
"Kok kamu bisa kenal sama mama aku sih? Terus kamu juga mau susah-susah ngenterin surat ini jauh-jauh dari Jakarta ke Batam. Kamu kerja di penjara?" tanya Zein penasara.
"Saya dengan ibu memiliki satu rahasia yang hanya di ketahui oleh Tuhan dan kami berdua. Karena ibu nggak mau kebaikan yang beliau lakukan jadi konsumsi publik." Zizi tersenyum.
"Ohh oke, aku akan coba menghargai privasi kalian. Cuma yang bikin aku penasaran, bagaimana surat ini ada di tanganmu. Bahkan dengan suka rela kamu mau mengantarkan surat ini kepadaku?" tanya Zein, penasaran.
"Jawabannya hanya satu, ibu pernah membuat saya tersenyum. Dan saya pun ingin membuat beliau tersenyum." Kali ini Zizi menundukkan kepalanya, berusaha melupakan kesedihan yang kembali menyerangnya.
"Kamu penuh teka-teki, Va. Udah ah, bagaimana hubungan kamu dan mama, aku tetap wajib berterima kasih kamu kamu. Oiya, ngomong-ngomong kamu nginep di mana?" tanya Zein.
"Saya nggak nginep. Malam ini saya langsung balik," jawab Zizi jujur.
"Cepet amat, nggak pengen keliling Batam dulu?"
"Pengen sih, tapi saya nggak bisa izin terlalu lama. Maklum pekerja," Zizi terkekeh, sedangkan Zein hanya tersenyum.
"Kamu naik apa dari Bandara ke sini?" tanya Zein lagi.
"Naik taksi." Zizi mengambil ponselnya. Sepertinya bersiap untuk memesan taksi.
"Setelah dari sini rencana mau ke mana?" Zein menatap Zizi.
"Kayaknya mau langsung ke Bandara. Nunggu pesawat siap." Zizi masih menunggu aplikasinya yang masih loading.
"Ih ngapain, oke... mumpung kamu masih ada waktu dan aku juga free, gimana kalau aku ajak kamu jalan keliling Batam. makan lihat-lihat pemandangan. Kita mengenang masa sekolah. Gimana?" tawar Zein.
Zein tahu jika gadis yang ada di hadapannya ini pasti kurang nyaman dengan penawaran yang ia berikan. Namun, Zein juga ingin membalas budi pada gadis ini. Lalu ia pun kembali menyuarakan pemikirannya.
"Beneran, anda mau ajak saya jalan?" tanya Zizi girang.
"Ya, kamu mau kan?" tanya Zein.
"Boleh! Tapi apa kamu nggak malu jalan sama aku?" tanya Zizi minder.
" Ngapain malu, harusnya aku kali yang nanya begitu." Zein menatap Zizi dengan tatapan syahdu menurut gadis itu. Hingga tanpa ia sadari, jatungnya kembali berdebar oleh tatapan itu.
__ADS_1
"Ih ya nggak lah, masak malu... saya sudah biasa jalan sama pasien yang mengalami trauma pada kaki mereka. dan alkhamdulillah setelah jalan sama saya dan saya antar ke tempat yang tepat, merek bisa sembuh total dan bisa berjalan lagi. Jadi Anda tidak perlu malu dengan saya, Tuan Muda," jawab Zizi jujur.
Zein mengerutkan kening. Merasa aneh dengan penjelasan tersebut.
"Kenapa? Anda sangsi dengan cerita saya?" canda Zizi.
"Ah nggak, ya udah lah... mari jalan, kali aja setelah jalan sama kamu aku bisa berjalan kembali," ucap Zein sembari tersenyum.
"Pindah aja ke Jakarta, nanti saya bantu terapi," jawab Zizi spontan.
Kembali Zein mengerutkan kening bingung. Tentu saja pikirannya bertanya-tanya, apa sebenarnya pekerjaan gadis yang selah datang membawa secercah harapan padanya ini.
"Kamu dokter?" tanya Zein.
"Bukan, tadi disangka sipir tahanan. Sekarang ditebak dokter." Zizi tertawa lucu.
"Habis apa dong kerjaan kamu?" tanya Zein.
"Rahasia!" jawab Zizi kembali tersenyum.
Sedangkan Zein pun tak ingin memaksa.
"Kamu pengen ke mana?" tanya Zein.
"Taman aja," jawab Zizi singkat.
"Oke! kita ke taman."
"Kaki anda bisa merasakan sesuatu nggak?" tanya Zizi tiba-tiba.
"Ha!" Zein sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.
"Bisa! Cuma belum terlalu kuat berdiri."
"Oh, rasanya kayak kebas ya?"
__ADS_1
"Iya, kok kamu tahu?"
"Tahu sedikit-sedikit. Mau nggak anda belajar jalan sama saya!" tawar Zizi.
"Sorry! bukan aku nggak percaya sama kamu. Tapi..." Zein menatap curiga pada Zizi.
"Hehe, ragu ya!" Zizi sedikit bercanda. Lalu ia pun mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pada Zein apa pekerjaannya yang sebenarnya.
"Oh, kamu perawat. Oh oke lah, kali aja aku bisa cepat jalan kalo terapi sama kamu," ucap Zein sembari menyerahkan ponsel Zizi.
"Tapi nggajk bisa sekali, harus berkali-kali. Makanya pindah aja ke Jakarta. Nanti saya kenalin dokter saraf sama ortopedi terbaik di rumah sakit saya bekerja. Insya Allah kalo kasusnya seperti Anda, saya rasa bakalan cepet pulih. Asalkan semangat buat sembuh," ucap Zizi menyarakan.
"Boleh deh! kemarin dokter ku yang di Amerika juga kasih rekomen sih, cuma pas di hubungi orangnya nggak pernah angkat. Kayaknya sibuk, terus aku juga belum dapat dokter yang cocok. Eh beruntung bisa ketemu kamu, Va," jawab Zein senang.
"Saya kok berasa gimana gitu di panggil Va, panggil aja aku Zi. Teman- teman suka panggil saya Zi," ucap Zizi.
"Kamu juga aneh, saya, anda tuan muda, jadi berasa gimana gitu," balas Zein.
"Hahaha, kan strata kita beda." Zizi tersenyum.
" Ah mana ada begitu!"
"Ada, ini buktinya aku dan kamu." Zizi menatap Zein. Sedangkan Zein sendiri hanya melirik.
"Jangan gitu lah, Zi. Kita kan teman. Aku kamu aja. Biar nyaman di denger," pinta Zein.
"Oke, baiklah." Zizi tersenyum. Begitupun Zein.
"Aku boleh minta nomer ponsel kamu?" tanya Zein.
"Oh, boleh! sekalian nanti aku infoin jadwal praktik dokter yang kamu butuhkan. Semoga jodoh dan kamu bisa kembali pulih." Zizi menutup doanya dengan senyum.
"Aamiin, makasih, Zi," ucap Zein. Membalas doa Zi dengan senyuman.
Namun pertemua yang membawa kebahagiaan itu ternyata menyimpan duka. Sebab Widya dikabarkan kritis karena penyakit asam lambung yang di deritanya selama ini.
__ADS_1
Zizi mendapatkan kabar tersebut dari salah satu penjaga yang bekerja di penjara di mana ibu Widyab di tahan.
Bersambung...