PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
SAMA-SAMA KEHILANGAN


__ADS_3

"Zein, sadarlah! Kita nggak boleh ikut campur urusan rumah tangga mereka lagi. Kita ini orang lain, Zein!" ucap Rehan mengingatkan.


"Kamu pikir aku peduli!" jawab Zein tegas.


"Astaga Zein! Jangan memperkeruh suasana! Biarkan saja lah, itu urusan mereka. Eh, tunggu dulu ... dari mana kamu tahu perihal ini? Kamu kan tidur!" tanya Rehan penasaran.


Zein tersenyum sinis.


"Zein, jangan tersenyum! Katakan, apa kamu pura-pura?" desak Rehan curiga.


Zein melirik sekilas pada Rehan. Lalu ia pun kembali menatap plafon yang ada di kamar inapnya.


"Apa maksudmu aku pura-pura?" Zein malah balik bertanya.


"Sejak kapan kamu bangun?" tanya Rehan.


"Sejak tadi malam. Kenapa emang?" Zein semakin sinis. Sebab ia tahu, Rehan pasti akan terus memihak Juan. Bukan memihak padanya.


"Apa Stella datang ke sini? Lalu menceritakan apa yang terjadi padanya?" tanya Rehan, meskipun ia tak yakin jika Stella akan berbuat serendah itu.


"Kamu pikir Stella ku serendah itu?" Zein kembali mengeluarkan kata-kata pedasnya. Sepertinya sosial Zein yang Rehan kenal, telah kembali.


Terang saja, Rehan langsung diam dan hanya mengumpat kesal di dalam hatinya. Stellaku konon, otak kau sakit ya. Stella lihat kau aja pengen nyekek. Rehan menatap kesal. Sungguh ingin rasanya ia menampar wajah pria yang saat ini berbaring lemah di ranjang itu. Andai dia tidak sedang sakit. Supaya pria itu tersadar dari pikiran bodohnya.

__ADS_1


"Lalu? Kalo bukan Ste, siapa yang kasih tahu kamu? Jangan ngarang kamu Zein!" Rehan kembali mengeluarkan pancingan nya.


"Ngarang ndasmu! Mana ada aku ngarang!" balas Zein sengit.


Rehan menghela napas dalam-dalam. Zein si mulut pedas sudah kembali. Benar-benar kemabli. Tak ada alasan lagi bagi Rehan untuk mengalah. Mau tak mau ia juga harus mengeluarkan kata-kata pedasnya pula agar bisa mengimbangi pria menyebalkan ini. Rehan enggan terus disiram air cabe oleh pria ini. Sesekali ia pun harus membalas. Benar kan?


"Lalu kamu tahu dari mana? Nggak usah muter-muter, Zein!" Rehan kembali mengulang pertanyaannya. Agar Zein tak melewatkan keingintahuan nya itu.


"Tak sengaja aku mendengarkan keluh kesah Vita semalam. Ingin aku menjawab ucapan gadis itu. Ingin aku melarang mereka pergi, tapi aku nggak bisa membuka mataku. Ragaku serasa sangat berat, susah sekali digerakan. Aku bodoh. Andai aku kuat membuak mata saja, mungkin aku bisa memohon pada Vita agar mencegah Ste untuk pergi," ucap Zein menyesal.


"Memangnya apa yang Vita katakan?" tanya Rehan penasaran. Zein melirik Rehan sekilas, lalu ia pun menceritakan ucapan Vita, yang ia dengar.


"Vita bilang kalo Stella memutuskan untuk pergi. Karena Juan meminta Stella pergi. Gadis itu sepertinya marah, padaku, marah juga pada Juan. Dia bilang kalo kami berdua sama-sama brengsek. Tak punya perasaan dan masih banyak lagi sumpah serapah yang dia katakan. Tetapi, meskipun begitu, dia tetap memintaku sembuh dan menjaga diri. Aneh kan? Dia itu benci padaku atau suka padaku. Aku jadi nggak ngerti!" jawab Zein bingung.


"Lupakan tentang Vita. Sekarang kita fokus pada Stella!" ajak Rehan, namun di balik ajakan itu, Rehan memiliki maksud agar Zein tidak menyadari perasaan Vita kepadanya. Tentu saja, ia tak ingin kakak beradik itu jatuh ke lubang yang sama. Zein adalah pria plin plan yang labil. Kasihan Vita jika sampai terlibat dengan pria itu.


"Oke!" jawab Zein spontan.


Rehan bernapas lega. Sebab Zein tak menangkap maksudnya.


"Apakah Vita mengatakan ke mana Ste pergi?" tanya Rehan serius.


"Tidak!" Zein menggeleng.

__ADS_1


"Astaga! Sama aja dong!" Rehan menghentikan ucapannya sejenak, sembari berpikir.


Zein menatap Rehan.


"Jadi dia cuma bilang Ste pergi, gitu?" Rehan membalas tatapan Zein.


"Iya, dia cuma bilang Ste benci pada kami. Maksudnya aku dan Juan. Dia beberapa kali mengumpat dan mengatakan Stella mau pergi. Gitu doang!" jawab Zein jujur.


"Astaga! Aku berasa bicara pada saksi buta. Hah! Dah lah... sekarang kamu tahu nggak Vita di mana nggak? Dari tadi aku telpon nggak bisa-bisa ni!" tanya Rehan kesal.


"Nggak," jawab Zein lugu.


"Lalu ngapain kamu nangis tadi?" tanya Rehan.


"Aku nggak nyangka aja kalo aku bisa bangun lagi," jawab Zein jujur.


Dari situ, Rehan paham bahwa sebenarnya Zein belum tahu apa-apa. Belum mengerti apa. Ia pun memutuskan diam untuk saat ini. Biarkan waktu saja yang memberitahukan padanya bahwa apa yang sebenarnya terjadi.


***


Di dalam pesawat yang membawanya menuju Belanda, terlihat beberapa kali Stella menghapus air matanya.


Jujur, meninggalkan Indonesia adalah keputusan terberat dalam hidupnya. Terlebih meningalkan dia, pria yang sangat ia cintai. Lalu, ia juga harus meninggalkan ibu dan juga adiknya. Namun, Stella tak punya pilihan lain selain pergi. Sebab, ia memiliki misi untuk melupakan dia. Pria yang telah mematahkan hatinya untuk kedua kali.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2