
Zein dan Zizi hanya melongo sembari melihat kepergian kedua orang tua yang mengomel pada mereka tanpa sebab itu.
Zi heran, karena jujur ia tidak merasa melakukan apa yang kedua mertua itu tuduhkan. Sedangkan Zein sendiri hanya tersenyum, sebab ia sudah hafal dengan sikap orang tuanya yang kadang-kadang nyolot tapi sebenarnya mereka hanya bercanda.
"Kok kamu malah senyum begitu, kan kita nggak ngapa-ngapain kan?" tanya Zi, merasa aneh.
"Ya, mereka aneh. Nggak jelas banget, deh. Kan kita nggak ngapa-ngapain. Kan kita cuma becanda, ya kan!" balas Zein, seakan mendukung Zi. Padahal dia hanya pura-pura.
"Iya, aneh yak... dah ah, katanya tadi mau mandi. Yuk!" ajak Zi seraya bangkit dari pembaringan tempat mereka bercanda.
"Kata kamu mereka udah otewe, kok balik lagi?" tanya Zein.
"Entah! Aneh ya. Padahal tadi udah pamit pas kamu masih bobo. Kok mereka balik lagi sih," ucap Zi lagi, bingung.
" Mungkin ada yang tertinggal. Emang mereka pas bilang mau balik, bilang apa?" tanya Zein, masih pura-pura tidak memahami keadaan.
"Bisa jadi, ya udah lah. Toh mereka udah balik ini. Eh... ngomong-ngomong gimana nasib barokokok itu. Kok om udah mau pulang aja?" tanya Zi, tiba-tiba kepikiran pria yang diculik oleh mereka.
"Oh, kan udah di balikin ke habitatnya, sama anak buah papa. Udah... kamu nggak usah takut. Keluargamu aman. Seaman kamu dalam dekapanku!" jawab Zein sembari tersenyum nakal.
"Dih, mana ada begitu? Dekapanmu nggak enak. Kamu nggak mandi," jawab Zi seraya meloncat dari ranjang sebab ia takut Zein akan menangkapnya.
"Hilih, nggak enak kok diciumin. Sini aku kasih lagi." Zein mencoba duduk dan mencoba meraih kursi rodanya.
Melihat sang suami kesusahan, Zizi pun segera membantu.
Zein, si pria cerdas itupun langsung memanfaatkan keadaan ini. Dengan cepat ia pun meraih tangan sang istri dan menarik tubuh ramping wanita cantik itu dan menguncinya.
Zi tidak menolak, tidak memberontak. Zi malah melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami. Memeluk manja pria yang ia cintai ini.
"Aku mau kita selalu seperti ini, Yang!" ucap Zein mesra.
"Aku pun, aku akan mencoba menjadi istri terbaik untukmu, Suamiku!" jawab Zizi, tak kalah mesra.
"Makasih!" ucap Zein.
__ADS_1
"Kembali kasih!" jawab Zizi.
Zein menatap mesra mata sang istri, pun sebaliknya. Namun, kemesraan itu tiba-tiba buyar mana kala Zein ingat, bahwa dia masih memiliki satu rahasia, yang mungkin ini bisa membuat hubungannya dengan Zi renggang.
"Kenapa diam?" apakah ada yang salah?" tanya Zi tiba-tiba.
"Ya!" jawab Zein jujur.
"Katakan, apa itu?" Zi melepaskan tubuhnya dari dekapan sang suami. Lalu ia pun duduk di samping pria itu.
"Apakah kamu akan marah, jika aku jujur kalo sebenarnya .... " Zein menatap mata sang istri, terlihat jelas bahwa di sana terpancar keraguan yang dalam.
"Jangan ragu, kamu tahu... kita memang belum lama kenal. Hubungan kita memang di awali dari pertemanan. Aku pun ingin kita tetap berteman. Bersahabat. Saling memahami dan mengerti satu sama lain. Agar rumah tangga yang terjalin antara kita tetap langgeng sampai kakek nenek!" ucap Zi, mencoba memposisikan dirinya seperti teman untuk Zein. Agar Zein bisa terbuka padanya. Terhadap masalah apapun itu.
"Oke... kamu benar! Kita memang tidak boleh merahasiakan apapun dari masing-masing pasangan. Awalnya kita memang berteman. Lalu bersahabat. Teman curhat. Dan sekarang malah jadi teman tidur. Aku tak ingin menutupi apapun dari kamu. Kalo kamu mau marah sama aku, silakan. Yang penting aku udah jujur sama kamu, kan," jawab Zein, sedikit terdengar sedih. Namun, itulah kenyataan yang memang harus di hadapi.
"Ya, begitulah hidup. Bukankah kecewa itu adalah hal biasa!" jawab Zizi mantap.
"Hah ... kamu benar, Sayang. Aku memang tidak boleh menyembunyikan apapun dari kamu. Apa lagi saat ini, kita adalah suami istri. Baiklah, aku akan terus terang sama kamu bahwa sebenarnya, sebelum kita menikah... aku adalah seorang duda," ucap Zein jujur.
"Baiklah pak duda, sekarang kan anda udah nggak duda lagi. Sudah ada istri. Semoga hubungannya sama istri langgeng ya, Pak. Jangan cerai lagi," jawab Zi santai.
Zein mengerutkan kening heran. Sebab Zi tidak menunjukkan sikap keterkejutannya. Seperti santai menghadapi masalah ini. Padahal, Zein sendiri takut untuk jujur tadi.
"Kenapa kamu terlihat santai. Kamu nggak marah?" tanya Zein heran.
"Untuk apa marah? Kenapa memangnya kalo kamu duda. Bukankah setiap manusia itu punya masa lalu ya. Nggak pa-pa kalo duda, Pak. Yang penting bukan suami orang. Ntar saya dihujat nitizen. Takut saya kualat saya, Pak!" jawab Zizi sedikit bercanda, namun ia jujur.
Zein tersenyum, lalu ia pun meminta Zi untuk menciumnya. "Maukah kamu menciumku?"
"Hah? Cium... untuk apa?" tanya Zi, seakan dia lupa, bahwa Zein adalah suaminya.
"Nggak pa-pa. Aku hanya ingin kamu menciumku," jawab Zein, lembut. Sesuai keinginanya.
"Baiklah, setelah cium mandi ya!" tawar Zi.
__ADS_1
"Ya, oke!" jawab Zein. Tak ada perdebatan lagi, Zi pun mencium Zein kemudian mengantarkan pria itu ke kamar mandi.
Namun, selepas mengantarkan sang suami ke kamar mandi, Zi termenung memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya. Sebab ia tahu, apa yang menyebabkan Zein membatalkan pernikahannya dengan istri pertamanya. Zi takut, jika dirinya tak bisa memberikan apa yang Zein inginkan. Bagaimana jika ia juga tak memiliki darah itu. Jujur, Zi takut.
***
Di sisi lain, Safira menatap kesal pada sang suami. Sebab di dalam barisan pesan chat milik pria tersebut terdapat barisan pesan yang menjerumus pada perselingkuhan.
"Katakan siapa yang mengirim pesan menjijikkan ini?" tanya Safira dengan tatapan mata siap menerkam pria yang saat ini ada di depannya.
"Mana sih, Yang. Ada namanya nggak?" Lutfi masih mencoba bersabar.
"Ini siqapa yang kirim pesan begini, genit banget!" Safira masih bertahan dengan kecemburuannya yang menggebu.
"Mana coba lihat," pinta Lutfi.
Dengan sabar pria ini pun membaca baris demi baris pesan yang di kirim oleh seseorang yang memang ia kenal. Namun sengaja tidak ia buka. Alasannya simpel, agar sang wanita lelah mengirim pesan aneh padanya. Dan akhirnya berhenti mengganggunya.
Sayangnya belum sempat ia mengurus nomer menyebalkan itu, Eh ... sekarang udah keduluan ketahuan sang istri.
"Kamu cemburu dengan pesan nggak jelas begini, Yang?" tanya Lutfi.
Safira tidak menjawab, ia malah memunggungi sang suami dan menangis di sana.
"Aku akui, ini memang pesan dari wanita yang kamu temui di rumah sakit waktu itu, Yang. Tapi kamu kan lihat sendiri, aku nggak pernah baca apa lagi pesan dari dia. Biar dia kirim-kirim makanan juga aku nggak pernah makan. Aku kasih ke anak-anak toko. Karena aku menghargai kamu, Yang. Aku nggak mau menghianati hubungan kita. Terlebih karena aku sangat mencintaimu. Mana mungkin aku tega nyakitin kamu," ucap Lutfi jujur.
"Entah!" Safira semakin merajuk. Kakinya di anfkat ke atas sofa, lau ditekuk dan dipeluk, seolah saat ini ia sedang mengungkapkan kekesalannya pada sang suami.
"Maaf ya, maafkan aku.Nanti aku blok deh," ucap Lutfi lagi, mencoba membuat sang istri tenang.
"Udah yuk, jangan merajuk lagi. Masak masalah begini aja di besar-besarin. Nanti kalo dia tahu kita berantem gara-gara dia, nanti dia seneng, Yang. nanti dia merasa menang dan makin mau masuk ke dalam rumah tangga kita. Lagian kamu kan tahu, Yang, aku nggak ladenin dia. Udah ya, kita pasti bisa melewati ini. Ini hal yang penting menurutku, jadi kita nggak perlu berantem," ucap Lutfi, mencoba mengajak sang istri agar tidak mudah terbakar api cemburu.
"Tahu ah!" jawab Safira. Malas mendengarkan argumen sang suami. Safira pun memilih keluar rumah dan masuk ke dalam mobil yang akan mereka pakai untuk ke Toko. Sedangkan Lutfi hanya menggeleng-gelengkan kepala. Mencoba memahami perasaan sang istri yang saat ini sedang di selimuti rasa cemburu itu.
Bersambung ....
__ADS_1