
Di temani seorang sopir, akhirnya Zein pun sampai di kediaman paman dan bibi Stella. Yang tak lain adalah kakak kandung dan juga ipar, Anti.
Zein mempunyai harapan yang sangat besar ketika memasuki area komplek perumahan yang diketahui adalah rumah salah satu keluarga Stella. Zein berharap apa yang ia khawatirkan sebelum memutuskan untuk datang ke tempat ini tidak terjadi.
Zein meminta sang asisten untuk tetap berada di mobil. Dia sendiri yang akan menghadapi masalah ini. Apapun yang terjadi.
Kini Zein sudah berdiri tegak di depan rumah yang tak begitu besar namun terlihat sangat rapi dan nyaman.
Berberapa kali Zein mengetuk pintu itu, tapi tak ada jawaban. Zein mencoba mengetuk pintu itu sekali lagi, tetap tak ada jawaban. Dan tanpa ia sadari, dari arah belakang ada seorang ibu-ibu paruh baya menghampirinya.
"Cari siapa ya?" tanya wanita itu.
Zein pun membalikkan badan dan menatap wanita itu, diam.
Wanita yang bertanya itu pun membalas tatapan Zein. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu lagi.
"Maaf, Bi. Apakah ini benar rumah paman Windi?" tanya Zein.
Melihat penampilan Zein yang begitu rapi, dan modis membuat wanita ini heran. "Windi adalah suami saya, tapi beliau sudah meninggal enam bulan yang lalu." Wanita itu menatap penuh pertanyaan pada Zein.
Enam bulan yang lalu, berarti tak lama setelah pernikahannya dan Stella diselenggarakan. Ah, semoga bukan meninggal karena shock dengan apa yang terjadi pada keluarga adiknya, batin Zein.
__ADS_1
"Paman sudah meninggal, Bi, tapi kenapa? Apakah paman sakit?" tanya Zein penasaran.
"Iya, suamiku sakit. Maaf boleh tahu, anda siapa ya?" tanya wanita ini. Masih menatap Zein dengan tatapan heran.
" Sa-saya adalah Zein, Bi," jawab Zein terbata. Pria ini terlihat gemetar. Bagaimana tidak? Ketakutan kembali menyerang batin Zein. Pria ini sangat takut jika paman Stella ternyata meninggal gara-gara kebodohannya.
"Zein? Oh Zein. Ada perlu apa dengan suami saya. Apakah beliau punya hutang pada anda?" tanya wanita ini lagi.
"Tidak, Bi. Beliau tidak punya utang dengan saya, tetapi saya ingin bertanya... apakah Stella dan ibunya tinggal di sini?" balas Zein.
Mendengar nama Stella dan ibunya di sebut membuat wanita ini langsung naik pitam. Pikirannya langsung tanggal bawa pria yang ada di depannya ini adalah sumber dari mala petaka yang menimpa keluarga besarnya.
"Pria itu siapa, Bi?" balas Zein bingung.
"Pria yang menikahi putri keluarga kami, lalu mengembalikannya setelah mencicipinya serta menuduhnya tidak suci. Benar?" cacar wanita itu dengan tatapan ingin melihat Zein.
" Maaf, Bi. Maafkan kebodohan saya," jawab Zein lirih. Pria tinggi besar ini pun terlihat menundukkan kepalanya. Merasa bersalah. Sepertinya ia menyesali perbuatannya.
"Apakah maafmu bisa mengembalikan keutuhan rumah tangga adikku? Apakah maafmu bisa mengembalikan Stella ke pangkuan kami? Apakah maafmu bisa menyembuhkan luka batin Anti? adik iparkuApakah maafmu bisa mengembalikan suamiku? jawab?" tanya wanita itu pelan namun penuh penekanan. Sepertinya ia merasakan sakit yang teramat sangat di hatinya.
"Ampuni saya, Bi!" pinta Zein seraya bersujud di bawah kaki sang wanita.
__ADS_1
"Pergilah! tidak ada siapapun yang kamu cari. Semua sudah mati! Mati!" teriak wanita ini histeris. Marah, kesal, kecewa semua rasa itu tercampur aduk. Dalam hati wanita ini bertanya, mengapa ada pria sebodoh Zein? Mengapa ada pria yang berpikiran pendek seperti ini? Tidakkah orang tuanya mengajari, memberikan pengetahuan dini atau dia yang buta informasi. Entahlah, yang jelas bagi wanita ini, Zein adalah pria bodoh dan super jahat yang tak pantas diampuni.
"Pergilah! Sebelum aku membunuhmu!" pinta wanita itu tegas.
"Tidak, Bi. Ampuni saya! Izinkan saya bertemu tante Anti. Izinkan saya menemui Stella. Izinkan saya menebus kesalahan saya, Bi," ucap Zein masih di posisi yang sama. Masih bersujud di kaki wanita itu.
"Untuk apa ha? Stella sudah dibuang oleh ayahnya. Putriku yang malang. Apakah mau tahu? Putri malangku itu selalu mendapatkan ketidakadilan dalam keluarganya. Ayahnya yang bodoh, tempramen dan serakah, serta tuli itu ... hanya bisa mendengar apa yang kata orang lain ucapkan demi menjaga harga dirinya, yang ia selalu junjung tinggi itu. Tidak mau mengerti atau setidaknya mencari tahu dulu kebenarannya. Pria jahanam itu selalu main tangan pada adik ipar dan juga anak-anaknya. Pria berhati iblis itu, ya dia.... andai aku punya kekuatan. Orang pertama yang aku bunuh adalah dia. Lalu kamu! Karena kalian adalah pria-pria bodoh yang tak bisa menghargai wanita." Wanita ini menatap Zein dengan tatapan penuh kebencian.
"Ampuni saya, Bi!" ucap Zein berkali-kali, namun wanita ini terlanjur tuli. Ia sama sekali tak peduli. Baginya apa yang ia pikirkan adalah benar.
"Pergilah, sebelum aku nekat mengotori tanganku!" ancam wanita ini lagi.
Zein tak punya pilihan lain selain menurut pada perintah wanita ini. Ia pun bangun dari sujudnya. "Maafkan saya, Bi," ucap Zein sebelum pergi. Namun wanita ini tak menjawab sepatah kata pun. Ia memilih diam dan bermain dengan hatinya.
Sampai matipun aku tak akan pernah memaafkan orang-orang bodoh seperti kalian. Jovan, Zein, heh... kalian adalah manusia-manusia yang tak bermoral. Lihat saja, kalau aku tak bisa membuatmu kalian menderita dalam nestapa, jangan panggil aku Sera, batin wanita ini.
Sera melirik dari sudut matanya. Memastikan Zein telah pergi dari rumahnya dan wanita ini pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang bisa membantu menjebloskan pria itu kepenjara, seperti yang ia lakukan pada Jovan.
"Terlalu enak jika kalian langsung mati, aku ingin kalian merasakan itu perlahan namun pasti, bahwa jiwa dan raga kalian harus sakit. Sesakit yang dirasakan oleh putriku. Aku akan membalas semua perbuatan bejat kalian. Seperti yang kalian lakukan pada putri kandungku," ucap Sera dalam diam.
Bersambung.....
__ADS_1