginan mesum sang suami. Namun, jika boleh jujur Stella takut memulainya. Terlebih saat ini dia sedang berbadan dua dan ada alasan lain selain itu.
"Papi mau nggak bersabar sampai.... " Stella tak melanjutkan ucapannya, sebab ia takut menyakiti Juan.
"Tentu saja, Papi ngerti kok Mam, tapi setelah si dedek lahir. Papi harap nggak ada alasan lagi, buat menghindar!" pinta Juan lembut.
"Mami pikir-pikir dulu soal itu," canda Stella.
"Dih, dosa lo Mam, suami minta nggak di kasih," ucap Juan serius.
__ADS_1
"Dah, ah ... Papi mesum," jawab Stella sembari tertawa. Spontan wanita ini menutup mata Juan dengan tangan manisnya. Stella merinding dengan tatapan itu. Bukan hanya itu, ia juga takut tak sanggup menahan keinginannya untuk memiliki Juan sekarang.
"Cup aja Mam, dikit!" pinta Juan memohon. Stella hanya tersenyum. baginya wajah Juan sangat menggemaskan jika mesum begini. Stella jadi ingat ketika di dapur waktu itu. Stella yakin pasti Juan sakit kepala, sebab hasratnya tak tersalurkan.
Stella tak ingin semakin memancing hasrat sang suami. Maka ia pun memutuskan untuk meninggalkan pria mesum ini.
"Eit, mau ke mana? Dosa lo, suami belum selesai ngomong ditinggalin," ucap Juan.
Stella terpaksa duduk kembali dan Juan langsung memeluknya. Menatapnya dengan penuh cinta. Memperlakukannya dengan kasih sayang. Pria tampan ini hanya ingin mencium. Tidak lebih dari itu.
"Izinkan aku menciummu sekali saja, Honey!" pinta Juan memohon. Kali ini Stella tak menolak, ia membiarkan sang suami menciumnya. Memiliki sedikit yang ia punya.
Stella mengelus kembali pipi sang suami. Menatap mata tampan itu. Mata yang selalu menatapnya dengan cinta.
Merasa sang istri telah mengizinkannya, kini Juan pun tak ragu untuk mengambilnya. Dikecupnya kening wanita ayu ini. Kemudian kedua pipinya, dan kini bibir mereka telah menyatu. Saling mengecup dengan penuh cinta. Sunguh Stella ikhlas memberikan ini. Sebab, ia juga memiliki maksud Agar sang suami yakin jika mulai hari ini hatinya adalah milik pria tampan ini.
"Sama-sama, Suamiku. Maaf jika aku belum bisa memberinu lebih," balas Stella. Jujur ada perasaan kurang nyaman sebagai seorang istri. Namun, ia yakin jika Juan mengerti.
"Tak apa, Mam. Papi ngerti, yang jelas saat ini dan selamanya kamu adalah milikku." Juan mengecup kembali kening sang istri.
"Aku tidak tahu kapan rasa ini hadir, tapi demi Tuhan, saat ini, detik ini, hanya kamu yang ada dalam hatiku. Kamu telah berhasil membuatku merindu," ucap Stella jujur. Juan tersenyum mendengar pengakuan cinta dari Stella. Rasanya, indah sekali. Jika ditanya, apakah cinta dewasa ini lebih indah. Maka Juan akan menjawab 'iya', karena nyatanya Juan lebih bahagia sekarang dibanding dengan cinta pertamanya dulu. Entahlah.
"Apakah Papi boleh tanya sesuatu, Mam? " tanya Juan.
"Tanya aja, Pi. Papi mau tanya apa?" balas Stella.
__ADS_1
"Apakah Mami masih menyimpan rasa dengan dia?" tanya Juan. Bukan bermaksud membuka luka lama. Namun, Juan hanya ingin tahu saja.
Stella tersenyum. "Sejak aku dibuang oleh ayahku, sejak itu aku menyadari jika pria itu tak pantas mendapatkan cintaku. Aku tidak ingin menjadi wanita bodoh yang mengharapkan cinta dari seorang pria yang tak menginginkanku. Aku yakin aku bisa hidup tanpa mereka, tanpa cinta mereka. Jujur, awalnya hati ini masih sering menanyakan kabarnya, merindukannya. Namun, ingatanku tentang bagaimana dia memperlakukan ku malam itu, itu membuatku tak ingin mengingatnya lagi dan perlahan hatiku pun mampu menghapusnya. Tuduhannya sangat menyakitkan. Tatapan kebenciannya padaku sangat menusuk hatiku, lalu bagaimana aku bisa mencintai pria seperti itu? Dia bukan hanya tidak menginginkanmu tapi juga menghinaku." Tanpa diminta air mata Stella keluar begitu saja, membuat Juan serasa ikut merasakan betapa pedihnya perasaan wanita ini.
"Aku pikir aku sudah mati waktu itu. Ayahku menghajarku seolah aku adalah wanita paling hina, Juan dan semua itu bersumber dari mana. Dari dia! Pria jahat yang menuduhku tak suci lagi, gara-gara ia tak menemukan bercak darah di malam pertama kami. Saat itu juga ia menjatuhkan talaknya padaku." Stella menghapus air matanya. Mencoba menguatkan hatinya, untuk melanjutkan ceritanya. Stella tak ingin setengah-setengah Juan mengetahui ini. Ia ingin semuanya terbuka tanpa satu hal pun yang ia tutupi.
"Keesokan harinya, dia mengantarkanku pulang. Ayahku yang tempramental tentu saja langsung panas. Apalagi ketika dia mengatakan pada ayahku bahwa aku telah ternoda sebelum kami menikah. Aku tak bisa menjawab apapun Juan, karena aku tak punya bukti untuk membuktikan bahwa aku masih suci. Pedoman mereka adalah, jika masih suci pasti mengeluarkan darah. Sedangkan aku tak memiliki itu, tapi demi Tuhan, aku belum pernah melakukan dengan siapapun selain dengan dia. Itupun kami lakukan di malam pengantin. Sebelumnya juga belum pernah. Aku sudah bersumpah atas nama Tuhan, apakah kamu percaya padaku?" Stella menghapus air matanya lagi, lalu meminta Juan menatapnya. Agar sang suami bisa menilai kejujurannya.
"Aku percaya padamu, Ste! Mungkin dia belum berpengalaman atau pengetahuannya terlalu dangkal, jadi kolot begitu, tapi yang namanya masih gadis kan rasanya juga lain. Meskipun nggak mengeluarkan darah, rasanya pasti masih sempit," balas Juan sesuai dengan yang ia tahu.
Kali ini Stella malah tersenyum. Lucu saja mendengar pengakuan Juan.
"Kok malah senyum, kenapa?" tanya Juan.
"Yang pernah ngrasain punya perawan. Langsung aja bisa jawab," ledek Stella.
"Astaga, yang belum pernah juga tahu kali, Mam. Papi nggak mesum kalau soal ini. Yakin nggak Mam," balas Juan dengan senyum malunya.
"Iya, Mami percaya sama Papi." Stella mengelus pipi Juan lagi. Entah mengapa Stella sangat suka menyentuh wajah rupawan itu.
"Apapun masa lalumu, Mam. Papi harap jangan diingat lagi. Masa depanmu adalah aku, bukan dia. Aku akan menjagamu dengan cintaku sampai maut memisahkan," ucap Juan yakin.
Kini tak ada lagi penghalang di antara mereka. Cinta dan kejujuran telah mereka taburkan. Juan percaya pada Stella, pun sebaliknya. Mulai malam ini tak ada lagi dua ranjang, yang ada hanya satu ranjang. Satu rajang di mana mereka akan menyuburkan cinta yang mereka miliki dengan kasih sayang tentunya.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan share ya...