
Malam pun tiba ....
Senyum merekah indah di bibir Luis. Karena malam ini ia akan meresmikan hubungannya dengan sang kekasih. Di saksikan oleh keluarganya dan juga keluarga gadis yang sangat dicintainya. Ia akan meminta gadis itu menjadi ratunya. Pendampingnya. Dalam suka maupun duka. Sehidup semati kalau bisa.
Di lobby hotel sudah ada Zein yang menunggunya sembari bercengkrama dengan nenek dari sang big bos. Mereka terlihat akrab. Luis pun tersenyum melihat itu.
"Luis kenapa kau lama sekali?" tanya Dena pada sang cucu.
"Sabar Oma!" jawab Luis singkat. Enggan mendebat wanita cerewet itu. Sebab urusannya tidak akan kelar sampai di sini. Luis tersenyum dalam hati jika mengingat hal tersebut.
"Semua sudah siap, Zein?" tanya Luis pada sang asisten.
"Sudah, Pak. Silakan masuk!" jawab Zein sembari membukakan pintu untuk sang big bos dan juga wanita yang tak lain adalah nenek dari pria tersebut.
Di seberang jalan ternyata ada Laskar dan juga Laila, melihat betapa susahnya sang putra. Hatinya tidak terima melihat putranya menjadi pesuruh orang lain. Ini adalah masalah hati. Masalah perasaan. Berkali-kali sepasang suami istri itu membujuk sang putra untuk mengelola usaha mereka. Namun, Zein masih bersikekeh untuk mandiri. Tetapi tidak begini, tidak kerja ikut orang. Kalaupun mandiri, Laskar dan Laila ingin sang putra membangun usahanya sendiri. Bukan bekerja di bawah pimpinan orang lain.
"Papa nggak tahan, Ma. Besok bujuk putramu untuk resign," ucap Laskar langsung pada inti dari sesuatu yang membuat hatinya tergores.
"Baik, Pa. Mama juga nggak bisa lihat dia jadi sopir orang lain," jawab Laila. Meskipun Zein bukan putranya sendiri, tetapi Laila telah jatuh cinta pada putra suaminya itu. Terlebih ketika mendengar perjalanan hidup Zein selama masih kecil. Penuh penekanan dan bullyan orang-orang yang tak menyukai keluarganya. Termasuk hinaan dari ayah sambungnya. Yang menjadikan Zein memiliki sikap yang mudah memberontak.
"Kalo bisa malam ini suruh dia berhenti!" tambah Laskar lagi, tak tahan melihat sang putra bekerja seperti itu.
"Kayaknya mustahil kalo malam ini, Pa. Bosnya mau menikah. Dia memiliki tugas untuk membantu persiapan pernikahan itu. Kayaknya dia nggak mau bikin bosnya kecewa," jawab Laila sesuai apa yang Zein ceritakan kepadanya.
"Baiklah, Papa akan tunggu saat ini. Setelah ini jangan biarkan dia kerja ikut orang lagi. Papa nggak suka disuruh-suruh seperti itu." Laskar menatap tajam ke arah jendela. Entahlah, melihat Zein bekerja seperti itu membuat pria yang sukses dengan bisnis tas ekport importnya ini tidak rela jika sang putra menderita.
__ADS_1
"Iya, Papa yang sabar ya. Mama akan bujuk dia supaya bantu kita aja. Kalo mau ya kita modalin aja, Pa. Biar dia kerja sesuai passion nya dia," jawab Laila mencoba membuat hati sang suami tenang.
***
Di sisi lain, keluarga Vita sudah bersiap menyambut tamu istimewa mereka. Di sana juga ada Sera yang bertugas sebagai wakil Anti. Sebab Anti masih belum bisa diajak berkomunikasi. Wanita itu masih shock dengan kepergian pria yang ternyata masih ia simpan rapi di hatinya.
Beberapa menit kemudian, terlihat mobil Alphard berwarna hitam parkir tepat di depan kediaman Juan.
Juan dan Stella sebagai tuan rumah, tentu saja saat ini sudah siap di depan rumah untuk menyambut mereka sembari tersenyum bahagia.
Namun, senyum keduanya memudar ketika melihat seorang pria turun dari mobil tersebut. Seseorang yang sama sekali tidak mereka duga. Seseorang yang sama sekali tidak mereka sangka.
Zein, dia adalah pria itu. Pria yang pernah membuat keluarga ini hampir kehilangan segalanya.
"Ngapain dia ke sini?" tanya Stella mulai memperlihatkan emosinya.
"Sabar, Mam. Jangan terbawa emosi dulu. Kita pura-pura saja nggak terjadi apa-apa. Jangan bikin Zein malu, Mam. Papi mohon!" ucap Juan masih berusaha melindungi sang sahabat dari amukan keluarga sang istri. Terlebih di dalam sana ada Sera. Wanita yang saat ini masih membenci Zein.
"Mungkinkah Zein bekerja pada calon suami Vita, Pi?" tanya Stella sembari berbisik.
"Bisa jadi, Mam." Juan tak meneruskan perbincangannya dengan sang istri. Sebab tamu telah berada tepat di depan mereka.
"Luis?" tanya Juan.
"Ya, Bang. Saya Luis dan ini Oma Dena. Kekasih nomer satu saya," jawab Luis sembari bercanda.
__ADS_1
"Oh, oke-oke. Selamat datang ... mari silakan masuk!" pinta Juan kepada kedua tamunya. Sebelum itu, Stella juga berkenalan dengan mereka.
Setelah itu, kedua tamu tersebut ditemani Stella pun masuk ke dalam rumah. Sedangkan Juan berniat menyapa sang sahabat. Karena Juan tak mau Zein tersinggung dan menggangapnya tidak menghargai persahabatan mereka.
"Zein!" sapa Juan.
"Ya!" jawab Zein, terdengar lemah.
"Sorry, Bro. Aku kemarin nggak nungguin lu sampai sadar. Ada masalah mendesak, sorry ya," ucap Juan basa-basi.
"Nggak pa-pa, santai aja. Oiya, aku juga mau minta maaf buat semua kesalahan yang pernah aku lakukan baik ke kamu, ke Stella dan ke semua keluarga. Maafkan aku ya Jun," ucap Zein tiba-tiba.
Sungguh, apa yang Zein lakukan saat ini, sangat tidak Juan sangka. Zein yang dulu angkuh dan menganggap dirinya paling benar, ternyata bisa selembut dan setulus ini.
"Kita semua udah maafin elu, Zein. Cuma, aku agak kaget aja. Kok kamu yang bawa mobil Luis? Emang kalian sahabatan?" tanya Juan, Tak mungkin baginya bertanya bahwa Zein kerja dengan Luis. Takutnya Zein tersinggung.
"Nggak, Bro. Aku kerja ama dia." Zein tersenyum tipis.
"Kenapa kamu nggak coba bisnis sendiri aja, Zein?" tanya Juan. Sebab ia tahu bahwa Zein adalah pembisnis yang hebat.
"Nantilah, setelah bos menikah. Mungkin aku bakalan resign. Sunguh aku nggak tahu kalo dia calon adek ipar lu," jawab Zein sembari terkekeh.
Sayangnya, Juan adalah pria yang punya rasa peka yang cukup tinggi. Ia tahu jika tawa yang dikeluarkan Zein adalah tawa untuk menutupi luka yang ia rasakan saat ini. Terlihat jelas dari cara Zein menghindari tatapan matanya. Juan tahu jika hati sang sahabat saat ini sedang terluka. Juan tahu jika hati Zein saat dalam keadaan yang tidak baik. Namun, Juan salut karena pria Zein tidak lagi egois. Kali ini ia bisa menjadi pria dewasa yang paham akan apa itu hakikat cinta yang sebenarnya.
Bersambung....
__ADS_1