PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Salah Pilih Lawan


__ADS_3

Vita tidak berusaha melawan, karena ia memiliki rencana untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dari sini, iq yakin pasti bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang membelenggu pikirannya.


Menurut tanpa melawan, bisa juga adalah pilihan agar mereka jangan sampai memukul. Agar tubuhnya aman dari jamahan pria-pria yang menurutnya bodoh ini.


Bukan hanya tidak melawan, Vita juga tidak bertanya ke mana mereka akan mmenawanya. Intinya, jika mau mengetahui sebuah rahasia musuh, makan harus mendekati musuh. Kita harus mempelajari sendiri gerak-gerik mereka. Tanpa perlawanan dan tanpa memancing amarah mereka.


Entah sengaja atau tidak. Ketiga pria yang membawanya itu sempat menyebut nama Dena dalam percakapan mereka.


Tak ayal Vita pun yakin bahwa pria-pria itu pasti suruhan Oma Dena. Karena hanya dialah orang yang saat ini mempunyai alasan untuk menyakitinya.


Akhirnya setelah hampir satu jam mereka berkendara, mereka pun sampai di tempat tujuan.


Dengan kasar, pria itu pun mencengkeram kuat lengan Vita, agar wanita ini kesakitan.


Kali ini Vita tidak diam, dia pura-pura melawan. Agar terkesan dia marah dan tidak suka terhadap perlakuan mereka. Agar sedikit memberi mereka kepercayaan bahwa dia adalah musuh mereka.


"Lepaskan aku brengsek!" teriak Vita ketika mereka mencengkeram kuat kedua lengannya.


"Diam!" bentak salah satu dari mereka. Vita tetap pura-pura melawan, terkadang juga pura-pura takut. Padahal ingin sekali mengeluarkan jurus bela diri yang ia miliki. Tetapi, ia berusaha menahanm Karena dmia juga ingin tahu, sejauh apa Dena hendak menyakitinya.


Sesampainya di ruangan tempat Dena berada, mata Vita sedikit terbelalak. Sebab anak buah Dena bukan hanya satu, tetapi ada sedikitnya sepuluh hingga lima belas orang. Tentu saja, ini membuat Vita sedikit merinding.


"Akhirnya, wanita sialan ini sampai juga. Gimana sayang? Apakah kamu suka tempat penyiksaan ini?" tanya Dena ketika para anak buah Dena memaksa Vita duduk di kursi yang telah terhubung dengan beberapa alat. Seperti strum.


"Lepakan aku, Oma. Apa-apa ini? Apa salahku?" tanya Vita dengan tatapan tajam.


"Kau tanya apa salahmu, hah?" Tangan Dena melayang tepat di pikiran kiri Vita, membuat darah keluar dari sudut bibir wanita ini.

__ADS_1


Kali ini, Vita tidak menangis, ia malah menatap tajam ke arah wanita tua penyihir itu. Rasanya ingin sekali dia meremas wajah wanita itu. Andai saat ini tidak diikatdiikat, pasti Vita sudah menendang nenek jahat itu.


"Kau telah menghancurkan semua rencanaku. Harusnya Luis menikah dengan wanita pilihanku. Tidak dengan parasit sepertimu. Dasar ****** sialan!" umpat Dena dengan amarah yang kian memuncak. Sepertinya iblis jahat telah merasuki wanita ini.


"Cucumu sendiri yang mengejarku, dia mencintaiku dan aku juga mencintainya. Apa salahnya? Anda saja yang egois. Jika Luis tidak bisa sembuh, maka aku tidak anak pernah memaafkanmu, dasar nenek jahat!" Vita tak ingin melo dan pasrah menghadapi wanita penyihir ini. Ia tetap berniat menyerang mental wanita ini, agar dia tahu, siapa di sini yang lebih jahat.


Aksi aku mulut dan saling serang antara Vita dan Dena semakin sengit mana kalau Dena tak mau mengalah. Begitu pun sebaliknya. Vita juga tak mau kalah. Karena Vita memiliki niat supaya Dena mengakui bahwa dialah yang melakukan tindakan jahat itu kepada Luis.


***


Di luar rumah, mobil yang kendarai Juan akhinya sampai jua di tempat di mana saat ini Vita sedang di sekap.


Zein tak mau menunggu arahan Juan atau Rehan, setelah sampai di tempat yang mereka curigai, pria ini langsung keluar dari mobil dan mulai mengendap-endap membuntuti mereka yang sedang membawa Vita masuk ke dalam rumah kosong itu.


"Zein, jangan gegabah. Bisa saja mereka membawa senjata tajam," ucap Rehan mengingatkan.


"Bala bantuan sudah datang, Bro. Mam Sera juga ikut ternyata, ahhh... ada dia, kita nggak perlu takut," ucap Juan sedikit santai. Tetapi, baru mulutnya diam, terdengar teriakan dari dalam ruangan, spontan ketiga pria tersebut langsung mendobrak pintu tersebut.


Mereka tercengang, sebab dengan mata kepala sendiri, mereka menyaksikan bagaimana wanita psikopat itu hendak memaksa Vita meminum racun yang sama dengan racun yang di minum oleh Luis.


"Berhenti!" teriak Rehan.


Spontan, Orang-orang yang ada di ruangan tersebut langsung menatap kepada mereka. Pihak kepolisian juga langsung ikut masuk dan menodongkan senjata mereka.


Anak buah Den pun sama. Mereka mengeluarkan senjata yang mereka pegang. Menodongkan senjata mereka. Dan bersiap membela wanita yang telah membayar mereka.


Melihat banyaknya polisi dan juga orang-orang yang berniat membantu wanita yang kini ia sandera, Dena jadi gemetar. Dena terlihat gugup. Tetapi amarah tetap terlihat jelas dari sorot mata wanita tua itu. Walaupun, dia juga berusaha melawan rasa takut yang mulai menderanya.

__ADS_1


Rasain, salah milih musuh kan, lu... umpat Vita dalam hati.


"Apa- apaan ini? Siapa yang megizinkan kalian datang ke sini ha?" teriak Dena penuh amarah.


"Anda jangan macam-macam, Nyonya! Lepaskan adik saya!" ucap Juan memperingatkan.


"Kenapa? Kenapa ha? Dia yang memberikan racun itu pada cucuku. Sekarang dia juga harus merasakan apa yang Luis rasakan. Hahahhaha," Dena tertawa seperti orang gila. Sepertinya dia menang gila.


Tak di sangka, ada satu pria yang teringat dengan kebiasaan wanita tua ini. Dia adalah Zein. Sedikit banyak ia sangat mengenal perangai wanita tua ini. Ia pun memiliki ide merayu wanita tersebut. Seperti yang pernah ia lihat, ketika Luis merayunya.


"Nyonya, oke, oke. Jika dia memang bersalah, sini biar saya saja yang kasih. Dia memang harus meminum itu. Sini biar saya yang kasihkan ya, Oma!" bujuk Zein melancarkan idenya, agar Dena lengah. Seperti yang pernah Luis lakukan padanya. Biasanya Dena akan menurut jika memihak kepadanya.


Zein melangkah pelan mendekati wanita tua itu. Lalu kembali merayunya. "Nyonya Oma yang cantik, Oma tahu saya kan. Saya adalah Zein, asisten Luis. Aku berpihak padamu Oma. Wanita jahat ini memang pantas mati. Berani-beraninya dia berniat jahat pada kita. Mari kita balas kan dendam untuk Luis Oma. Mari sini biar Zein aja yang kasihkan racun itu pada dia," pinta Zein.


Merasa memiliki teman, Dena pun tersenyum senang. Sepertinya dia langsung lupa bahwa di sekelilingnya ada polisi dan juga penyidik yang sedang memerhatikan gerak-geriknya.


"Benarkah? Kamu mau membantuku memberikan minuman ini pada wanita ****** ini, ha?" tanya Dena, mulai luluh dengan Zein.


"Oh, tentu saja mari Oma," jawab Zein sembari mendekat dan meminta gelas itu dari tangan Dena.


(Lucunya, Rehan dan Juan hanya melonggo, memerhatikan apa yang di lakukan oleh Zein. Bukan hanya mereka yang melonggo, seluruh anak buah Dena hanya melonggo melihat apa yang di lakukan oleh Zein.)


Setelah mendapatkan gelas itu dari Dena. Zein langsung menendang ember berisi air yang di hubungkan dengan kabel-kabel. Zein sangat tahu kegunaan alat tersebut. Oleh sebab itu, sasaran utama Zein selain gelas berisi minuman beracun adalah ember itu.


Melihat apa yang dilakukan Zein, spontan Dena pun berteriak. Zein tak mau kalah. Ia pun langsung berteriak, agar Juan dan Rehan segera mengambil tindakan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2