
Tak disangka, yang peduli terhadap Lutfi dan putrinya bukan hanya Safira. Kini Laila juga berada di rumah sakit tersebut setelah pulang dari yoga. Wanita paruh baya ini terlihat prihatin dan kasihan dengan bayi tersebut. Terlebih melihat ruang perawatannya.
Si baby lagi-lagi terkejut ketika mendengar teman sekamarnya menangis.
"Ra, sebaiknya kita pindah kamar aja. Kasihan baby ini, terkejut terus ketika bobo. Keganggu, nggak sembuh-sembuh nanti. Bapaknya jadi nggak bisa kerja-kerja kan. Kasihan!" ucap Laila pelan, takut terdengar orang-orang di sekitarnya.
"Terserah Mama aja kalo itu. Kan Mama yang mau beramal. Kalo Fira emang nyata-nyata nggak banyak uang," jawab Safira sedikit bercanda. Tetapi tak dipungkiri bahwa ia senang dengan kebaikan hati sang ibunda.
"Ya udah deh, Mama urus kalo gitu. Kamu jagain dia sampai sembuh. Kasihan sekali bayi ini. Mama jadi inget waktu kamu bayi," ucap Laila sembari mengelus pipi bayi yang ada di gendongan sang putri.
"Makasih ya Ma, udah jagain Fira sampai segede ini," ucap Safira melo. Membuat Laila tersenyum. Tak menyangka jika sang putri akan berucap demikian.
"Nggak pa-pa, Sayang. Kamu memang tidak terlahir dari rahimku. Tetapi kamu adalah hati dan cinta, Mama. Pun dengan abangmu. Mama sangat suka dengan anak-anak. Tapi Tuhan tak mengizinkan Mama untuk menjadi ibu seutuhnya." Laila terlihat menitikkan air mata kesedihannya.
"Siapa bilang Mama bukan ibu seutuhnya. Lihat beginian aja Mama udah melo begitu. Berarti jiwa keibuan Mama lebih besar dari apapun. Percayalah Ma, bahwa kami anak-anak yang dekat dengan Mama adalah anak-anak paling beruntung. Contohnya baby ini, sekali ketemu Mama langsung dapat perawatan terbaik. Ya kan!" jawab Safira sembari memeluk manja sang ibu.
"Udah lah, apaan sih. Ya udah kamu jagain dulu baby ini. Mama urus kamarnya, tapi Mama nggak balik lagi. Nanti kalo Mama pulang telat, pria tua itu pasti ngomel," ucap Laila sembari bercanda.
__ADS_1
"Cie yang lagi bucin cie," balas Safira, dengan candaan menggemaskan juga. Tak mau kalah dengan sang ibunda.
Laila enggan meneruskan perbincangan mereka. Sebab Safira pasti akan terus menggodanya. Laila tak ingin ketahuan, bahwa saat ini dirinya dan sang suami sedang dimabuk asmara.
Safira membantu perawat memindahkan bayi ini ke ruang rawat yang lebih bagus, sesuai permintaan sang ibu. Meskipun sebenarnya ia takut kalau Lutfi tersinggung. Beruntung Laila sendiri yang menjelaskan pada Lutfi bahwa dirinyalah yang menginginkan ini.
Setelah beberapa menit petugas rumah sakit memindahkan Naya ke kamar yang telah dipesan oleh Laila, Lutfi pun datang.
Pria itu terlihat diam. Seperti harga dirinya terluka.
Lutfi tak menjawab. Sebab ia tak tahu harus menjawab apa.
"Sebaiknya kamu mandi, makan dan istirahat. Biar Naya aku yang jaga," ucap Safira lagi. Mencoba mengambil hati pria tersebut. Agar tidak marah lagi.
"Makasih Bu, atas kebaikannya anda dan keluarga. Tapi jujur aku nggak nyaman dengan ini," jawab Lutfi jujur.
Apa yang dipikirkan Safira adalah benar. Bahwa harga diri pria ini terluka oleh kebaikan keluarganya.
__ADS_1
"Kamu nggak usah merasa begitu, Fi. Mama memang begitu sama orang-orang yang kerja di rumah. Mama udah nganggep kalian keluarga. Anak-anaknya. Termasuk kamu dan putrimu. Beliau menganggap kalian adalah anak-anaknya juga. Jadi beliau ingin yang terbaik buat kalian. Kalo kamu nggak percaya, kamu boleh tanya mbak-mbak yang di rumah, tukang kebun, sopir mama, kamu tanya deh. Mama nggak pernah beda-bedain kami," ucap Safira menjelaskan apa yang biasa ibunya lakukan untuk para pekerja yang membantunya.
"Tapi kan saya belum lama kerja, Bu," jawab Lutfi mencoba membela pemikirannya.
"Kenapa kamu ngeyel sih, Fi. Udah anggap aja ini rezeki Naya. Biar dia cepat sembuh. Kan kalo dia cepet sembuh, kamu bisa cepet kerja. Kami kebantu lagi. Papa nggak pakek sopir mama lagi. Siapa yang enak, Mama juga kan. Nggak nyetir sendiri karena ada kamu. Hukum kehidupan itu begitu, Fi. Kalo kita mau dapat kebaikan kita harus berbuat baik. Contohnya sekarang, sekarang aku ngerawat Naya, siapa tahu nanti Naya besar jadi dokter, terus aku sakit, bisa aja dia yang ngobatin aku kan? Udah kamu nggak usah ribet-ribet. Mandi sana, kamu bau Fi. Bau matahari. Jorok. Udah sana!" ucap Safira sembari membalikkan tubuh pria yang lebih tinggi darinya itu. Lalu mendorongnya agar masuk ke kamar mandi.
Lagi-lagi Lutfi tak bisa menjawab ucapan wanita tersebut. Ia pun menuruti apa yang Safira ucapkan. Sebab baginya apa yang wanita ucapkan adalah perintah.
Di dalam kamar mandi, Lutfi kembali memikirkan kebaikan keluarga Safira. Bukan hanya itu, duda satu anak ini juga kembali teringat bagaimana usahanya dan asetnya direbut oleh kakak iparnya. Sehingga ia dan sang putri jadi hidup dari belas kasihan orang lain. Andai keluarga sang istri tidak jahat kepadanya. Mungkin, dia, Naya dan juga Luna tidak akan terpisah seperti ini.
***
Di sisi lain, terlihat seorang pria sedang berdiri dengan gagahnya di sebuah kamar hotel super mewah yang sang asisten telah persiapkan untuknya.
Jantungnya berdebar sangat kencang. Sebab ia sedang belajar menyusun kata untuk ia sampaikan kepada pihak keluarga sang kekasih. Untuk meminta gadis itu menjadi kekasih dunia akhirat.
Bersambung...
__ADS_1